Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
40


__ADS_3

Siang menjelang,


Di tepi kolam renang yang berada di belakang rumah megah milik Sang Malvino...


Saras nampak duduk di sana, menyaksikan seorang pria tampan yang nampak asyik menyelami air jernih itu. Bergerak beraturan dari ujung ke ujung kolam yang berisi air jernih dan menyegarkan itu.


Saras tersenyum. Dion bergerak lagi mendekati nya.


"huuuuhhhfff...!" ucap pria itu setelah sampai di tepi kolam, tepat di samping sang istri yang duduk bersila disana. Saras tersenyum. Ia nampak bertepuk tangan ringan seolah memberikan penghargaan atas aksi suami tampan nya itu.


Dion hanya tersenyum. Pria yang sudah banyak kemajuan dalam hidupnya itu lantas mendudukan tubuh tegapnya di samping Saras, ditepian kolam dengan air yang nampak bergerak gerak bekas sapuan tubuh Dion itu.


Saras menggerakkan tangannya. Mengusap usap rambut sang suami dengan handuk kecil di tangannya.


"aku bantuin.." ucap Saras.


Dion hanya menurut. Wanita itu nampak tersenyum lebar sambil terus menggerak gerakkan tangannya di kepala Dion.


Selesai, sudah lumayan kering. Saras diam menatap sang suami yang kini mulai menenggak jus segelas jus jeruk buatan seorang pelayan rumah itu.


"Dion..." ucap Saras.


Laki laki itu menoleh. Ia mengangkat dagunya sambil menyeruput jus jeruk nya.


"lukisan lukisan kamu kemarin, boleh nggak kalau sebagian aku jual" ucap Saras.


Dion menoleh...


"buat apa?" tanya nya.


"ya....biar bisa jadi duit..! masa iya kita di hidupin papa kamu terus. Kan kita udah nikah.." ucap Saras seolah memberi kode agar Dion bersedia untuk keluar dari zona nyamannya.


Laki laki itu sudah sangat dewasa untuk bergantung pada ayahnya. Bukankah tugas seorang suami adalah menafkahi istri dan keluarganya. Tapi sampai saat ini, Saras dan Dion masih makan dari uang Malvino. Ya kalau halal...lah ini hasil ngerampok..!! pikir Saras.


"maksudnya gimana sih?" tanya Dion seolah meminta sang istri untuk lebih gamblang mengungkapkan maksud ucapannya itu.


"ya....maksudnya, kan kita udah nikah. Tugas istri itu ngurus suami. Sedangkan tugas suami, nyari nafkah buat anak dan istrinya. Masa iya kita udah nikah masih minta duit sama papa kamu. Trus entar kalau kita punya anak, masa iya anak kita kalau jajan minta sama kakeknya, kan nggak lucu..!" ucap Saras lagi sebisa mungkin tanpa menyinggung perasaan Dion.


Laki laki itu diam.

__ADS_1


"kamu banyak ngatur ya sekarang" ucap Dion membuat Saras terdiam.


"ya...bukannya gitu. Aku cuma pengen aja, di nafkahin suami. Siapa tau entar lukisan kamu laku keras, trus banyak yang suka, trus kamu jadi pelukis terkenal, kamu bisa nunjukin sama orang orang, siapa Dion sebenarnya...! ya kan...!" ucap Saras memancing semangat sang suami. Siapa tahu dengan ucapannya itu Dion bisa memiliki semangat untuk bangkit dan menunjukkan keahliannya pada dunia luar. Menyalurkan emosi dan kekecewaan nya pada masa lalu dengan hal hal yang positif, bukan dengan membunuh...!


Dion diam. Saras nampak memasang mode memelasnya.


Laki laki itu berdecak kesal sambil memalingkan wajahnya. Entahlah, ucapan ucapan wanita cantik ini selalu saja bisa menggoyahkan iman Dion. Tak bisa untuk ditolak..! bawaannya pengen di turutin mulu😜


Dion membuang nafas panjang.


"terserah kamu..!" ucapnya.


Saras bersorak. Reflek berjingkrak sambil bertepuk tangan. Wanita itu lantas memeluk tubuh Dion. Tak lupa memberikan beberapa kecupan singkat di pipi pria yang nampak basah tubuhnya itu.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah...


"satu ...dua.....tiga.....!!"


krieeettt....


"aaassshhh....****...!" ucap pemuda gondrong itu sembari memukul meja barista nya.


Arkana yang nampak memproses pembayaran seorang pelanggan nampak terkekeh melihat aksi aneh sahabat nya itu.


"hahaha..! gila lu lama lama...!" ucap pria berjambang tipis itu.


Gio nampak berdecak kesal. Seharian ini ia tak begitu fokus bekerja. Sejak tadi ia hanya sibuk bolak balik menatap pintu utama coffee shop. Menunggu kedatangan seorang wanita yang kemarin sempat datang ke tempat usahanya itu guna membeli minuman dingin racikannya.


Ya, Gio menantikan kedatangan Saras. Menunggu wanita itu muncul di hadapannya, lalu ia akan memulai aksi pendekatan nya. Sepertinya Gio mulai tertarik dengan wanita cantik itu.


"mas....matcha coffee nya satu ya...!" ucap seorang wanita berhijab yang baru saja tiba itu.


Arkana tersenyum.


"oke ..tunggu ya, ukhti..." jawab pria itu. Gio menoleh lalu berdecih.


"ciihh...! ganjen banget lu..!" ucap nya sembari melempar lap di tangannya kemudian berbalik badan dan berjalan menuju meja belakang.

__ADS_1


krieeettt....


pintu coffee shop terbuka lagi. Gio berbalik badan lagi.


Lagi lagi pemuda itu nampak kecewa. Bukan Saras yang muncul, melainkan seorang pria matang berkacamata hitam disana, Bharata.


Suami Maya itu mendekat.


"papa..." ucap Arkana yang baru saja bersiap membuatkan kopi pesanan pelanggan nya itu.


"hai...! sibuk nggak?" tanya Bharata.


"nggak terlalu..! ada anak anak kok" ucap Arkana.


Gio yang berada di belakang hanya menatap kearah Arka dan Bharata bergantian.


"ya udah, kita pergi bentar yuk..! titipin aja dulu kerjaan kamu ke Gio.." ucap Bharata.


Arkana mengangguk.


"oke, pa..!" jawab pria berkulit putih itu.


Arkana lantas melepaskan celemek nya. Berjalan mendekati sang sahabat yang berada di bangku belakang, kemudian berpamitan sejenak Gio.


Arkana pun bergegas pergi bersama sang ayah menuju ke suatu tempat yang entah kemana itu. Menggunakan sebuah mobil mewah dengan Bharata sebagai pengemudi nya.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata berbalut kacamata hitam nampak menatap tajam ke arah mobil mereka dari sebuah kendaraan mewah yang terparkir tak jauh dari coffee shop milik Arkana.


Mobil itupun melesat, mengikuti kendaraan mewah yang ditumpangi Arkana dan Bharata.


...----------------...


Selamat siang...


up 10:55


yuk, dukungan dulu 🥰😘😘


mampir sini juga boleh...

__ADS_1



__ADS_2