Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
80


__ADS_3

"Pada mau main bunuh-bunuhan? Kok gue nggak diajak?"


Suara itu berhasil membuat Arkana dan Gio yang sudah babak belur menoleh.


"Selamat malam..." sapa seorang pria tampan dengan hoodie hitam dengan sebuah tongkat baseball berukuran besar di tangannya. Laki-laki itu nampak tersenyum manis, menatap kearah Gio dan Arkana yang sama sama tumbang itu secara bergantian.


Ya, itu adalah Dion. Tanpa ada satu manusia pun yang tahu, diam diam pria tampan itu mengikuti istrinya sejak keluar dari rumah mereka. Dengan mengendarai mobil seseorang diri, Dion diam-diam mengikuti istrinya bermodalkan GPS.


Ya, laki laki itu sudah memiliki firasat tak baik sejak pertama kali membaca pesan dari seseorang yang mengaku sebagai calon pembeli lukisannya itu. Alhasil diam-diam Dion pun mengikuti Saras. Ia sengaja membiarkan Saras pergi sendiri lalu mengikutinya dari belakang. Ia ingin tahu, siapa manusia yang berusaha macam-macam dengan istrinya itu dan apa motifnya.


Dan, disinilah ia sekarang. Dion bahkan sudah sampai di tempat ini sebelum kedatangan Gio dan Arkana. Ia juga mendengar semua pembicaraan dari dua sahabat yang kini tengah berseteru itu. Dion sudah tahu semuanya..!


"Dion?" ucap Arkana yang sudah terkapar di lantai kotor itu. Ia berucap sembari meringis sakit akibat serangan bertubi-tubi dari sahabatnya sendiri. Sedangkan Gio yang kini terduduk di pojok ruangan nampak menatap tajam ke arah musuh besarnya itu.


Dion tersenyum sangat manis, namun tentu saja ada aura yang berbeda dari senyuman pria bermata sipit itu. Ia menggerakkan tangannya, memanggul tongkat baseball nya di atas pundak sebelah kiri lalu berjalan mendekati sang istri yang masih terbaring di atas sofa lusuh itu dalam kondisi setengah telanj*ng.


Dion tersenyum manis. Diamatinya tubuh molek yang hanya menyisakan sebuah br* yang menutupi tubuh bagian atasnya itu.


"Istriku lagi bobok." ucapnya sambil tersenyum manis namun terasa mengerikan.


"Cantik banget..." sambungnya lagi. Dion menurunkan tongkat baseball nya. Lalu meraih kaos oversize merah muda yang nampak sudah tak berbentuk itu. Ia kemudian menggunakan kaos tersebut untuk menutupi tubuh bagian atas istrinya.


Cup..


Dion mengecup lembut kening Saras. Laki laki mantan pasien rumah sakit jiwa itu lantas menegakkan posisi tubuhnya. Ia berbalik badan, menatap ke arah Arkana dan Dion secara bergantian. Gio kini sudah bangkit meskipun dengan tubuh yang sempoyongan. Sedangkan Arkana kini nampak meringsut, menyandarkan tubuhnya di tembok berjamur gudang lusuh itu.


"Lain kali kalau mau main bunuh-bunuhan ajak gua juga." ucap Dion sambil tersenyum. Ia berucap demikian sembari memainkan tongkat baseball di tangannya.


"Gue juga udah lama nggak bunuh orang..!" tambahnya. Ia kemudian melirik sinis dan mengerikan ke arah Gio.


"Jadi, siapa yang mau mati duluan?" tanya Dion.


Gio yang sudah babak belur itu nampak tertawa sumbang. Ia mengangkat satu sudut bibirnya ke atas.

__ADS_1


"Harusnya dia duluan!" ucap Gio sembari menunjuk ke arah Arkana.


"Tapi karena lu ada di sini, mungkin akan lebih baik kalau lu duluan yang mati..!" ucap Gio penuh dendam.


Dion berdecih. Ia menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan Gio.


"Oke..! Ayo kita mulai...! Kita lihat, siapa yang terlebih dulu bertemu dengan Angel..!" ucap Dion sembari tertawa di ujung kalimatnya. Gio yang sudah cukup kelelahan akibat berkelahi dengan Arkana itu kembali mengepalkan tangannya.


"Gue pastiin Angel akan tertawa melihat lu di neraka..!!" ucap Dion dengan seringai mengerikan di wajahnya.


Gio mengepalkan tangannya. Amarahnya kembali memuncak. Laki laki itu berteriak. Dengan sisa sisa tenaga yang ia punya, pria babak belur itu berlari mendekati Dion yang masih dalam kondisi prima. Pertarungan pun kembali terjadi. Dion yang memang sengaja menunggu Gio dan Arkana selesai bertarung itu nampak mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menghajar Gio yang sudah kelelahan. Sebuah trik licik yang Dion gunakan untuk menumbangkan pria yang seolah tidak ada lelahnya mengganggu kehidupan yaitu.


Buughh...


Buughh...


Buughh...


Tinjuan tangan dan tendangan kaki bertubi tubi Dion layangkan untuk Gio. Membuat pria gondrong itupun kini jatuh. Meringkuk di lantai kotor itu sembari meringis merasakan pukulan bertubi-tubi dari Dion yang menggila. Dion seolah ingin melampiaskan kebencian yang selama ini dipendamnya pada Gio. Ia menghajar Gio yang seolah sudah tak punya tenaga lagi itu secara membabi buta.


Saras mulai menggerakkan kelopak matanya. Suara lantang Dion berhasil mengusik tidur panjang nya. Wanita itu pun perlahan membuka matanya. Mengedarkan pandangannya ke segala arah seolah ingin mengumpulkan kesadarannya yang masih jalan-jalan entah kemana. Pusing ia rasakan. Matanya seolah terasa begitu berat untuk segera terbuka. Saras diam. Mencoba mencerna apa yang kini tengah terjadi. Suara keributan dan baku hantam terdengar jelas. Ia masih bingung. Dimana ia sekarang.


Sementara itu, di lantai kotor itu. Arkana si pria malang yang seolah berada di tengah tengah antara Dion, Saras, dan Gio itu perlahan mencoba bangkit. Iya berjalan sempoyongan mendekati Dion yang tengah dalam puncak amarahnya. Sebagai seorang sahabat yang sudah mengenal Gio sejak lama, seolah ada rasa tak tega dalam diri Arkana melihat sahabat yang memang sedang salah jalan itu dihajar habis-habisan oleh Dion.


Arkana susah payah mendekati suami dari adik kandungnya itu. Ia berniat melerai perkelahian agar Gio tak terus-menerus menjadi sasaran kemurkaan Dion.


Buughh....


"Udah...!" teriak Arkana sembari mendorong tubuh tegap Dion. Dengan sisa-sisa tenaganya, pria berjambang lebat yang juga babak belur itu kemudian ambruk, terjatuh tepat di atas tubuh Gio yang sudah tak bergerak.


Arkana menangis. Ia menggerakkan tangannya menyingkap rambut gondrong Gio yang nampak menutupi sebagian wajahnya.


"C*k, bangun...! Gio..!!!" ucap Arkana menangis. Gio sama sekali tak bergerak. Dion menyeringai. Ia puas. Gio sama sekali tak merespon ucapan Arkana.

__ADS_1


"Minggir..!" ucap Dion mengerikan. Arkana menoleh.


"Udah..! Dia udah nggak gerak, anj*ng..!!!" teriak Arkana murka.


"Dia belum mati..!!" jawab Dion.


"GUA NGGAK AKAN NGIJININ LU MATIIN DIA..!! MINGGAT LU, BANGS*T..!!!" teriak Arkana tak terkendali sambil menendang nendang tubuh Dion dengan sisa sisa tenaganya yang sudah tak seberapa itu.


Arkana menangis diatas tubuh Gio. Dion menatap tajam sepasang sahabat yang kini berada di bawah kakinya itu. Lalu....


"Dion..." Suara lirih itu berhasil menyita perhatian Dion dan Arkana. Dion berbalik badan. Dilihatnya disana Saras nampak duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa lusuh itu dengan mata terpejam. Ia meringis, merasakan pusing di kepalanya. Sedangkan tangannya nampak meremas sebuah kaos oversize yang sudah tak berbentuk itu guna menutupi tubuh bagian atasnya.


"Saras" ucap Dion. Dalam hitungan detik, mimik wajah mengerikan yang penuh kebencian itu sirna. Laki-laki itu melepaskan tongkat baseballnya hingga terjatuh ke lantai. Ia kemudian setengah berlari mendekati Saras yang nampak tidak baik-baik saja dan mendudukkan tubuhnya di samping wanita tersayangnya itu.


"Kamu nggak apa apa?" tanya Dion khawatir.


"Pusing" ucap Saras sembari menjatuhkan kepalanya di dada bidang Dion. Arkana yang menyaksikan adegan itu hanya menatap nanar ke arah sepasang suami istri itu. Dapat dilihat dengan jelas Dion yang keras dan mengerikan dalam hitungan detik dapat berubah menjadi lunak dan lembut ketika berhadapan dengan Saras.


Dion melepaskan hoodie hitamnya itu dan mengenakannya pada tubuh sang istri. Membuat pria dewasa berkulit putih itu kini nampak bertelanjang dada. Saras terus memejamkan matanya meskipun ia sudah sadar dari pingsannya. Mata dan kepalanya terasa begitu berat. Ia sangat pusing. Ia malas untuk sekedar mencari tahu apa yang tengah terjadi saat ini.


"Kita pulang ya..." ucap Dion lagi. Saras tak menjawab. Ia hanya mengangguk tanpa membuka matanya. Dion pun dengan segera bangkit dan membopong tubuh ramping wanita itu pergi dari tempat tersebut. Arkana nampak menitikkan air matanya. Ia memanggil nama Saras pelan namun tak digubris baik oleh Saras maupun oleh Dion.





...----------------...


Selamat siang


up 11:45

__ADS_1


yuk dukungan dulu 🥰😘🥰😘


__ADS_2