
DOORR...!!
Suara tembakan itu menggema. Membuat semua yang berada disana pun terjingkat karenanya. Salah seorang anak buah Maya yang berdiri tepat di samping wanita itu ambruk dengan punggung yang nampak berdarah tertembus sebuah peluru.
Maya kaget. Begitu juga Ratih dan Gio serta para anak buah lain disana. Mereka pun menoleh. Dilihatnya disana, empat orang pria nampak berdiri berjejer, dua diantaranya membawa pistol, satu membawa samurai, sedangkan satu lagi nampak berdiri dengan tangan kosong menatap nanar nan sedih ke arah wanita anggun itu. Sedangkan di belakang para pria itu, ada puluhan pria lain berseragam serba hitam yang berdiri dengan gagahnya di sana. Ada yang membawa pistol, pedang, rantai besi berpaku, samurai, pisau, celurit, dan masih banyak lagi.
Ya, mereka adalah Malvino dan komplotannya, di tambah dengan Arkana disana. Jason dan Malvino dengan pistol di tangan, Dion dengan samurai di genggaman, dan Arkana berdiri dengan tangan kosong.
Dion dan Arkana yang tengah mencari Saras dan Gio rupanya bertemu tepat di sebuah gang sempit menuju bangunan tua tempat di mana mereka berada saat ini. Setelah mengetahui bahwa Saras dan Gio sama-sama diculik, Arkana pun memutuskan untuk mengajak Dion untuk sama-sama mencari keberadaan kedua manusia itu. Sang bodyguard yang selalu berada di samping Dion kemudian mengatakan, bahwa kemungkinan Saras dan Gio diculik oleh orang yang sama. Ia kemudian membawa dua pemuda itu untuk menemui Malvino dan rombongan yang rupanya sudah mengintai bangunan tua itu sejak tadi.
Ya, ingatkan bahwa Malvino sudah menyebar anak buahnya di rumah sakit sejak pertama kali Gio dirawat di sana?
Para anak buah itu masih mengintai dan mengawasi Gio hingga laki-laki itu pulang dari rumah sakit besar tersebut. Selama berada di rumah sakit, tidak ada gelagat yang mencurigakan. Para anak buah Malvino sebenarnya tahu bahwa Gio diawasi oleh beberapa orang asing, namun mereka tidak tahu siapa orang-orang di belakang mereka lantaran tidak ada satupun sosok yang mencurigakan yang muncul selain para pria pria asing itu.
Malvino kemudian meminta para anak buahnya untuk terus berjaga-jaga di sana. Hingga pada saat perjalanan pulang, anak buah Malvino melihat bahwa ada sebuah mobil Jeep yang menghadang Go dan menculik pemuda itu. Tanpa basa-basi para anak buah Malvino kemudian membuntuti mobil Jeep tersebut dengan sangat rapi dan tak terendus. Salah satu dari mereka kemudian mengabari sang tuan gangster. Malvino pun meluncur menuju lokasi tempat dimana Gio di sekap. Rupanya di dalam bangunan itu sudah ada Ratih. Maka ketika bodyguard Dion mengabarinya bahwa ada orang yang menculik Saras, Malvino langsung meminta bodyguardnya untuk membawa Dion agar menyusul dirinya. Pria itu yakin, Saras pasti akan dibawa ke tempat itu.
Dan benar saja, tak berselang lama, wanita yang tengah dalam kondisi hamil tersebut dibopong dari sebuah mobil hitam, masuk ke dalam bangunan tua yang terbengkalai tersebut.
Alhasil, disinilah mereka sekarang. Mengepung Maya dan anak buahnya yang tak seberapa itu. Para pria itu bahkan juga sudah mendengarkan semua pengakuan Maya yang ia lontarkan pada Gio. Membuat wanita itu sudah tak bisa berkelit lagi. Semua sudah diperdengarkan, termasuk pada Arkana.
"Kau memang sangat licik, sayang. Tapi kau lupa, dengan siapa kau sedang bermain-main." Malvino terlihat dingin dan menyeramkan. Tangannya bahkan masih terangkat, mengacungkan senjata apinya ke arah Maya setelah berhasil menembak salah satu anak buah wanita itu.
Maya nampak membuka matanya lebar lebar. Dadanya bergemuruh. Emosinya membuncah melihat wajah pria yang sangat ia benci itu. Apalagi kini Malvino numpak tersenyum angkuh ke arahnya, seolah menantangnya untuk bertindak lebih sore ini.
"Apa kabar, Rihanna?" tanya Malvino.
Seettt....
Dion reflek memalingkan wajahnya sambil memejamkan matanya. Ia mendadak pusing mendengar nama itu.
Maya tak menjawab. Ia menatap tajam ke arah laki laki berjambang lebat itu. "Kau?!" ucapnya dengan gigi yang mengetat.
"Puluhan tahun kita berpisah, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini. Apa kabar, sayang?! Apa kau tidak merindukanku?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Diam kau, bajing*n!" ucap Maya tak suka. Malvino tertawa sumbang.
"Kau jauh lebih berani sekarang. Kau tidak selembut Rihanna ku yang dulu!" tutur Malvino tenang namun memuakkan bagi Maya.
Wanita itu tak menjawab.
"Kemarilah, aku merindukanmu!" ucap Malvino.
"Tutup mulutmu! Aku tidak sudi bersentuhan denganmu! Aku hanya butuh kehancuranmu untuk kepuasanku!" ucap Maya.
"Ckckck! Mengerikan sekali! Rupanya kau cukup berani, Rihanna!"
"Namaku bukan Rihanna...!" bentak Maya
"Bagiku kau tetap Rihanna!" potong Malvino. "Berhenti membuat onar! Lepaskan menantuku!" Malvino nampak menajam. Maya tersenyum smirk.
"Bagaimana jika aku ingin membunuhnya, beserta bayi dalam kandungannya?!" tanya Malvino membuat Dion bergerak hendak mendekati wanita itu. Namun Malvino menghalanginya. Maya menyunggingkan senyuman iblisnya.
Maya tersenyum smirk. "Sumpahku adalah membuatmu hancur. Tidak akan pernah ada kebahagiaan yang akan kau dapatkan selama aku masih hidup! Jika aku tidak bisa membunuhmu, maka aku akan menjadikan putramu sebagai alat untuk menjadikan kau makhluk paling menyedihkan di muka bumi ini!!!" ucap Maya dengan suara yang semakin tinggi di akhir kalimatnya. Dengan gerakan secepat kilat ia merampas sebuah pisau yang berada di tangan salah satu anak buahnya kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi dan bersiap untuk menusukkannya ke perut Saras. Namun tiba-tiba....
"STOP!!!" pekik Malvino, Dion, dan Arkana bersamaan.
"Ma!! Please, stop!!" ucap Arkana dengan mata berair. Membuat Maya dengan tangan yang sudah terangkat ke udara itu pun menghentikan pergerakannya tanpa menoleh ke arah Arkana.
"Aku nggak tahu bagaimana kisah hidup Mama di masa lalu. Aku nggak tahu sesakit apa hati Mama karena kisah Mama dan Tuan Malvino dulu. Aku mengenal Mama sebagai seorang wanita yang baik. Sebagai seorang ibu yang menyayangiku dengan sangat tulus. Ma, tolong jangan menjadi orang lain yang tidak aku kenal. Tolong, jadilah Mama yang selama ini selalu bisa aku banggakan. Aku gak mau benci sama mama," ucap Arkana dengan mata mengembun. Ia berjalan perlahan, mendekati sang ibunda.
"Berhenti, Arka!" ucap Maya dingin. Ia menoleh ke arah sang putra dengan sorot mata dingin seolah bukan Maya yang ia kenal.
"Kau dan papamu juga sama saja. Kalian sudah mengecewakan Mama! Untuk apa kau mencari dua wanita ini sedangkan kalian sudah punya Mama?! Kalian ingin meninggalkan Mama? Iya, kan?! Kau sama saja seperti mereka...!!" ucap Maya.
"Aku nggak pernah punya niatan untuk meninggalkan Mama...! Aku hanya ingin bertemu dengan ibu dan adik kandungku! Mama dan ibu punya tempat tersendiri buat aku, Ma...! Please, jangan seperti ini!" ucap Arkana mencoba melunakkan hati ibunya.
Maya menatap tajam pemuda itu. Arkana melangkahkan kakinya pelan berniat mendekati sang mama.
__ADS_1
"Diam kau! Mundur...!!" ucap Maya marah. iya bahkan kini mulai mengacungkan pisaunya ke arah Arkana.
"Kita bisa bicara baik-baik, Ma. Kita selesaikan ini sama sama. Saras nggak tau apa apa!" ucap Arkana.
"MUNDUR!!" bentak Maya lagi.
"Ma..." ucap Arkana.
"Diam...!!!" ucap Maya berteriak. Ia kemudian kembali menoleh ke arah Saras yang masih tak bergerak. Dengan segera ia mengayunkan tangannya hendak menusukkan pisau di tangannya itu ke arah perut Saras. Namun tiba-tiba...
.
.
.
"Akkhhh!!
.
.
.
Bersambung 🤭😁
...----------------...
Stop dulu ya ..
Matanya udah capek, lanjut besok, semoga bisa up pagi.
Yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰
__ADS_1