Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
98


__ADS_3

Bugghh....!


"Akkhhh...!!"


Tubuh itu kembali jatuh terpentingan keatas lantai kotor itu. Laki-laki gondrong yang baru keluar dari rumah sakit itu nampak meringis. Tubuhnya yang baru saja membaik kini kembali remuk. Ada lebih dari sepuluh manusia di dalam sebuah bangunan lusuh itu. Semuanya sejak tadi bergantian menghajar Gio yang hanya seorang diri.


Gio tak berdaya. Ia seolah sudah tak punya kekuatan untuk melawan para pria-pria berbadan algojo itu.


"Tante, stop, Tante!" ucap Gio yang kini terkapar di atas lantai itu seolah memohon pada wanita cantik yang nampak duduk di sebuah kursi goyang di sana sembari menikmati sebatang rokok di tangannya.


Ya, penculikan sore ini semua adalah atas perintah Maya. Ia bukan hanya menculik Gio, tapi juga Saras dan Ratih yang kini ia ikat di sebuah kursi tak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Saras masih tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang dihirupnya.


Sedangkan Ratih kini sudah terlihat acak acakan. Sejak tadi wanita paruh baya itu dijambak, di tampar, di tendang, dipukul oleh istri dari mantan suaminya itu. Wanita yang tak tahu apa-apa itu seolah menjadi sasaran kemurkaan dan kegilaan Maya. Ia benci Saras dan Ratih. Ia juga tak suka dengan Gio yang dianggap cukup membahayakan untuk Maya itu.


Maya ingin melenyapkan semua orang yang berpotensi mengganggu kebahagiaannya bersama Arkana dan Bharata. Ia tak mau kedua pria itu lepas dari dirinya.


Ya, sebut saja Maya gila. Ia terlalu takut kehilangan dua laki laki itu. Trauma dan dendam di masa lalu menghantui pikirannya. Ia seolah tak mau dicampakkan dan ditinggal untuk kedua kalinya oleh laki-laki yang ia sayangi.


Buughh...!


"Akkhhh..!" pekik Gio yang seolah sudah hampir mati itu.


"Salah gue apa, anj*nk?!!" teriak Gio yang sudah mulai hilang kesabaran itu pada Maya.


Maya yang sejak tadi duduk dengan santainya di atas kursi goyang tersebut kini nampak bangkit. Ia mendekati Ratih yang menatapnya tajam dengan mulut di lakban. Keringatnya bercucuran bercampur dengan air mata.


Maya menggerakkan tangannya, seolah memerintahkan para anak buah yang kini nampak mengepung Gio yang telah terkapar di atas lantai itu untuk sedikit menjauh, memberikan ruang pada pemuda berambut gondrong itu untuk menatap ke arahnya yang kini berdiri tepat di hadapan Ratih dan Saras.


"Kau bertanya pada tante mu ini apa salahmu?" tanya Maya pada Gio. Gio tak menjawab. Maya tersenyum manis. "Salahmu adalah karena kau bodoh!!" ucap Maya.


"Kau bodoh karena kau tidak bisa menghancurkan wanita ini dan membuat Dion gila!" ucap Maya sembari menyentuh rambut bergelombang milik Saras yang nampak tergerai.


Gio tak mengerti. "Apa maksud tante?" tanyanya.


"Asal kau tahu pemuda bodoh, aku sengaja mendekatimu, menghasut mu, dan melindungimu karena aku ingin menggunakanmu sebagai alat untuk membalaskan dendam ku!" ucap Maya dengan sebuah senyuman iblis yang manis namun mengerikan. Ratih yang mendengar itu pun membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


Maya menatap ke arah Gio, Ratih dan Saras secara bergantian. "Aku adalah mantan kekasih dari Malvino, ayah Dion. Aku adalah wanita yang dibuang oleh pria bajing*n itu. Aku dilecehkan olehnya hingga melahirkan seorang anak perempuan namun Malvino tidak mau mengakuinya dan membuangku dengan alasan dia tidak butuh anak perempuan, dia hanya butuh anak laki-laki...!" ucap Maya dengan sorot mata tajam membunuh.


"Aku yang sudah tidak punya apa-apa dicampakkan begitu saja seperti sampah yang tak berguna. Sedangkan si bedeb*h itu, dengan gampangnya ia mencari perempuan lain untuk yang bisa memberikan keturunan laki-laki padanya!"


"Aku kecewa. Aku marah. Aku bersumpah akan menghancurkan hidupnya hingga ke anak cucunya, dengan cara apapun!" ucap Maya mengerikan. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Gio.


"Sebenarnya aku juga ingin berterima kasih padamu, Gio. Karena kebodohanmu yang sudah membully Dion di masa kecil, hal itu memberikan celah untukku untuk bisa masuk ke kehidupan Malvino dan menghancurkan laki-laki itu melalui anak kandungnya. Kau ingat guru baru ber tahi lalat yang dulu datang ke sekolah mu? Yang bak seorang pahlawan datang membela Dion dan melindungi, bahkan sampai merawatnya selama bertahun tahun?" tanya Maya.


Gio diam tak bergerak. Ia menyipitkan matanya, menatap wajah yang cantik dengan senyuman manis namun mengerikan itu. Ya, jika diperhatikan lebih lama, wajah Maya hampir mirip dengan wanita bernama Rihanna mantan guru SD nya dulu.


Gio nampak menggelengkan kepalanya. Apakah Maya yang dikenal baik dan keibuan itu adalah orang jahat yang bersembunyi di balik semua masalah antara Gio, Dion, Arkana, Saras, dan yang lainnya? Maya adalah otak utama atas semua masalah ini!


"Orang itu adalah Tante?" tanya Gio menebak. Maya tertawa sumbang.


"Kamu benar, sayang! Itu aku!" ucap Maya. "Aku adalah orang yang membuat Dion gila. Aku adalah orang yang membuat Dion menjadi seperti sekarang ini! Aku yang menghasut dia, untuk melampiaskan kekesalannya pada orang yang tidak dia suka dengan cara membunuhnya..!! Termasuk pada para pembully-pembully nya terdahulu" ucap Maya pelan seolah mengakui semua dosanya, termasuk sebagai aktor utama perubahan sikap Dion yang dulu periang menjadi pembunuh berdarah dingin seperti sekarang. Ratih menggelengkan kepalanya samar. Gio nampak mengembun. Antara sedih, marah, kecewa dan tak percaya. Jika memang demikian, maka bisa dikatakan Maya juga adalah aktor utama yang menyebabkan terenggutnya nyawa keluarganya. Karena ia yang mencuci otak Dion untuk membalas rasa sakit hati pada orang-orang yang dulu membully pria itu dengan cara membunuh.


"Jadi Tante yang ada di balik semua ini? Apa Tante nggak mikir, secara enggak langsung, Tante sudah mengajarkan pada dion untuk melakukan tindakan kriminal, dan dia menerapkan itu pada keluarga saya. Dia membunuh ayah, ibu dan adik saya, Tante!" ucap Gio tak habis pikir.


"Itu bukan urusanku..! Yang terpenting bagiku adalah kehancuran Malvino. Mau siapa yang di bunuh oleh Dion, aku nggak peduli. Lagian kamu siapa? Apa peduliku pada kamu?" tanya Maya meremehkan.


"Kalian tahu, aku sudah melakukan banyak hal untuk bisa mendapatkan Arkana dan Bharata. Mereka adalah orang orang yang sangat aku sayangi. Sejak awal aku bertemu mereka, aku sudah bertekad bahwa alu akan memiliki mereka seutuhnya dan selamanya. Aku tidak mau ditinggal oleh orang-orang yang ku sayangi untuk yang kedua kalinya!" ucap Maya.


"Sebenarnya hidupku sudah sangat bahagia dengan dua laki-laki itu. Tapi kehadiran dua wanita ini seolah mengusik kebahagiaanku. Kau ingat, Gio, sahabatmu itu pernah kecelakaan dan mengalami amnesia selama bertahun-tahun lamanya, bahkan sampai sekarang ia belum sepenuhnya bisa mengingat tentang masa lalunya. Asal kau tahu, itu semua adalah perbuatan ku, aku yang menukar obat-obat Arka dengan jenis obat tertentu yang mengakibatkan dia kehilangan ingatannya hingga saat ini. Obat yang sama yang juga kuberikan pada diet selama dia tinggal dengan agar dia bisa melupakan wajahku ketika dia sudah dewasa nanti. Kamu tahu apa tujuannya? Agar Arkana bisa melupakan semua masa lalunya. Agar dia melupakan keluarga lamanya. Agar dia melupakan orang-orang yang tidak penting itu dan hanya fokus padaku dan keluarga barunya..!" ucap Maya.


"Awalnya semua baik baik saja, tapi semenjak suamiku bertemu dengan wanita sial*n ini di cafe kalian, mereka berubah! diam-diam mencari tahu tentang keluarga lama mereka. Aku tidak suka. Aku tidak suka suami dan anakku berhubungan lagi dengan keluarga lama mereka. Bharata dan Arkana hanya milikku, dan selamanya akan menjadi milikku. Aku tidak mau ada orang lain yang masuk dalam keluarga kami. Itulah sebabnya kenapa aku ingin sekali membunuh Saras dan melenyapkan keluarga lama Barata dan Arkana, agar tidak lagi manusia yang bisa mengusik kebahagiaanku..!"


"Aku pikir kau bisa ku andalkan. Kau bisa menculik Saras kemudian menghancurkan mental Dion melalui wanita ini. Tapi rupanya aku salah. Kau terlalu bodoh dan tidak bisa diandalkan. Itulah sebabnya aku mengubah strategi ku. Aku ingin melenyapkan kalian semua tanpa sisa. Kau sudah mengetahui semua rahasiaku, maka akan sangat lebih baik jika kau ikut mati bersama dua wanita itu agar posisiku tetap aman. Aku tidak mau jika suatu saat kau membuka mulutmu dan membocorkan semua rahasiaku!" ucap Maya.


Gio menggelengkan kepalanya seolah tak habis pikir. Sungguh, wanita yang licik. Ia rela melakukan apapun demi ambisinya dan kesenangannya sendiri. Memisahkan Arkana dari ibu dan adik kandungnya. Ia mencuci otak Dion hanya demi menghancurkan dan membalas dendam pada mantan kekasihnya. Sungguh, wanita yang dianggap keibuan dan bijaksana itu ternyata memiliki hati yang sangat kotor. Betapa malangnya Arkana dan ayahnya selama ini ditipu habis-habisan oleh Maya. Wanita iblis yang berkedok malaikat. Bermulut manis tapi memiliki hati yang sangat licik.


Iblis yang selama ini menguasai Gio seolah berubah menjadi malaikat dalam sekejap mata. Ia berbisik manis pada pemuda yatim piatu itu. Dalam hati Gio kini ia berfikir, ia harus segera keluar dari tempat tersebut dan memberitahukan pada Arkana betapa busuknya hati seorang Maya. Persetan dengan amarah. Persetan dengan kekecewaan. Persetan dengan dendam. Persetan dengan kebencian. ia harus segera bangkit dan menyelamatkan Ratih dan secara resmi kemudian membawanya keluar dari tempat ini.


Laki-laki yang sudah babak belur itu kemudian mencoba sekuat tenaga mengangkat tubuhnya agar bisa berdiri. Maya menatap angkuh ke arah pemuda itu. Ia kemudian mengangkat tangannya seolah meminta sang anak buah untuk kembali membantai pemuda yang sudah tak berdaya itu.


Lagi, tinjuan, hantaman, pukulan, dan tendangan mendarat di tubuh Gio secara bertubi-tubi. Ratih dengan mulut tertutup lakban nampak mencoba berteriak sambil berontak seolah ingin bangkit dari kursinya.

__ADS_1


Maya berbalik badan, menatap ke arah Ratih dan Saras yang masih pingsan itu dengan sorot mata angkuhnya. Ia berdiri membelakangi Gio yang kini terdengar berteriak kesakitan. Ratih nampak awas. Maya menatapnya buas. Wanita berpenampilan anggun itu kemudian mendekati Saras yang tak sadarkan diri. Diraihnya dagu runcing itu dan ditatapnya paras itu dengan remeh. Wanita itu idola ke arah beberapa anak buahnya yang masih berdiri di sana.


"Kalian butuh pel*cur?" tanya Maya. Ratih melotot. Maya ingin melakukan hal yang tidak tidak pada Saras. Ibu tiga anak itu kemudian berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari ikatan tali yang mengekang tubuhnya.


"Eeemmmhh!!" ucap Ratih dengan mulut tertutup lakban. Maya tak peduli. Ia mengangkat tangannya kemudian menggerakkan jari-jarinya seolah meminta para anak buah untuk mendekat padanya. Para pria berbadan algojo itupun nampak tersenyum penuh kemenangan. Dengan sukacita beberapa pria itu pun mendekat ke arah sang bos besar. Ratih terus berontak. Ia mencoba berteriak namun tidak mampu.


"Buat dia menjadi wanita hina, se hina-hinanya...!" Maya menggerakkan tangannya, meraih kaos Saras dan bersiap untuk mengoyaknya. Namun tiba tiba...


.


.


.


.


DOORR...!!!


.


.


.


.


bersambung 🤭😁


...----------------...


Selamat siang..


up 13.21


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰

__ADS_1


__ADS_2