Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
134


__ADS_3

Malam menjelang, di sebuah kamar mewah milik Dion dan Saras. Wanita hamil yang kini hanya menggunakan sport bra hitam dan celana dal*m berwarna senada itu nampak merebahkan kepalanya di atas perut sang suami. Tangannya nampak asyik bermain main, menyentil sebuah benda panjang yang masih tergolek lemah di hadapannya seolah meminta benda itu untuk bangkit dari tidur panjangnya.


"Dedek, liat, ini alat utama pembuatan kamu. Bahan dasarnya ada di dalamnya," ucap Saras sedikit nyeleneh. Dion yang mendengar ucapan wanita itu nampak terkekeh dibuatnya.


"Kalau cetakannya, ada di dalam perut mama, tempat kamu tinggal sekarang. Baik baik disitu ya, jadi anak cakep," tambahnya.


Dion hanya tersenyum. Ia menggerakkan tangannya mengusap usap pucuk kepala sang istri yang terus bicara sendiri sembari memainkan pusaka kebanggaannya.


"Saras," ucap Dion.


Wanita itu memutar kepalanya, menoleh ke arah sang suami.


"Apa?" tanyanya.


"Kamu tahu, nggak?"


"Enggak!" jawab Saras memotong ucapan sang suami. Dion tak menjawab. Ia hanya menatap datar ke arah sang istri, membuat Saras pun terkekeh dibuatnya.


"Iya, iya, bercanda!! Apa?!" tanya Saras pada sang suami akhirnya. Dion kembali menggerakkan tangannya mengusap usap pucuk kepala Saras.


"Kamu tahu nggak, tadi pada saat kita duduk di bangku bertiga sama pacarnya si gondrong itu. Dia diam-diam mencuri pandang ke aku. Wanita itu diam-diam melirik ke arah aku, tapi ketika aku lihat balik, dia terus nunduk," ucap Dion menceritakan gelagat aneh yang ia dapati dari Xena pada Saras, membuat wanita itu nampak mengernyitkan dahinya.


"Ngapain kayak gitu? Jangan bilang dia naksir suami aku, ya?" ucap Saras sewot.

__ADS_1


"Nggak gitu juga, sayang!" ucap Dion. "Aku sempat ngasih tahu itu sama pacarnya. Dan kamu tahu nggak apa jawabannya?" tanya Dion.


"Apa?" tanya wanita hamil itu.


"Dia minta aku tanya sama Papa," ucap Dion.


Saras makin penasaran. Ia mengubah posisi tubuhnya. Memiringkan tubuh dengan perut buncit itu menghadap ke wajah Dion.


"Kok papa kamu?" tanya Saras.


Dion diam dia nampak menggelengkan kepalanya. Itu merupakan sebuah pertanyaan yang sejak tadi menggelayut di dalam dirinya. Mengenai ucapan Gio sebelum laki laki itu pergi meninggalkannya tadi.


Ingin rasanya ia segera bertanya pada Malvino. Tapi sayang, sang ayah kini sedang tidak berada di rumah. Dia sedang berada di luar negeri saat ini. Sedangkan ponselnya sejak tadi tidak bisa dihubungi. Begitu juga dengan ponsel Jason, anak buah Malvino.


Saras bangkit dari rebahannya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang suami dan memeluk tubuh tegap itu.


"Apa?" tanya laki laki itu.


"Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya Saras.


Dion menoleh. Ia lantas memiringkan tubuhnya, saling berhadapan dengan istri tercintanya itu.


"Apa?" tanya Dion.

__ADS_1


"Andai Papaku, dan Tante Maya pulang, apa kamu mau menemui mereka? Dan memaafkan Tante Maya seperti kamu memaafkan Gio?" tanya Saras.


"Aku tidak pernah bilang jika aku memaafkan Gio," ucap Dion.


Saras diam.


"Dia yang datang padaku. Dia yang meminta maaf. Aku belum menjawab, tapi dia sudah pergi," ucap Dion.


Saras tak menjawab.


"Jika kamu tanya apakah aku akan memaafkan wanita itu, maka jawabannya sama seperti saat kamu bertanya apakah aku akan memaafkan Gio. Aku tidak pernah berbuat salah sama dia. Jika harus ada yang meminta maaf, makan yang harusnya yang meminta maaf adalah Papa dan wanita itu. Papa meminta maaf pada wanita itu, dan wanita itu meminta maaf padaku. Itu baru benar!" ucap Dion.


Saras tak menjawab. Dion menggerakkan tangannya membelai rambut panjang sang istri.


"Sayang, dari semua yang pernah terjadi padaku, sejak aku kecil hingga sekarang aku bertemu kamu, aku mengambil banyak pelajaran. Seperti yang kamu bilang, trauma ada bukan untuk diratapi, tapi untuk dilawan. Pembully ada bukan untuk ditakuti, tapi untuk dibungkam. Dengan kemampuan, bakat, dan sesuatu yang kita miliki dan tidak pernah mereka miliki."


"Orang yang biasa merendahkan orang lain, biasanya hidupnya juga tidak lebih baik dari orang yang dia rendahkan."


"Sebagai seorang yang pernah dihina dina dulunya, aku tidak mau terus terpuruk. Aku mau bangkit, karana aku sudah menemukan kekuatan untuk bangkit. Aku menemukanmu. Perempuan yang datang dalam hidupku dan bisa menerima diriku dengan segala kekuranganku. Hanya kamu wanita yang mau menikah dengan pria gila ini. Dengan sabarnya membantuku untuk bangkit melawan traumaku di masa lalu. Mengajakku berdiri tegak menghadapi dunia luar yang tidak selamanya jahat. Kamu yang mengubah pola pikirku. Kebahagiaan bisa didapat dengan cara yang sederhana. Kebahagiaan bisa didapat tanpa harus menyakiti orang lain. Kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakannya."


"Saras, terima kasih sudah mau menjadi pendamping bagi orang gila ini. Terima kasih sudah mau mengerti dan menerimaku dengan segala kekuranganku. Sabar menghadapiku, dan selalu meyakinkan aku bahwa aku bisa bangkit dan hidup normal selayaknya manusia pada umumnya. Terimakasih, sudah hadir dalam hidupku!" ucap laki laki itu begitu tulus membuat Saras pun menitikkan air matanya.


Dion menggerakkan kepalanya, mengecup kening sang istri dengan lembut. Keduanya lantas berpelukan dengan hangat. Dion mendekap tubuh wanita pujaannya itu.

__ADS_1


Sungguh, ia benar-benar berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengirimkan obat sekaligus perawat terbaik untuk mengobati traumanya di masa lalu.


...----------------...


__ADS_2