
Hari terus berlanjut...
Setelah menyelesaikan lukisan tubuh sang istri hingga hampir siang menjelang, kini sepasang suami istri nampak baru selesai membersihkan diri mereka. Dion nampak keluar dari kamar mandi. Pria yang terlihat mengenakan kimono handuk berwarna putih itu nampak berjalan mendekati ranjang sambil menggendong Saras yang penuh luka di sekujur tubuhnya.
Didudukan nya wanita cantik itu di tepi ranjang. Pria berparas manis dengan mata sipit itu lantas berjalan menuju lemari besar yang berada di dalam kamar itu. Membukanya, lalu mengeluarkan satu set pakaian lengkap untuk si wanita cantik itu lalu melemparkannya ringan.
Saras yang kini nampak susah bergerak karena luka di sekujur tubuhnya itu nampak menghela nafas panjang, menatap kain kain penutup tubuhnya yang kini teronggok menyedihkan di atas pangkuannya.
Saras pun meraih kain kain itu satu persatu kemudian mulai mengenakan nya dengan susah payah. Sedangkan Dion yang kini berada di depan lemari besar itupun juga nampak berganti baju. Guna menutupi tubuh kekarnya dengan satu set pakaian lengkap disana.
Selesai,
Dion berbalik badan. Dilihatnya disana Saras tengah bersusah payah menaikkan celana pendek nya. Badannya sakit semua, bahkan hanya untuk sekedar menggerakkannya. Membuatnya cukup kesusahan dengan celana jeans pendek berwarna hitam itu.
Dion diam. Menyaksikan sang istri yang nampak susah payah berkutat dengan celana itu tanpa berniat membantunya.
Selesai. Saras selesai dengan celana jeans itu.
Dion kemudian bergerak maju, mendekati wanita itu dengan sorot mata datar tanpa ekspresi.
"ayo turun..! kita harus sarapan" ucap Dion.
Saras mendongak.
"Dion..." ucap wanita itu.
Dion tak menjawab.
"makan di kamar aja, ya. Aku malu turun, nggak bisa jalan..." ucap Saras.
Dion tak menjawab. Ia menatap datar ke arah wanita itu.
"aku tidak suka kamarku bau makanan" ucap Dion.
Saras menghela nafas panjang. Lalu mengangguk.
"ya udah, oke..." ucapnya kemudian.
Saras mencoba bangkit. Bersusah payah melawan perih di sekujur tubuhnya sambil berpegangan di lengan kekar sang suami.
Dion diam. Memperhatikan gerakan wanita itu sambil mengangkat satu sudut bibirnya.
"yuk...." ucap Saras yang kini sudah berhasil bangkit dari duduknya.
Dion diam. Matanya fokus pada wajah ayu wanita itu. Ia lantas tersenyum manis, kemudian meraih tubuh ramping itu dan membopongnya keluar dari kamar.
Saras tak bereaksi. Lagi lagi, ia hanya menuruti semua kemauan Dion. Meskipun sebenarnya ia malu untuk keluar kamar. Mengingat badannya kini nampak penuh luka. Bahkan untuk sekedar berjalan pun ia kesusahan.
Dion dan Saras sampai di meja makan. Dimana Malvino sang ayah kini sudah berada disana, ditemani Jason dibelakangnya.
Dion mendudukkan sang istri di salah satu kursi di sana. Wanita itu lantas menunduk. Tak berani menatap ke arah Malvino ataupun Jason. Ia menggerakkan tangannya, meraih rambutnya dan menatanya guna menutupi bekas luka berwarna merah keunguan hasil karya anak tuan gangster.
__ADS_1
Malvino mengangkat satu sudut bibirnya. Begitu pula dengan Jason yang berada dibelakangnya.
"selamat pagi, sayang" ucap Malvino pada sang putra.
Dion tersenyum manis.
"pagi, pa" jawab pria itu.
"bagaimana tidurmu semalam? nyenyak?" tanya Malvino lagi dibarengi sebuah lirikan singkat ke arah Saras yang terus menunduk itu di akhir kalimat nya.
Dion tersenyum simpul.
"seperti biasa" ucap pria itu.
Malvino mengangkat dagunya. Lalu tersenyum simpul.
Pria itu lantas menegakkan posisi duduknya. Lalu merapikan lengan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi itu.
"kalian lanjutkan sarapan kalian. Aku sudah selesai" ucap Malvino.
"iya, pa.." jawab Dion.
Malvino kemudian bangkit. Menatap sejenak ke arah Saras yang nampak penuh luka itu kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Kini hanya ada Saras dan Dion di ruangan itu.
Wanita itu nampak menoleh ke arah sang suami. Dilihatnya disana, piring Dion masih kosong. Ada beberapa lembar roti serta selai dengan varian rasa lengkap disana sebagai menu makan pagi, serta jus dan air putih. Namun tak ada yang Dion sentuh. Padahal itu adalah menu yang tiap pagi ada di atas meja makan. Tapi sepertinya pagi ini, Dion tak berselera untuk menyantap makanan makanan itu.
Saras memiringkan kepalanya menatap wajah tampan pria dua puluh dua tahun itu.
Dion menoleh. Menatap wajah wanita itu lekat lekat.
"mau aku ambilin?" tanya Saras.
Dion diam sejenak.
"aku tidak suka menu sarapan ini" ucap nya.
Saras diam sejenak.
"terus, mau makan apa?" tanya Saras lagi.
"aku mau kopi, tanpa gula" ucap Dion.
Saras diam lagi, lalu mengangguk.
"aku bikinin, mau?" tanya Saras.
Dion diam lagi. Menatap sang istri dengan sorot mata yang sulit di artikan. Lalu mengangguk.
Saras tersenyum.
__ADS_1
"tunggu bentar ya.." ucap wanita itu. Ia lantas bangkit dari posisi duduknya. Berjalan dengan susah payah menuju meja dapur guna membuatkan kopi tanpa gula untuk sang suami.
Saras mulai meracik kopinya. Tiba tiba ........
seeeeetttt....
Sebuah tangan kekar menyentuh kedua sisi pinggang ramping itu dari belakang. Membuat wanita itupun sedikit terjingkat karenanya.
"Dion..." ucapnya.
Dion tak menjawab. Ia mulai memeluk wanita itu dari belakang.
"buatkan saja kopiku. Jangan hiraukan aku" ucapnya berbisik di telinga wanita itu.
Saras tersenyum. Ia pun kembali melanjutkan aktivitas nya.
"habis ini kamu mau ngapain?" tanya Saras mencoba membuka perbincangan.
"memperk*samu" ucap Dion tenang dengan suara dingin, membuat Saras reflek menoleh kaget ke arahnya.
Dion mengangkat satu sudut bibirnya. Saras tertawa kaku. Ngeri kali jawabannya.
"hehe..bisa aja kamu" ucapnya.
Dion tak menjawab. Ia nampak membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, menghirup aroma tubuh Saras dalam dalam.
"kamu nggak kuliah?" tanya Saras pada pria itu.
Dion menghentikan pergerakannya. Ia memiringkan kepalanya menatap wajah cantik wanita itu.
Saras menoleh. Agak takut. Sepertinya ia salah ucap.
"m...maaf..." ucap Saras kemudian menunduk tak berani beradu pandang dengan suaminya. Dion tak bereaksi. Saras meraih sebuah termos air disana, lalu menuangkan air panas itu ke dalam gelas berisi bubuk kopi hitam tersebut.
"aku tidak butuh gelar sarjana. Aku tidak butuh berbaur dengan manusia manusia kep*rat itu..!" jawab Dion dingin dan mengerikan. Saras diam. Lalu mengangguk. Tak berani lagi bertanya tanya.
"oh, oke..." ucap Saras kemudian.
Dion makin mengeratkan pelukannya. Mengecup lembut kening wanita itu.
"cukup diam. Menurut. Dan jangan banyak tanya..! Aku tidak suka dengan orang yang banyak bicara" ucapnya lagi
Saras mengangguk.
"iya, maaf" jawabnya.
...----------------...
Selamat pagi
up 07:08yuk, dukungan dulu 🥰 8
__ADS_1
mampir sini juga ya