Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
111


__ADS_3

Sementara itu di tempat terpisah saat malam menjelang.


Wanita hamil itu nampak menenggak segelas susu putih di tangannya. Susu yang dibuatkan khusus oleh suami tercintanya. Laki laki yang kian hari kian menunjukkan kasih sayangnya dengan berbagai perhatian yang ia berikan.


Saras selesai dengan susunya. Diletakkannya gelas yang kini nampak kosong itu diatas sebuah nakas tepat di samping ranjang. Ia kemudian menoleh, mengarahkan arah pandangnya ke arah perut rata miliknya. Dilihatnya di sana sang suaminya nampak merebahkan kepalanya manja sembari mengusap-usap lembut tempat bersemayamnya sang calon buah hati tersebut. Mulutnya sejak tadi tak berhenti berceloteh, seolah tengah berbincang dengan si jabang bayi yang masih berada dalam kandungan itu.


Saras tersenyum. Ia nampak menggerakkan tangannya mengusap rambut hitam milik Dion membuat laki-laki itu kemudian menoleh ke arah sang istri.


"Udah malem. Ngobrolnya besok lagi. Sekarang waktunya bobok," ucap Saras.


Dion tersenyum manis, membuat mata sipit itu makin menyipitkan karena senyumannya.


"Aku nggak sabar nunggu dia lahir," ucap Dion. Saras tersenyum lagi sambil mengusap usap pipi pria tampan itu.


"Dia pasti mirip aku," ucap Saras. Dion berdecih.


"Mirip kita," ucap Dion meralat ucapan istrinya.


Saras nampak terkekeh. Dion lantas bangkit. Ia yang semula tidur dengan perut Saras sebagai bantalnya kini ia mengubah posisinya, merebahkan tubuhnya di samping sang istri lalu meraih kepala Saras agar bersandar di dada bidangnya. Wanita itu hanya menurut, ia memeluk tubuh ramping itu kemudian memberikan kecupan kecupan lembut tepat di pucuk kepala wanita tersayangnya tersebut.


"Dion," ucap wanita hamil itu.


"Hmmm..." jawab calon ayah itu.


"Udah dua minggu lebih, Gio gimana kabarnya, ya?" ucap wanita itu memulai pembicaraan.


Dion diam.


"Tante Maya juga. Gimana ya kabarnya sekarang. Kata Arka sih kemarin udah lebih baik," ucap Saras.

__ADS_1


Dion menghela nafas panjang.


"Gak usah ngomongin yang nggak penting buat dibahas," ucap Dion acuh.


Saras mendongak, menatap wajah sang suami dengan sorot mata dalam penuh harapan. "Justru ini tuh penting banget, Dion. Kita tuh bentar lagi punya anak. Aku pengen hidup tenang. Nggak mau lagi ada orang orang yang diem diem ngikutin kita. Ngawasin kita. Aku nggak mau anak kita yang nanti jadi sasarannya," ucap Saras.


"Dion, dendam kalau diturutin nggak akan ada habisnya. Mungkin Gio dulu emang jahat, tapi kan dia udah dapat balasannya. Dia udah nggak punya siapa siapa. Sebatang kara. Bahkan sekarang saat dia sakit pun dia juga sendirian. Beda sama kamu. Kamu dikelilingi banyak orang yang sayang sama kamu. Apa kamu nggak mikir itu adalah bagian dari pembalasan Tuhan buat Gio?" tanya Saras.


Dion tak menjawab. Ia hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan dari wanita cantik itu.


"Terus kamu maunya gimana?" tanya Dion akhirnya. Hampir tiap hari Saras selalu membahas masalah ini. Membuat Dion seolah jadi lelah sendiri mendengarnya.


"Pengennya aku tuh masih sama kayak yang kemarin aku bilang. Damai, yuk..." ucap Saras.


Dion menarik nafas panjang lagi lalu membuangnya.


Saras diam.


"Cukup adil, kan? Dia yang memulai, dia juga yang harus mengakhirinya!" ucap Dion sembari tersenyum pada sang istri di akhir kalimatnya.


Saras nampak diam. Sulit jika harus meminta Gio yang datang pada Dion. Tapi jika dipikir-pikir memang benar apa yang Dion katakan. Memang seharusnya Gio lah yang datang padanya, karena memang semua berawal dari dia.


Saras menghela nafas panjang. Ia menggerakkan tangannya memeluk tubuh tegap itu dengan hangat.


"Udah puas denger jawaban aku? Besok jangan bahas itu lagi, ya. Hampir dua minggu kamu selalu bahas itu tiap malam. Capek aku dengernya," ucap Dion tenang sembari menggerakkan tangannya membelai rambut panjang sang istri. Saras tak menjawab. Ia nampak mengerucutkan bibirnya.


"Iya, iya!" jawabnya kemudian.


Dion tersenyum. "Sini dong, agak naik dikit. Aku kangen tauk, sama kamu," ucap laki laki itu kemudian.

__ADS_1


Saras menurut. Ia meringsut, mensejajarkan wajahnya dengan wajah suaminya yang kini nampak tersenyum manis.


"Gendutan sekarang," ucap Dion membuat Saras membuka lebar kelopak matanya.


"Masa??!!" tanya Saras. Dion terkekeh.


"Tapi nggak apa apa. Aku seneng kalau kamu lebih berisi. Lebih lucu," ucap Dion sambil tersenyum. Wanita itu nampak menyibikkan bibirnya.


"Hmmmh, gombal!" ucap Saras.


"Beneran!" jawab laki laki itu. Ia lantas memeluk tubuh wanita yang tengah berbadan dua itu. Saras diam. Ia melirik ke arah wajah sang suami dengan sorot mata menelisik seolah tengah memikirkan sesuatu.


"Ngapain liatinnya kayak gitu?" tanya Dion. Saras menggeliat.


"Dion," ucap Saras.


"Hemm..."


"Udah ngantuk?" tanya Saras.


"Belum. Emang kenapa?" tanya Dion lagi. Saras tak langsung menjawab. Ia nampak menggeliat lagi. Satu tangannya kini bahkan bergerak, memainkan jari telunjuknya di sebuah tombol kecil di salah satu bongkahan dada milik suaminya yang tertutup kaos putih itu.


Dion berdecih. Ia seolah sudah bisa menebak isi pikiran Saras. Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya, membelai pipi mulus milik sang istri dengan penuh kelembutan. Wanita itu nampak tersenyum. Dion mengikis jarak antar wajah itu. Mulai menggesek gesekkan ujung hidungnya dengan ujung hidung sang istri lalu mengecup lembut bibir mungil kesayangannya itu. Adegan pun terus berlanjut. Keduanya larut dalam suasana malam yang hangat dan romantis selayaknya sepasang suami istri yang saling mencintai.




...----------------...

__ADS_1


__ADS_2