
Hari berganti hari....
Hubungan antara Dion dan Saras makin hari terlihat semakin membaik. Mereka terlihat kian dekat. Terlebih lagi setelah kepulangan mereka dari villa. Saras yang sudah mengetahui tentang masa lalu Dion pun kini mulai mengambil tindakan. Memperlakukan laki-laki itu selayaknya seorang suami yang selalu ia banggakan dan ia sayangi. Berusaha untuk selalu dekat dengan Dion, bermanja-manja serta memuji laki-laki itu. intinya Saras berusaha untuk membesarkan hati laki-laki itu agar dalam diri dia tertanam perasaan bahwa ia tidak sendiri, ada orang yang menyayanginya, dan tidak semua manusia itu jahat seperti pembully-pembulinya di masa kecil dulu.
Saras juga sesekali berusaha mendekati laki-laki itu dengan cara yang lembut dan halus. Berusaha agar Dion mau berbicara. Sekedar menceritakan masa lalunya versi dirinya sendiri.
Sarah sudah mendengar cerita tentang Dion dari mertuanya. Ia juga ingin mendengar kisah masa lalu suaminya itu dari mulut Dion sendiri.
Saras dan Dion semakin dekat, sedikit-sedikit perubahan juga nampak dari diri pria berusia dua puluh dua tahun itu.
Setelah kedatangan Saras, kini Dion mulai terlihat sedikit mau membuka diri. Tak seperti dulu saat belum mengenal Saras, ia selalu sibuk menghabiskan waktu di dalam ruang lukisnya. Setiap malam ia meminta "tumbal" cat merah pada ayahnya.
Namun kini, meskipun masih gemar melukis, Dion lebih suka melakukan aktifitas favoritnya itu di tempat terbuka. Ditemani sang istri yang selalu mendukung dan menyemangati nya.
Ya, sebuah perubahan yang cukup baik untuk Dion bisa hidup normal seperti pria pria seusianya.
....
Siang ini, di halaman belakang rumah mewah itu, sepasang suami istri itu nampak asyik berduaan di bawah sebuah pohon yang cukup rindang.
Malvino yang tengah menikmati kopinya nampak memperhatikan pergerakan dua manusia muda itu dari atas balkon kamarnya. Seutas senyuman tipis terbentuk dari bibirnya. Sepertinya keputusan nya mencarikan istri untuk Dion tak sia sia. Saras perlahan berhasil masuk ke dalam hati Dion sedikit demi sedikit.
Sementara di bawah sana....
Wanita cantik itu nampak bersandar manja di pundak seng suami. Pandangan matanya tertuju pada sebuah lukisan yang berada di hadapannya.
Sebuah lukisan yang hampir jadi, tinggal memberikan beberapa sentuhan-sentuhan akhir di beberapa bagian tertentu.
Saras nampak tersenyum manis. Sebuah gambar bunga-bunga yang terlihat indah terpampang di hadapannya. Dilukis dengan sangat terampil oleh sang suami.
Ya, hampir setiap hari Saras selalu meminta dibuatkan lukisan-lukisan baru. Sebuah lukisan dengan corak warna-warni yang indah, membuat Dion kini seolah tak punya waktu untuk membuat gambar-gambar seram lagi.
"dah, jadi...!!" ucap pria itu.
Saras tersenyum manis. Diraihnya lukisan itu kemudian menatapnya dengan penuh rasa bangga.
"makasih, suami..." ucap wanita itu manis.
Dion meletakkan kuasnya.
"besok mau dibikinin apalagi?" tanya laki-laki itu yang seolah sudah hafal dengan kebiasaan Saras sekarang.
Saras nampak menyentuh dagu lancipnya menggunakan ujung jari telunjuknya.
"eeemmm.... apa ya..?!" jawab wanita itu seolah tengah berpikir keras.
Dion memperhatikan wajah manis istri tercintanya itu. Semakin terlihat manis kala Saras tersenyum, membuat pria itu semakin betah untuk terus berdekatan dengan wanita cantik itu.
"angsa bisa nggak?" tanya Saras.
"angsa yang dimutilasi?" tanya Dion.
"bukan..! yang masih hidup aja..! yang lucu...! yang bulunya putih..!" jawab wanita itu.
Dion terkekeh. Digerakkan nya tangan kekar tersebut mengacak-acak lembut pucuk kepala wanita cantik tersebut.
"iya, besok dibuatin ya..." ucap laki-laki itu manis.
Saras tersenyum lagi. Ia kembali menyadarkan kepalanya di pundak suami tampannya itu.
__ADS_1
"Dion..." ucap Saras.
"ya...." jawab laki laki itu.
"makasih ya, udah mau nurutin semua kemauan aku" ucap wanita itu pada sang suami yang memang selalu menuruti keinginannya selama ini. Ya, meskipun dengan segala keterbatasan Dion, tapi laki laki itu selalu berusaha mewujudkan keinginan Saras.
Mulai dari sedikit demi sedikit berhenti menggambar lukisan-lukisan seram, mencoba keluar rumah dan berbaur dengan banyak orang, dan masih banyak lagi.
Laki-laki itu seolah menunjukkan sisi kepeduliannya terhadap seorang wanita, terlepas dari masa lalu dan trauma yang mungkin masih melekat dalam dirinya hingga saat ini.
Dion menoleh ke arah sang istri.
"aku selalu memberikan apapun untuk orang yang aku sayang. Tapi terkadang orang yang ku sayang selalu minta yang lebih. Yang aku nggak mampu untuk memberikan nya..." ucap Dion.
Saras menjauhkan kepalanya dari pundak laki laki itu. Ditatapnya mata pria itu dengan serat mata dalam.
"kamu bisa cerita sama aku kalau ada yang pengen kamu ceritain.." ucap wanita itu mencoba untuk mengajak Dion lebih terbuka padanya.
Dion diam sejenak.
"nggak ada..!" jawab Dion.
"kamu cukup diam, menjadi istri yang baik dengan segala kemauan kamu yang selalu berusaha aku berikan. Cukup itu saja..! kamu nggak perlu tahu yang lainnya. Kamu cukup meminta yang sekiranya bisa aku berikan. Tapi jangan menuntut aku di luar kemampuanku.." ucap Dion yang tak sepenuhnya dapat Saras mengerti.
Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Mengiyakan lagi ucapan laki laki itu.
Suasana hening sejenak. Lalu....
"kamu mau jalan jalan? kerumah ibumu mungkin.." ucap Dion menawarkan diri.
Saras nampak membuka matanya lebar.
Dion mengangguk. Saras tersenyum.
"mau...!" jawab wanita itu.
Dion tersenyum manis.
"ya udah, buruan siap siap...!" ucap Dion.
"nggak usah, gini aja..! kan udah nggak ada lukanya...!" ucap Saras.
Dion tersenyum.
"ya udah yuk, kalau gitu..." ucap Dion.
"yuk..." jawabnya.
Sepasang suami istri itu lantas bangkit. Pergi dari tempat tersebut membawa lukisan hasil karya Dion untuk di pajang di dinding kamar mereka nantinya sebelum pergi kerumah Ratih untuk mengunjungi wanita paruh baya itu.
...
Sekitar setengah jam kemudian...
Sebuah mobil yang dikemudikan oleh seorang supir nampak memasuki sebuah halaman luas rumah megah milik ibunda Saras itu.
Saras dan suami yang berada di dalamnya pun nampak turun dari kendaraan mahal itu dan bergegas masuk ke dalam rumah pemberian Malvino tersebut.
ceklek...
__ADS_1
pintu utama terbuka. Dion nampak membuka kupluk hoodie yang sejak tadi ia gunakan sebagai penutup kepalanya itu.
"ibuk...!!" ucap Saras memanggil manggil sang ibu. Saras dan Dion berjalan menuju ruang tamu. Dilihatnya disana, di atas meja, terdapat sebuah cangkir berisi kopi hitam yang nampak tinggal separuh, serta sebuah korek berwarna biru.
Saras menatap benda benda itu singkat kemudian acuh. Sepertinya baru saja ada tamu, pikir wanita itu.
Berbeda dengan Saras, Dion nampak diam. Fokus matanya tertuju pada korek biru bergambar logo sebuah komunitas motor besar di kota itu. Pria itu menatap tajam benda itu, ia nampak diam tanpa pergerakan sedikit pun.
Ratih turun dari lantai dua.
"kalian kesini?" tanya Ratih.
Saras tersenyum.
"baru ada tamu, buk?" tanya Saras.
"iya...tadi gue dari minimarket, ketemu sama anak muda, baik banget..! gue dianter pulang ama dia.." ucap Ratih.
"anak muda siapa?" tanya Saras.
"anak muda..! dia pemilik cafe gitu...! gue beberapa kali ketemu sama dia...! gara gara gue sempat kena jambret dan dia nolongin gue..! gue sering dianterin pulang sama dia..! baik banget anaknya, sopan..!" ucap Ratih bercerita tentang pemuda baik hati yang dikenal nya, Gio..!
Saras hanya mengangguk.
"asal nggak ibuk nikahin aja...! ntar ketipu lagi..! Saras nggak mau ya punya bapak berondong..!" ucap Saras sekenanya.
"gue tampol lu, Ras...!" ucap Ratih asal jeplak membuat Saras tergelak.
Ratih lantas menoleh ke arah sang menantu yang sejak tadi hanya dia menatap ke arah meja.
"Dion..." ucap Ratih.
Dion diam, lalu menoleh ke arah sang mertua.
"apa kabar?" tanya Ratih.
Dion tersenyum manis. Tapi entah mengapa Ratih merasa senyuman itu nampak aneh.
"baik, ibu..." jawab Dion lembut.
Ratih makin merasa aneh. Sesuatu yang selalu Ratih rasakan ketika berhadapan dengan menantu tampan nya itu.
Dion kembali menatap ke arah meja. Tepatnya ke arah korek berwarna biru tersebut.
"ee....Dion, mau kopi?" tanya Ratih.
Dion menoleh lagi...
"boleh, yang pahit. Sama seperti kopi yang tadi di minum oleh pemilik korek ini..." ucap Dion sembari kembali menatap kearah korek di atas meja itu.
Saras dan Ratih terdiam seketika. Menatap korek yang masih berada di sana, lalu saling melempar pandangan satu sama lain.
...----------------...
Selamat malam...
up 18:32
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘
__ADS_1