
Hari berganti..
Setelah mendengarkan cerita dari Dion mengenai masa lalunya, kini Saras kembali menjalankan perannya sebagai seorang istri yang baik untuk laki laki tampan itu.
Saras kembali menjelma menjadi Saras yang periang. Menjadi pasangan, teman, sekaligus sahabat untuk laki laki dengan trauma mendalam di kehidupannya itu.
Siang ini, di halaman belakang rumah mewah itu. Di sebuah meja taman berbentuk lingkaran yang dikelilingi beberapa kursi di sana. Sepasang suami istri nampak asyik dengan aktifitas mereka berdua.
Seperti biasa, Dion sibuk dengan aktifitas lukis melukis kegemarannya. Siang ini ia nampak melukis sebuah gambar yang diambil dari sebuah foto dirinya dan sang istri.
Tangan itu bergerak sangat cekatan melukis wajah Saras. Sedangkan di hadapan Dion, wanita itu juga sibuk dengan aktifitasnya. Mencoret coret sebuah kertas kosong berwarna putih itu, seolah ingin ikut melukis seperti yang suaminya lakukan kini.
"Tarraaa.....! Jadi..!!" ucap Saras sambil mengangkat kertas gambarnya dan menunjukkannya pada Dion.
Laki laki itu mengangkat kepala, menatap kertas gambar hasil karya istri cantiknya.
Dion mengernyitkan dahinya. Sebuah gambar makhluk dengan kepala bulat bertanduk. Ukurannya jauh lebih besar daripada ukuran badannya. Empat kakinya hanya sebesar satu garis pensil dengan tiga jari jari tanpa telapak kaki. Ekornya keriting. Berpijak di rerumputan berbentuk huruf 'V'. Mirip gambar anak SD.
Dion mengulum senyum. Mencoba menahan tawanya agar tak pecah.
"Bagus nggak?" tanya Saras.
Dion mengangguk.
"Bagus" jawabnya berbohong.
Saras menatap lukisannya sendiri. Lalu membandingkannya dengan lukisan Dion yang terlihat begitu nyata.
Saras mengerucutkan bibirnya.
"Jelek banget punya gue?" ucap Saras membuat Dion terkekeh tanpa menoleh. Ia masih sibuk dengan kertas gambarnya, namun ucapan wanita itu sukses membuatnya tertawa.
"Dion, kamu bohong, ya..?" tanya Saras protes.
Dion tak menjawab.
"Jelek ini..!!" ucap Saras lagi.
Dion tertawa.
"Terserah kamu lah..!" ucapnya kemudian.
Saras nampak bersungut. Ia sepertinya memang tak punya bakat melukis.
Wanita itu kemudian melongok menatap lukisan milik suaminya. Sudah hampir jadi. Laki laki itu mampu menyelesaikan lukisannya dalam waktu yang tak terlalu lama.
Saras meraih segelas jus jeruk di atas meja bulat itu, lalu meminumnya.
Tiba tiba....
drrrrttt.... drrrrttt...
Ponsel miliknya yang berada di atas meja bundar itu bergetar. Saras melongok menatap layar ponsel itu. Sebuah panggilan telepon masuk dari Adit, adiknya.
Dengan segera ia meraih ponsel itu, lalu mengusapnya dan menempelkannya di telinga.
"Halo, ada apa, Dit?" tanya Saras.
__ADS_1
"Kak, lu ke rumah, gih..!" ucap Adit dari seberang sana.
"Ada apa?" tanya Saras.
"Ibuk kecelakaan. Tadi dia keserempet motor pas pergi ke minimarket sendirian..!" ucap Adit.
"Apa?! Kok bisa sih?!" tanya Saras dengan suara sedikit lebih tinggi. Membuat Dion yabg berada di hadapannya itu pun menoleh ke arah sang istri.
"Ya nggak tahu..! Kan gue nggak ada di situ..! Untung ada orang yang nolongin ibuk..!" ucap Adit lagi.
"Udah, sekarang lu ke rumah deh..! Ini gue ama ibuk masih di rumah sakit nebus obat. Mending lu ke rumah duluan deh..! Tengokin ibuk..! Ya..." ucap Adit.
Saras mengangguk.
"Oke, gue kesana sekarang..! Lu ati ati bawa mobilnya..! Jangan ngebut..!" ucap Saras.
"Iya..." jawab Adit.
Sambungan telepon pun terputus. Saras meletakkan benda pipih itu di atas meja lalu menghela nafas panjang.
"Ada apa?" tanya Dion.
Saras menoleh.
"Ibuk keserempet motor" jawab Saras.
Dion diam.
Saras melirik ke arah suaminya itu.
Laki laki itu tak bereaksi.
"Aku boleh nggak, ke rumah ibuk bentar? Aku mau nengokin ibuk" ucap Saras se pelan mungkin. Ia tak mau mengusik emosi Dion lagi.
Dion masih diam.
"Kalau kamu nggak mau ikut, aku sendirian aja nggak apa apa" ucap Saras lagi.
Laki laki itu kemudian membuang nafas kasar.
"Boleh.." ucapnya.
Saras membuang nafas lega.
"Tapi aku ikut" imbuh Dion kemudian.
Saras tersenyum manis.
"Iya, boleh..!" jawab wanita itu. Ia kemudian bergegas untuk bangkit.
"Ya udah, aku ambil tas dulu, ya. Kita langsung ke rumah ibuk aja" ucap Saras.
Dion hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Saras pun pergi dari tempat tersebut. Berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas selempang miliknya.
Tak berselang lama, wanita itu pun turun dari lantai dua. Ia kembali mendekati Dion yang sudah berada di ruang tamu. Sepasang suami istri itu lantas pergi meninggalkan kediaman mewah mereka. Menuju rumah Ratih untuk menengok kondisi ibu kandung dari Anggita Priscillia Sarasvati itu. Tal lupa, seorang supir yang merangkap sebagai bodyguard mengantar kedua manusia itu menuju tempat tujuan mereka.
Sekitar lima belas menit perjalanan, mobil mewah itu sampai di sebuah rumah mewah pemberian Malvino Andreas Miguel. Sang supir memarkirkan kendaraannya di sebuah halaman luas kediaman berharga fantastis itu.
__ADS_1
Saras dan Dion turun dari mobilnya. Rumah itu masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa penjaga dan pelayan yang berada di sana. Sedangkan Adit dan ibunya belum pulang dari rumah sakit.
Sepasang suami istri itu lantas masuk ke dalam rumah. Memilih untuk menunggu Ratih dan putranya itu di ruang tamu.
Baru saja Saras mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa panjang di sana. Tiba-tiba...
"Saras..." ucap Dion.
Wanita itu menoleh ke arah Dion yang masih berdiri.
"Ya..." jawab Saras.
"Aku agak pusing. Aku istirahat di kamar kamu dulu ya.." ucap Dion.
Saras bangkit. Tangannya bergerak menyentuh kening laki-laki tampan itu.
"Kamu sakit?" tanya Saras.
Dion tersenyum.
"Cuma pusing sedikit aja" ucap laki-laki itu.
Saras mengangguk.
"Ya udah, kalau gitu kamu istirahat dulu, gih. Biar aku nungguin Ibuk sama Adit di sini" ucap Saras.
Dion mengangguk sambil tersenyum. Digerakkannya tangan kekar itu mengacak acak lembut pucuk kepala sang istri.
Laki-laki itu kemudian naik ke lantai dua. Memilih untuk beristirahat di kamar sang istri yang berada di sana.
Saras kembali duduk di sofa itu. Menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa panjang ruang tamu tersebut. Tangannya lantas tergerak meraih ponsel di dalam tasnya. Lalu memainkannya.
Tak begitu lama, hingga.....
Ceklek....
Pintu utama rumah megah itu terbuka. Saras menoleh ke arah pintu. Ia pun reflek bangkit kala menyadari ada beberapa orang yang nampak masuk ke dalam rumah itu.
Dan benar saja. Adit masuk ke dalam rumah itu sambil memapah sang ibu yang terpincang-pincang. Dibantu oleh seorang pria berpostur tinggi dengan rambut gondrong disana. Dan...
.
.
.
.
"Saras...." ucap laki laki itu.
...----------------...
Selamat siang.
up 13:46
Yuk, dukungan dulu 🥰😘
__ADS_1