Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
105


__ADS_3

Siang menjelang di salah satu kantor polisi yang berada di kota itu.


Sepasang ayah dan anak itu nampak berjalan memasuki bangunan markas para aparat penegak hukum tersebut. Keduanya lantas berjalan mendekati beberapa petugas jaga yang siang ini betugas disana.


"Selamat siang, Pak," ucap Bharata.


"Siang," jawab salah seorang petugas itu.


"Saya mau menjenguk istri saya, namanya Maya, dia baru ditahan sejak kemarin disini," ucap Bharata.


Sang petugas diam sejenak. Mengamati penampilan pria dewasa yang masih terlihat bugar di usianya yang sudah tidak muda lagi itu.


"Anda suaminya?" tanya si petugas.


"Iya, Pak. Saya suaminya. Dan ini putra saya," jawab Bharata sembari menoleh ke arah Arkana yang nampak sembab. Sang petugas kemudian menatap ke arah Bharata dan Arkana secara bergantian. Laki laki berseragam coklat itu lantas menghela nafas panjang.


"Mari ikut saya," ucap si penjaga. Bharata mengangguk. Pria berseragam polisi itu kemudian bangkit dari posisi duduknya. Ia mengajak Bharata dan Arkana berjalan menuju sel tempat di mana Maya ditahan.


Bharata dan Arkana terdiam. Kini keduanya berdiri tepat di depan sebuah pintu menuju sebuah sel khusus yang hanya dihuni oleh satu orang, Maya.


Arkana nampak memejamkan matanya. Dadanya kembali sesak. Wanita itu terlihat sangat kacau. Tidak nampak tampilan anggun dan glamor yang biasa wanita itu tunjukkan. Maya terlihat sangat kumel dan tak terurus. Rambutnya acak-acakan, sebagian bajunya bahkan sobek. Ia histeris. Berteriak mencaci maki dan mengumpat, mengeluarkan sumpah serapahnya pada petugas yang berjaga disana. Ia menggerakkan kaki dan tangannya brutal. Memukuli dan menendang nendang jeruji besi itu seolah minta dikeluarkan.


Petugas yang kini berdiri di samping Bharata itu kemudian menoleh ke arah ayah dua anak tersebut.


"Maaf, Pak. Kalau boleh saya bertanya, apa sebelumnya istri Bapak punya riwayat gangguan jiwa?" tanya sang petugas pada Bharata.


Bharata terdiam.


"Sejak kemarin, istri Bapak tidak berhenti berteriak-teriak. Beliau memaki-maki semua yang berada di sekitarnya. Emosinya tidak terkendali, bahkan sesekali beliau nampak menangis kemudian tertawa sendiri. Ya, seperti orang yang memiliki...maaf, gangguan kejiwaan, Pak." Sang petugas mencoba memberi penjelasan sehalus mungkin agar tak menyinggung Bharata.


Bharata yang sudah mengetahui semua yang terjadi dari mulut Arkana itu nampak menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Jujur, saya juga kurang tahu, Pak. Tapi setahu saya, masa lalu istri saya memang cukup buruk. Dia memiliki trauma yang cukup mendalam dimasa lalunya," ucap Bharata.


"Lalu bagaimana, Pak? Sebenarnya kami dari pihak kepolisian ingin menyarankan agar istri Bapak untuk sementara dirawat dulu di rumah sakit jiwa. Ini demi kepentingan bersama, dan juga kebaikan istri Bapak sendiri. Karena jika masih terus-terusan seperti ini, kami juga tidak bisa melanjutkan proses hukum yang menjerat istri Bapak," ucap sang petugas.


Bharata menghela nafas panjang.


"Saya serahkan semua sama pihak yang berwajib. Kami mempercayai anda dan aparat lain sebagai lembaga tertinggi penegak keadilan di negeri ini. Jika memang sudah seharusnya istri saya dibawa ke rumah sakit jiwa terlebih dahulu untuk menyembuhkan mental dan jiwanya, maka saya akan menyetujuinya. Bagaimana baiknya saja, Pak," ucap Bharata. "Saya juga ingin yang terbaik untuk istri saya," imbuhnya.


Petugas itu mengangguk. "Baiklah, Pak. Kalau begitu kami akan segera menghubungi pihak rumah sakit agar segera bisa mengevakuasi istri anda. Dan untuk sementara, kami mohon maaf, demi kebaikan bersama, alangkah baiknya jika sementara ini baik Bapak maupun putra tidak mendekati Ibu Maya terlebih dahulu. Takutnya emosinya makin menjadi jadi, Pak, Mas," ucap sang petugas.


Bharata dan Arkana hanya mengangguk. Dengan berat hati, untuk sementara mereka tidak bisa bertemu dengan Maya. Keduanya hanya bisa mengamati wanita itu dari kejauhan tanpa bisa mendekatinya.


......................


Saat malam menjelang di tempat terpisah. Sebuah skuter matic yang dikendarai wanita berseragam perawat yang dibalut jaket coklat itu nampak melaju pelan menembus padatnya jalan raya ibukota.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Waktu yang kurang aman untuk seorang wanita berkendara seorang diri. Namun wanita tanpa ayah dan ibu itu, Xena, terpaksa harus pulang sendirian malam ini lantaran ia yang terjadwal masuk sore rupanya tak memiliki kawan untuk pulang bersama malam ini. Satu-satunya kawan yang rumahnya searah dengannya tidak masuk hari ini. Hal itupun membuatnya mau tak mau harus pulang sendirian. Memberanikan diri untuk pulang ke panti di tengah malam yang mulai sepi ini.


Sebenarnya ia ingin bermalam saja di rumah sakit malam ini, tapi lantaran besok ada acara bakti sosial yang cukup besar di panti asuhan tempat tinggalnya, mau tak mau Xena pun harus pulang. Semoga saja ia bisa selamat sampai tujuan.


Xena menyipitkan matanya. Sebuah mobil mewah berwarna hitam nampak terparkir di bawah pohon tepat di samping sebuah toko perhiasan di pinggir jalan yang sepi. Xena menyempitkan matanya. Penerangan yang kurang di tempat di mana mobil itu berhenti membuatnya harus mempertajam pandangannya agar bisa melihat kendaraan roda empat itu dengan jelas.


"Itu kayak mobil si om brewokan kemarin? Ngapain malam malam berhenti di situ?" monolog Xena. "Apa mogok, ya?"


Xena menepikan kendaraannya. Ia lantas melepas helmnya dan turun dari skuter matic miliknya. Wanita itu lantas berjalan mendekati mobil mewah tersebut.


Xena melongok, mencoba mengintip ke dalam mobil itu namun sayang, kacanya terlalu gelap, membuat saya tidak mampu melihat apa yang berada di dalam mobil tersebut. Tiba-tiba...


Daaghh...


Pintu mobil terbuka. Malvino keluar dari dalam kendaraan roda empat tersebut di ikuti Jason yang berada di kursi kemudi. Rupanya ada orang di dalam mobil itu. Xena mundur, kepalanya bergerak mencoba melongok ke dalam mobil, namun Malvino dengan cepat menutup pintu kendaraan roda empat tersebut.

__ADS_1


"Apa?! Sedang apa kau disini?!" tanya Malvino tegas.


"Oh, em, sa...saya baru pulang kerja, Om. Ini mau pulang ke panti. Tadi dari jauh nggak sengaja saya lihat mobil Om berhenti di pinggir jalan, makanya saya samperin," ucap Xena.


Malvino menatap datar gadis itu dari atas sampai bawah.


"Mogok ya, Om?" tanya Xena lagi. Malvino masih tak menjawab.


"Kau ingin mengumpankan tubuhmu untuk diperk*sa para pembegal di jalan ini?" tanya Malvino cukup nyelekit membuat Xena nampak membuka mulutnya mendengar ucapan itu. Wanita itu kemudian menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa kau masih berkeliaran di luar rumah jam segini?!" tanya Malvino.


"Kan tadi saya udah bilang, saya mau pulang, baru selesai kerja," ucap Xena.


Malvino menghela nafas panjang.


"Lain kali mintalah shift pagi. Rumahmu terlalu jauh, sangat berbahaya jika kau pulang malam sendirian seperti ini!" ucap Malvino tenang dan dingin. Xena menunduk, lalu mengangguk.


"Sekarang naik lagi ke motormu! Pulang! Aku akan mengikutimu dari belakang!" titah Malvino.


"Mobil Om nggak mogok?" tanya Xena lagi.


"Kenapa kau banyak omong?! Cepat naik ke motormu!" titah Malvino dengan suara sedikit meninggi.


"Iya, Om.....Om siapa?" tanya Xena yang memang belum mengenal nama Malvino.


Malvino diam sejenak.


"Tidak penting!" ucap Malvino.


"Oke, Om Tidak Penting. Aku Xena. Makasih ya Om, mau nganterin aki pulang..." ucap Xena sembari tersenyum manis. Jason nampak tersenyum lucu mendengar ucapan gadis itu. Xena kemudian setengah berlari menuju motornya. Ia pun lantas menyalakan mesin motor itu, melajukan lagi kendaraannya diikuti mobil Malvino dari belakang.

__ADS_1


Padahal malam ini Malvino sudah mengatur strategi untuk merampok sebuah toko perhiasan di pinggir jalan itu. Namun semua batal karena Xena yang tiba tiba datang. Dan sekarang, bos gangster itu justru memilih untuk mengantarkan gadis polos itu menuju panti asuhan tempat tinggalnya. Ia bahkan membatalkan niatnya untuk merampok malam ini.


...----------------...


__ADS_2