
Di tepi sebuah danau yang tenang...
"Iya, terimakasih ya, Pak. Sekali lagi saya minta maaf, saya izinnya mendadak," ucap Xena melalui sambungan telepon.
"......"
"Iya, Pak. Sekali lagi terimakasih. Assalamualaikum," ucapnya lagi mengakhiri pembicaraannya dengan kepala perawat tempatnya bekerja.
Xena menyudahi panggilan teleponnya. Ia nampak menghela nafas panjang, lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jaketnya.
Wanita itu lantas berbalik badan. Menatap jengkel ke arah seorang pria yang kini nampak tiduran di atas rerumputan tepi danau itu dengan kedua lengan terlipat sebagai bantalnya.
Xena mendekat. Ia duduk bersila di samping Gio dalam posisi menghadap danau.
"Udah?" tanya Gio tanpa menoleh.
"Hmm," jawab Xena kesal.
Ya, laki laki itu baru saja menculiknya. Gio yang mengambil alih kendali motor Xena justru membawa wanita itu pergi ke danau sepi itu. Ia yang bukan siapa siapa Xena itu tak mengizinkan perawat cantik itu untuk pergi bekerja. Gio yang memang suka memaksa itu meminta Xena untuk tetap berada di sampingnya. Menemani pria yang lagi lagi bonyok di beberapa bagian wajahnya itu untuk bersantai di tepi danau yang tenang tersebut.
Gio bangkit dari rebahannya. Ia duduk bersila tepat di samping Xena. Dirogohnya saku celananya, mengambil sebungkus rokok dan sebuah korek lalu menyalakan benda bernikotin itu kemudian menikmatinya.
Xena diam. Diamatinya paras pria angkuh dengan sejuta sifat menyebalkan dalam dirinya itu.
"Berantem ama siapa lagi kamu?" tanya Xena.
Gio menoleh sembari menghisap cerutunya. Dibuangnya asap rokok itu tepat di wajah Xena membuat wanita itu reflek memalingkan wajahnya sambil terbatuk batuk.
Gio terkekeh.
"Gue lakik. Berantem udah biasa," ucapnya sambil kembali menyesap benda bernikotin itu.
Xena menghela nafas panjang.
"Rokok tuh nggak baik buat kesehatan, Gio. Belum ada satu jam kita disini, udah berapa rokok yang kamu bakar?" tanya Xena sambil melirik beberapa puntung rokok yang tercecer di atas rerumputan hijau itu.
Gio tak menjawab. Xena mendengus kesal.
__ADS_1
"Percuma ngomong ama dia, Xena! Suara kamu cuma dianggep kentut. Didenger doang nggak direspon!" gerutu Xena pelan sembari berbalik badan membelakangi Gio.
Laki laki itu terkekeh lagi mendengar ucapan wanita berhijab itu. Ia menoleh, menatap punggung ramping berbalut jaket coklat yang kini membelakanginya itu.
Xena yang kesal kini nampak melepas jaketnya. Menampilkan seragam perawat berwarna putih miliknya. Wanita itu kemudian meraih satu botol air mineral yang berada di dalam tas ranselnya guna membasahi kerongkongannya. Itu adalah air minum yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
Dibukanya botol berwarna merah muda itu lalu menenggaknya hingga seperempat botol. Namun belum sempat ia menelan habis air itu, tiba tiba...
Seettt...
Uhuukkk!!
Sebuah tubuh tinggi tegap menabraknya dari belakang. Membuat Xena yang tengah minum pun terkejut hingga terbatuk batuk.
"Gio!!" ucap Xena pada laki laki yang kini nampak memeluknya dari belakang itu. Ia memeluk tubuh ramping itu dengan kepala yang ia jatuhkan di punggung ramping milik Xena. Wanita itu mencoba berontak, namun tangan Gio memeluk erat pinggang itu seolah tak mengizinkan Xena menjauh darinya.
"Gioo...!!!" rengek Xena mulai kesal.
"Please, jangan berontak. Gue cuma butuh sandaran," ucap laki laki itu lirih tanpa mengangkat kepalanya. Xena terdiam mendengarkan ucapan Gio. Gerakannya melemah. Gio diam tak bersuara lagi. Namun tangan itu terasa makin erat memeluk pinggangnya.
Xena makin mematung. Suara isak tangis samar samar terdengar. Tetes demi tetes cairan terasa jatuh membasahi punggungnya. Gio menangis. Pelan. Nyaris tak terdengar. Xena menurunkan botol minum ditangannya lalu menutupnya. Ia menunduk. Tak bersuara. Seolah membiarkan Gio selesai dengan air matanya.
Cukup lama, setelah luas menangis, Gio lantas menggerak gerakkan kepalanya. Mengusap air matanya menggunakan ujung hijab putih milik Xena.
Laki laki itu kemudian menegakkan posisi tubuhnya. Menarik nafas panjang, lalu tertawa sumbang. Terlihat menyedihkan.
Xena diam. Entah mengapa ia merasa iba melihat Gio kini.
"Gio," ucap Xena.
Laki laki itu menoleh sambil tersenyum. "Ya," jawabnya.
"Kamu baik baik aja?" tanya Xena. "Kamu nggak kayak biasanya."
Gio terkekeh. "Emang biasanya kayak gimana?" tanya Gio seolah mencoba mencairkan suasana.
Xena diam sejenak. Si keras hati ini sepertinya tengah sedih. Tapi Xena tak berani bertanya lebih banyak ataupun menasehati laki laki itu. Ia terlalu malas berdebat. Karena nantinya pasti Gio akan keukeuh dengan pendiriannya. Ia tak akan mendengar ucapan Xena.
__ADS_1
Wanita itu menghela nafas panjang. Ia lantas menggerakkan tangannya. Menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Xena kemudian celingukan. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah seolah tengah mencari sesuatu.
Gio pun mengernyitkan dahinya. "Cari apa?" tanya Gio.
Xena menoleh. Ia nampak tersenyum.
"Mau ikut aku nggak?" tanya Xena.
"Kemana?" tanya Gio.
"Ikut aja! Yuk..!" ucap gadis itu sembari bangkit dari posisi duduknya. Ia meraih lengan Gio. Mengajak laki laki itu untuk bangkit dan pergi dari tempat tersebut.
Gio hanya menurut. Xena berjalan menjauh dari danau sambil terus menggenggam tangan pria itu.
Hingga...
Gio terdiam. Ia menghentikan langkahnya manakala sampai di pelataran sebuah bangunan dengan kubah besar di atasnya. Xena yang masih menggandeng tangan Gio itu nampak menoleh.
"Ada apa?" tanya Xena.
Gio diam. Ditatapnya wajah gadis muda itu.
"Lu ngapain ngajak gue kesini?" tanya Gio.
Xena tersenyum. "Aku belum Dzuhur," ucapnya.
"Terus ngapain ngajak gue?"
Xena tersenyum lagi. "Kayaknya kamu lagi ada masalah. Aku mau tanya kamu takutnya kamu nggak mau jawab. Mau nasehatin, takutnya nggak sesuai sama pemikiran kamu. Mungkin kalau bantuan dari manusia nggak bisa menolong kamu, mungkin kamu perlu bantuan dari Tuhan," ucap gadis itu tenang.
Gio tak menjawab.
"Kamu muslim, kan?" tanya Xena. Gio mengangguk.
"Ya udah, masuk aja dulu. Ini bengkel hati kalau kata ibu panti. Kantor pusatnya ada di Mekah, tapi cabangnya ada di seluruh dunia. Bukanya dua puluh empat jam. Bisa mengobati apapun penyakit hati yang kamu derita. Masuk, yuk! Coba aja dulu. Kalau ketagihan, balik lagi aja!" ucap Xena sambil tersenyum manis.
Gio tersenyum simpul mendengar ucapan gadis itu. Xena kembali menarik tangan Gio. Membawa pria itu untuk menuju tempat wudhu, dan mengajaknya untuk beribadah di tempat tersebut.
__ADS_1
...----------------...