Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
85


__ADS_3

Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka. Saras keluar dari dalam ruangan itu dengan sebuah benda pipih di tangannya. Ia menatap ragu ragu ke arah empat pria yang duduk di sofa kamar mewahnya. Ada Dion, Malvino, Reza, yang merupakan dokter pribadi keluarga Malvino, serta Jason yang setia mengikuti kemanapun sang tuan pergi.


Dion nampak menatap penuh tanya ke arah sang istri. Sedangkan Malvino kini terlihat menatap datar dan terkesan tenang ke arah sang menantu. Dokter Reza tersenyum.


"Bagaimana hasilnya, nona?" tanya Dokter yang cukup senior itu..


Saras meletakkan benda pipih di tangannya itu ke atas meja dengan ragu ragu.


"Dua garis, Dok. Positif" ucap Saras. Semua mata tertuju pada benda pipih itu, sebuah alat tes kehamilan.


Ya, setelah mengeluh mual dan pusing sejak pagi tadi, Dion pun berinisiatif untuk memanggil seorang dokter keluarga ke rumahnya. Ia ingin memastikan tentang kondisi kesehatan sang istri. Ia takut, jika efek samping obat bius yang Gio berikan pada Saras masih berefek pada sang istri. Ia tak mau jika terjadi sesuatu pada wanita kesayangannya itu.


Setelah menjalani beberapa pemeriksaan dan konsultasi dengan sang dokter, menceritakan apa yang ia rasakan secara detail, Dokter Reza pun akhirnya meminta Saras untuk melakukan tes menggunakan alat pendeteksi kehamilan itu.


Dan benar saja, hasilnya positif. Belum diketahui berapa usia kandungan Saras, ia harus pergi ke rumah sakit jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kehamilannya.


..


Dion meraih testpack itu. Dilihatnya dua garis biru terlihat jelas disana. Dion menatap sang istri dan benda di tangannya itu bergantian. Saras nampak tersenyum. Dion menoleh ke arah sang dokter yang duduk di sampingnya.


"Apa artinya ini?" tanya Dion seolah ingin memastikan bahwa ia tak salah anggap. Benarkah Saras hamil? Ia akan menjadi seorang ayah? Pikir Dion.


Dokter Reza tersenyum.


"Seperti yang saya bilang, Tuan muda. Dilihat dari tanda tandanya, mungkin istri anda sedang mengandung saat ini. Jika alat itu menunjukkan dua garis biru, maka itu artinya adalah positif. Istri anda hamil. Nona Saras mengandung calon buah hati Tuan" ucap Dokter Reza menjelaskan dengan sangat gamblang.


Dion nampak tersenyum. Sebuah senyuman yang kian lama kian lebar hingga menampakkan barisan gigi-giginya yang putih. Laki laki itu kemudian bangkit, ia mendekati sang istri dan memeluknya erat. Saras tersenyum lebar.


"Terimakasih" bisik Dion tepat di telinga Saras. Wanita itu tak menjawab. Ia memeluk erat tubuh suaminya. Seolah ingin menunjukkan betapa ia juga bahagia, tengah mengandung calon penerus dari Dionyz Aldari Miguel.

__ADS_1




...****************...


Sementara itu di tempat terpisah. Sebuah mobil mewah nampak berhenti di depan sebuah pintu gerbang rumah mewah yang berada di salah satu komplek perumahan elit di kota itu.


Arkana dan ayahnya nampak keluar dari dalam tunggangan bernilai fantastis milik mereka. Keduanya berjalan mendekati gerbang tinggi kediaman Ratih yang nampak dijaga oleh dua pria berbadan tegap itu.


Bharata melepas kacamata hitamnya. Diamatinya rumah besar nan luas dengan pagar besi tinggi menjulang itu. Rumah itu sangat bagus, hampir setara dengan kediamannya bersama Maya dan Arkana. Harganya juga sudah pasti sangat mahal. Rasanya tidak mungkin didapatkan hanya dengan berjualan bahan-bahan pokok di toko kelontong milik Ratih.


Berarti benar, Anggita sudah menikah. Sesuai dengan apa yang tetangga kampungnya dulu sampaikan padanya. Putrinya sudah menikah dengan orang kaya. Dan Dionyz lah orang kaya yang dimaksud itu.


"Permisi.." ucap Arkana ramah pada seorang penjaga disana. Pria berperawakan tinggi besar dengan pakaian serba hitam sebagai seragamnya itupun menoleh.


"Cari siapa?" tanya pria itu sedikit ketus.


"Ada perlu apa?" tanya si penjaga lagi.


"Ada sesuatu yang mau saya tanyakan sama Bu Ratih. Penting. Boleh minta tolong sampaikan, Arkana mau bertemu. Bu Ratih kenal kok sama saya" ucap pemuda itu lagi.


Sang penjaga yang memang di tugaskan oleh Malvino untuk memperketat penjagaan di rumah orang tua Saras sejak beberapa hari terakhir itupun nampak mengamati penampilan Arkana dari atas sampai bawah. Pria berbadan algojo itu kemudian mengangguk.


"Tunggu di sini sebentar" ucapan pria kekar itu kemudian. Arkana mengangguk. Sang penjaga kemudian masuk ke dalam rumah yang pintu utamanya sedikit jauh dari pintu gerbang rumah tersebut. Ia masuk ke dalam rumah untuk memberitahu Ratih bahwa ada Arkana yang ingin bertemu.


Tak berselang lama, pria berpenampilan serba hitam itu kembali ke pintu gerbang mendekati Arkana dan Bharata yang masih berdiri di luar gerbang itu menunggu.


"Silakan masuk. Nyonya Ratih sudah menunggu di dalam" ucap pria itu sembari membuka pintu gerbang untuk Arkana dan ayahnya.


Laki laki itu mengangguk. Sepasang ayah dan anak itu pun segera kembali ke mobilnya, masuk ke dalamnya dan melajukan kendaraan roda empat itu memasuki halaman luas rumah megah tersebut. Kedua pria itu lantas keluar dari mobilnya, keduanya berjalan menuju teras rumah yang posisinya lebih tinggi dari halaman itu kemudian mengetuk pintu utama rumah tersebut.

__ADS_1


Tok...tok...tok...


Pintu diketuk. Belum ada yang membuka pintu.


Tok...tok...tok...


Pintu diketuk lagi.


Ceklek...


Pintu terbuka...


.


.


.


Degghh...


Bersambung 😁


...----------------...


Selamat pagi


Up 02:04


Salam sepertiga malam...


Yuk, dukungan dulu 🥰😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2