Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
50


__ADS_3

"Saras.."


Suara itu berhasil menyita perhatian. Bukan hanya Saras tapi juga Ratih dan Adit.



Seorang pemuda berambut gondrong nampak tersenyum lebar ke arah istri Dion itu.


Saras terdiam. Ia mematung tak bergerak dengan mulut terbuka dan mata terbelalak. Ia terkejut melihat kedatangan pria yang beberapa hari terakhir sering menghubunginya, dan berakhir dengan diblokir nya nomor ponsel pria itu oleh Saras beberapa hari lalu.


Ya, itu Gio..! Orang yang paling Dion benci di muka bumi ini.


Saras masih tak bergerak. Kenapa laki laki ini bisa ada di sini? Bisa gawat jika sampai Dion turun dan bertemu dengan Gio. Susah payah ia memulihkan kondisi Dion yang sempat kembali labil, ia tak mau mental Dion terguncang lagi gara gara bertemu pria ini..!


Gio membantu Ratih duduk di salah satu sofa disana. Pemuda yang memang sudah lama menantikan kabat dari Saras itupun lantas mendekati wanita tersebut.


"Saras.." ucap Gio sambil tersenyum.


Saras nampak bingung. Ia sesekali menoleh ke arah lantai dua, takut tiba tiba Dion muncul dan mengamuk.


"Gio..." ucap Saras sedikit gugup, bingung, panik. Semua bercampur menjadi satu.


"Kok lo di sini? Lo kenal sama Bu Ratih?" tanya Gio yang belum menyadari kepanikan Saras. Ia berucap sambil menoleh ke arah Bu Ratih lalu kembali menatap Saras secara bergantian.


"Kak Saras itu kakak gue, kak. Yang tadi gue telfon..!" ucap Adit menyahut.


"Oh ya?" tanya Gio.


"Iya..! Emang kalian udah saling kenal?" tanya Adit.


"Kenal, tapi belum terlalu akrab. Iya kan, Ras?" tanya Gio sambil menoleh ke arah wanita itu.


Saras diam tak menjawab. Gio nampak mengulum senyum kemenangan. Sepertinya Tuhan berpihak padanya. Ia diberi jalan untuk dekat dengan wanita bidikannya yang begitu sulit ia dekati itu. Pikir Gio.


"Jadi lu anaknya Bu Ratih?" ucap Gio lagi. Wanita itu tak menjawab. Ia terlihat pucat. Bingung. Panik. Tak tahu harus berbuat apa.


Ya, Gio memang sudah cukup dekat dengan Ratih dan Adit. Bahkan laki laki itulah yang tadi menolong Ratih saat wanita paruh baya itu jatuh tersungkur di tanah saat sebuah sepeda motor menyerempetnya. Gio bahkan berusaha mengejar motor itu, namun si pengendara sudah terlebih dulu kabur.


Gio yang masih berdiri di hadapan Saras itu nampak asyik ngobrol dengan Adit dan Bu Ratih. Sedangkan Saras dari tadi nampak sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Saras..! Lu kenapa sih? Dari tadi diem mulu?" tanya Ratih.


"Iya lu..! Makasih kek ama kak Gio. Dia udah nolongin emak lu..!" ucap Adit.


Saras nampak menggelengkan kepalanya samar. Ia menoleh ke arah Gio.


"Gue perlu ngomong sama lo..!" ucap Saras kemudian melirik sekilas ke lantai dua.


"Ngomong apa?" tanya Gio.


Saras tak menjawab. Diraihnya lengan pemuda itu lalu menariknya keluar rumah. Ratih dan Adit terdengar memanggil manggil nama Saras namun wanita itu tidak peduli.


"Ras, kita mau ngapain? Lu mau bawa gue kemana?" tanya Gio. Saras tak peduli. Ia tak menjawab. Ia terus menarik tangan Gio. Setengah berlari membawa pria itu menuju gerbang rumahnya sambil sesekali menoleh ke arah balkon kamarnya.


"Saras...! Lu kenapa sih?!" ucap Gio tak mengerti.


Saras tak peduli.

__ADS_1


"Saras..!!"


buughh....


Laki laki itu menghempaskan tangan Saras tepat saat keduanya berada di depan gerbang rumah megah itu.


"Lu kenapa sih?!" tanya Gio.


Saras nampak bingung. Ia kembali menoleh ke arah balkon kamarnya. Gio pun mengikuti arah pandang wanita itu.


"Lu kenapa? Ada apa?! Lu mau ngomong apa?!" tanya Gio.


Saras menoleh ke arah pria itu.


"Gio, gue minta tolong sama lo. Tolong pergi dari sini..!" ucap Saras mencoba meminta Gio pergi dari rumahnya tanpa menyakiti hatinya.


Gio mengernyitkan dahinya.


"What?!" tanyanya tak mengerti.


Saras kembali menoleh ke arah balkon kamar. Kepanikan itu terlihat jelas di wajah Saras.


Gio tertawa getir.


"Lu ngusir gue? Salah gue apa?!" tanya Gio tak mengerti. Saras menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu mengusapkannya hingga ke belakang kepala. Ia benar benar frustasi. Yang ia pikirkan hanya kesehatan mental Dion. Hanya itu. Tidak lebih..!


"Ras..!!" ucap Gio yang seolah ikut bingung melihat tingkah Saras. Tangannya tergerak hendak menyentuh pundak wanita itu namun Saras dengan cepat mundur seolah mengelak.


"Gio, gue nggak bisa jelasin apapun sama lo. Tapi gue mohon, pergi..! Please..!" ucap Saras.


"Lu kenapa sih? Kenapa lu nyuruh gue pergi? Ada siapa di kamar itu? Cowok lo? Lo takut gue ketemu ama dia? Siapa sih dia? Ada masalah apa dia ama gue sampai sampai lo nekat ngusir gue..?!" tanya Gio.


Saras tak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya samar. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia adalah istri dari Dion, mantan pacar adiknya yang sudah meninggal. Laki laki anak seorang mantan narapidana yang pernah ia bully habis habisan hingga berujung rumah sakit jiwa. Hanya akan menjadi masalah baru jika sampai ia mengatakan hal tersebut pada Gio. Mengingat mungkin dendam diantara keduanya masih sama-sama membara. Saras ingat ucapan Dion. Gio pernah mencurigai laki-laki itu pasca terbunuhnya Angel. Gio bahkan sempat menghadang mobil yang Dion tumpangi dan mengajar suami Saras itu. Namun semua tuduhan itu mental, lantaran tak satu pun bukti yang mengarah pada Dion.


Ingat kan, Dion pernah menulis kejadian pemukulan itu di buku hariannya yang sempat Saras baca sebelum mereka menikah?


Gio menatap Saras dengan sorot mata menelisik.


"Nomor gue lu blok. Lu nggak ada kabar. Lu nggak pernah muncul lagi di hadapan gue. Dan sekarang lu ngusir gue tanpa alasan. Katanya lu mau ikut pameran, tapi lu kayak nggak niat........."


"Gue batal ikut pameran..!" ucap Saras tegas memotong ucapan Gio.


Laki laki itu diam seketika.


"Lagian kita kenal juga cuma sebatas pembeli dan penjual di coffee shop lo, kan?"


"Gue udah punya suami. Gue udah menikah. Dan lukisan lukisan itu adalah milik suami gue. Dia ngelarang gue ikut pameran yang lu buat..! Puas?!" ucap Saras tegas.


Gio diam tak bergerak. Padahal baru saja ia hendak melakukan pendekatan pada wanita itu, tapi kini Saras justru mengatakan bahwa ia sudah bersuami. Harapannya layu sebelum berkembang.


"Sekarang gue mohon, lu pergi dari sini..! Suami gue nggak suka ada laki laki asing masuk ke rumahnya tanpa tujuan yang penting..!" ucap Saras tegas.


"Terima kasih udah nolongin ibu gue.." imbuhnya. Ia kemudian menggerakkan tangan putihnya. Membuka pintu gerbang rumah itu seolah mempersilahkan Gio untuk keluar. Dalam hatinya ia mengucap ribuan kata maaf untuk Gio. Bukan bermaksud menyakiti, menyinggung atau tidak menghargai pertolongan laki laki itu. Tapi menurut Saras, ini adalah cara terbaik, daripada terjadi hal hal yang tidak diinginkan nantinya.


Gio mengangkat dagunya. Pemuda yang memang memiliki sifat urakan itu nampak tersinggung dengan ucapan dan tindakan Saras yang berani mengusirnya. Ditambah lagi dengan patah hati yang kini ia rasakan lantaran mengetahui kebenaran bahwa rupanya wanita itu sudah bersuami. Dan Saras melakukan pengusiran itu demi membahagiakan suami. Sungguh, Gio merasa harga dirinya di injak injak oleh wanita itu.


Gio tersenyum smirk. Ia mengusap keringat di bawah hidungnya.

__ADS_1


"Oke..! Gue pergi..! Gue juga nggak sudi lama lama di sini..!" ucap Gio kesal. Ia lantas berbalik badan. Berjalan beberapa langkah keluar dari gerbang rumah itu. Namun tiba tiba....


Gio membungkuk. Mengambil sebuah bongkahan batu disudut taman lalu dengan gerakan cepat ia berbalik badan dan melemparkan batu itu ke arah balkon kamar yang sejak tadi menjadi pusat perhatian.


"GIO...!!!!!" pekik Saras sambil mendorong tubuh pria itu. Membuat lemparan batu itu meleset. Hanya mengenai besi pembatas balkon.


"KELUAR LU ANJ*NK..! BANGS*T..!!" teriak Gio menantang laki-laki yang kini telah beristirahat di dalam sana.


"Gio, cukup...!!! Sinting lu ya...!" ucap Saras murka.


Gio tak menjawab. Ia menatap Saras dengan sorot mata penuh kekesalan. Netra kedua manusia itu saling beradu dengan sorot mata tajam.


"Gue minta lu pergi sekarang..! Tolong jangan bikin onar di sini, gue nggak mau ada keributan..!" ucap wanita itu sambil mengangkat lengannya menunjuk ke arah luar. Gio makin panas.


"Pergi..!" ucap wanita itu lagi dengan suara meninggi.


Dada laki-laki itu bergerak naik turun. Ia menatap tajam ke arah wanita berkacamata bening tersebut.


Cuuiiihhh....


Gio meludah. Ia lantas berbalik badan. Menendang gerbang besi tinggi itu lalu pergi dari tempat tersebut.


Saras memejamkan matanya.


"Sorry, Gio. Gue harap ini nggak akan menjadi masalah..! Gue cuma mau melindungi suami gue..!" ucap wanita itu seorang diri.


Saras mengusap setitik air mata di pipinya, kemudian berbalik badan dan masuk kembali ke dalam rumahnya.


Tanpa ia sadari, tak jauh dari tempat itu, dua orang pria nampak mengamati pergerakan Saras dari dalam sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari rumah megah itu. Adegan keributan kecil antara Saras dan Gio terekam sempurna di sebuah ponsel milik salah satu pria berpakaian preman tersebut. Pria itu lantas mengirimkan rekaman video itu ke sebuah yang dinamainya 'Bos Besar'.


drrrrttt.... drrrrttt......


Bos Besar..


Memanggil...


Laki-laki itu lantas mengusap tombol hijau pada layar ponselnya, lalu menempelkan benda pipih itu di telinga sebelah kanannya.


"Halo, bos" ucap pria itu.


"Cari kesempatan, dan bunuh wanita itu secepatnya..!" ucap seseorang dari seberang sana dengan gigi yang mengetat.


Laki laki itu mengangkat dagunya.


"Segera saya lakukan, bos..! Asalkan bayarannya sesuai..!" jawab pria itu.


Seseorang itu nampak mengangkat satu sudut bibirnya.


"Aku bukan orang miskin yang tidak mampu membayar preman bodoh sepertimu...!" ucapnya kemudian mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


...----------------...


Selamat malam...


up 18:03


yuk, dukungan dulu 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2