
Wanita itu kembali naik ke lantai dua setelah mendengar penjelasan dari ayah mertuanya. Saras berjalan dengan berbagai pemikiran di otaknya. Wanita itu menjadi semakin yakin untuk membantu Dion bangkit dari kisah kelam masa lalunya.
Dion hanyalah korban. Korban dari pekerjaan kotor ayahnya, serta korban dari ucapan-ucapan menyakitkan teman-temannya di masa kecil.
Saras sampai di depan pintu kamar nya, dibukanya pintu itu, lalu masuk ke dalamnya. Dilihatnya disana, Dion masih berada di balkon kamar, menyelesaikan lukisannya yang cukup menyeramkan yang sudah hampir rampung itu.
Saras duduk di samping sang suami. Disandarkan nya kepala itu di pundak Dion lalu menatap lukisan menyeramkan yang sudah hampir jadi itu.
"bagaimana menurutmu? lukisanku bagus?" tanya Dion.
Saras nampak tersenyum tipis.
"bagus" jawabnya.
Dion mengulum senyum manis. Saras menggerakkan kedua tangannya memeluk pinggang laki-laki bermata sipit itu.
"Dion..." ucap Saras.
"apa?" jawab laki-laki itu sambil terus menorehkan cat merahnya di atas kanvas.
"aku pengen dibikinin lukisan..." ucap Saras.
Dion menghentikan pergerakannya.
"tapi jangan yang serem..." imbuh wanita itu lagi.
Dion diam sejenak.
"aku tidak punya lukisan yang seram, Saras.." ucap Dion.
Saras diam. Terlihat tenang tanpa melepaskan pandangannya dari lukisan mengerikan di hadapannya.
Saras kemudian menggerakkan kepalanya lagi, meringsut, membenamkan wajahnya di balik ketiak sang suami seolah minta bermanja-manja dengan pria itu.
__ADS_1
Hening sejenak. Lalu.....
"kau mau dibuatkan lukisan apa?" tanya Dion kemudian. Saras yang mendengar ucapan itupun seketika menegakkan posisi duduknya, lalu tersenyum bahagia ke arah sang suami.
"kamu mau bikinin aku lukisan?" tanya Saras.
Dion tak menjawab, hanya senyuman manis yang laki laki itu tampilkan.
Saras nampak berbinar. Dengan gerakan cepat, dipeluknya pria tampan itu dengan erat seolah ingin menunjukkan betapa bahagianya ia. Ia juga seolah ingin menunjukkan, bahwa Saras bahagia memiliki Dion.
Dion mengulum senyum...
"kenapa sepertinya kau senang sekali aku bersedia membuat kan lukisan untukmu?" tanya Dion.
Saras tersenyum mania.
"ya seneng lah. Kan dilukis sama suami sendiri. Tapi aku nggak mau ya, ngelukisnya pakai itu..." ucap Saras tanpa melepaskan pelukannya.
"tapi aku nggak mau dilukis pakai itu..." ucap Saras sembari menggerakkan dagunya menunjuk ke arah sebuah cup di atas meja berisi cairan merah disana.
Dion mengikuti arah pandang Saras.
"kenapa?" tanya Dion.
"Ya nggak mau aja..! aku maunya dilukis pakai cat yang beneran, bukan itu..!" ucap Saras sambil tersenyum manis.
"Aku tidak punya warna cat yang lengkap. Aku suka melukis dengan cat merah ku..!" jawab laki-laki itu kemudian.
Saras tersenyum manis.
"besok kita beli. Besok kan kita pulang.. sambil jalan, kita mampir beli cat yang lengkap. Ya...." jawab Saras lagi.
Dion diam sesaat. Kemudian tersenyum.
__ADS_1
"terserah kamu aja.." jawab laki-laki itu sembari menggerakkan tangannya mengacak-acak lembut pucuk kepala sang istri.
Saras tersenyum bahagia. Ia kembali menggerakkan tangannya memeluk erat pria tampan itu seoah ingin menunjukkan betapa ia sangat bahagia karena Dion bersedia menuruti keinginannya, lagi...
...----------------...
Selamat malam....
up 18:23
yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰🥰
mampir sini juga....
🌾My Fake Daddy🌾
Kisah bermula delapan belas tahun silam. Saat seorang wanita desa terenggut kehormatannya di tangan seorang pria, anak majikan tempatnya bekerja.
Hamil tanpa suami. Tidak dinikahi karena latar belakang sosial dan jodoh sang laki laki yang sudah ditentukan oleh keluarga, membuat si wanita harus rela menanggung beban, melahirkan seorang anak tanpa adanya pernikahan.
Si bayi tumbuh besar tanpa ayah, diusianya yang masih balita ia pun ditinggal pergi sang ibunda untuk selama lamanya.
Delapan belas tahun berselang, si anak bertekad ingin mencari sosok ayahnya karena suatu peristiwa.
Dalam benaknya, di terima oleh sang ayah namun di tolak oleh keluarga besar ayahnya adalah drama yang akan ia temui nantinya.
Namun, rupanya ia salah..!
apa yang akan terjadi padanya?
__ADS_1