Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
92


__ADS_3

Malam menjelang...


Di sebuah kamar mewah milik Saras dan Dion. Laki-laki tampan itu nampak kembali menghela nafas panjang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun hingga detik ini ia belum juga memejamkan matanya. Jangankan memejamkan mata, naik ke ranjang saja pria itu tak diizinkan. Tempat tidur luas itu kini dikuasai oleh si ibu hamil yang nampak menangis itu. Wanita cantik berkacamata bening itu nampak merajuk. Ia menangis sembari menggerak gerakkan kakinya menendang nendang udara. Sedangkan bibirnya sejak tadi nampak bergerak-gerak, menggerundel dengan air mata yang setitik dua titik nampak menetes dari pelupuk matanya.


Wanita itu bersungut. Ia ngambek pada suaminya yang tak mengizinkannya untuk pergi ke rumah ibundanya hari ini. Padahal ia sangat rindu pada wanita paruh baya itu. Ia juga ingin mengabarkan pada ibunya bahwa ia tengah berbadan dua sekarang. Mengingat sejak pertama kali ia mengetahui kehamilannya hingga saat ini ia belum sama sekali bertemu dengan Ratih dan Adit. Dion selalu melarangnya untuk keluar rumah dengan alasan keamanan.


Dan puncaknya hari ini, sejak siang tadi, Saras merengek minta diantar ke rumah ibunya, namun lagi lagi Dion melarangnya dengan alasan yang sama, keamanan!


Saras bahkan sampai marah-marah. Sejak siang ia mengacuhkan suaminya. Tak bertanya, tak menyapa, didekati menjauh, diajak ngobrol melengos, hingga puncaknya malam ini Saras sampai menangis, minta diantar kerumah Ratih.


Dion kembali menghela nafas panjang. Laki laki yang sudah bertelanjang dada itu lantas berjalan mendekati ranjang tempat dimana sang istri tengah merajuk.


"Saras...." Ucapan itu terpotong.


"Bodo amat!" ucap wanita hamil itu sembari berbalik badan, memalingkan wajahnya sambil memeluk guling disana. Dion menghela nafas panjang.


"Udah dong, jangan ngambek" ucap Dion. Saras berbalik badan lagi.


"Ya abisnya kamu jahat! Aku cuma mau ketemu sama ibuk nggak dibolehin..!" rengek wanita hamil itu.


Dion menghela nafas panjang. Ia menatap datar ke arah sang istri.


"Ini demi kamu, Saras!" ucap Dion.


"Tapi....."


"Udah!" potong Dion dengan tegas. Saras nampak menyibikkan bibirnya. Setitik air mata wanita itu menetes. Emosinya sebagai ibu hamil memang kurang stabil. Membuatnya lagi lagi menangis setelah mendengar ucapan tegas dari suaminya.


Dion menghela nafas lagi. Ia kemudian meringsut. Duduk bersandar di sandaran ranjang itu. Tepat di samping sang istri yang kini nampak tidur miring membelakanginya. Dion menatap punggung Saras.


"Saras," ucap Dion. Dion tak menjawab. Hanya suara sesenggukan yang terdengar dari mulut istri cantiknya itu.


"Ada yang mau aku ceritain sama kamu. Ini soal kamu, dan keluarga kamu" ucap Dion pada akhirnya. Saras menghentikan tangisannya. Ia kemudian menggerakkan kepalanya menoleh ke arah sang suami secara perlahan.


"Apa?" tanya Saras kemudian. Dion menoleh, lalu tersenyum simpul.


"Duduk dong. Biar enak ngobrolnya. Ada sesuatu yang pengen aku bicarain sama kamu" ucap Dion pada sang istri. Saras mengusap lelehan air matanya. Ia kemudian bangkit, duduk bersila di samping sang suami, bersiap untuk mendengarkan pembicaraan laki-laki berparas manis itu.


Dion tersenyum. Ia menegakkan posisi duduknya. Satu tangannya tergerak mengusap lelehan air mata di pipi sang istri.

__ADS_1


"Sekarang cengeng" ucap Dion.


"Ya kamu nya gitu! Mau ke rumah ibuk aja nggak boleh!" rengek Saras lagi hendak kembali menangis. Dion terkekeh. Diacak-acak nya rambut sebahu sang istri.


"Iya, iya, maaf!" ucap laki-laki itu. "Ada sesuatu yang pengen aku omongin dulu sama kamu sebelum membahas tentang keinginan kamu itu" sambung Dion.


Saras memiringkan kepalanya.


"Apa?" tanya lagi. Dion tersenyum.


"Tapi janji, kalau aku ngomong ini semua kamu nggak boleh marah. Aku melakukan ini karena aku nggak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi sama kamu. Aku nggak mau ada orang yang berusaha mencelakai kamu lagi. Karena diluar sana, ada beberapa orang bodoh yang tidak suka dengan kepada kebahagiaan kita" ucap Dion. Saras nampak menyipitkan matanya.


"Kamu mau ngomong apa sih?" tanya Saras. Dion menghela nafas panjang. Laki-laki itu kemudian memulai ceritanya. Ia memilih untuk buka suara. Menceritakan semua yang terjadi pada sang istri. Mulai dari aksinya yang diam-diam mengikuti Saras saat wanita itu membuat janji temu dengan seseorang yang mengaku sebagai pembeli lukisannya, dan berakhir dengan Dion yang tiba di sebuah gudang lusuh tempat di mana Saras diculik oleh orang orang suruhan Gio dan Arkana (menurut pemikiran Dion).


Dion menceritakan semuanya. Mulai dari perkelahian hingga sebuah pembicaraan antara Arkana dan Gio yang tidak sengaja dia dengar. Tentang pengakuan Arkana bahwa rupanya Saras adalah adik kandung dari Arkana.


Selama menikah dengan Dion, Saras tidak pernah menyinggung soal keluarganya. Dion juga tidak pernah bertanya akan hal itu. Yang Dion tahu, Saras adalah seorang wanita yang bekerja di tempat liburan malam. Saras ditawari untuk menikah dengan Dion oleh Malvino. Laki laki itu tidak pernah mempermasalahkan soal status Saras ataupun latar belakang wanita itu. Yang terpenting bagi Dion adalah menikahi Saras nya, bukan keluarganya.


Tapi setelah mendengarkan pernyataan dari Arkana, kini Dion seolah mulai dibuat penasaran tentang siapa Saras sebenarnya. Maka malam ini dia pun mulai memberanikan diri untuk bertanya pada Saras tentang silsilah keluarganya. Apa benar ia pernah terpisah dengan ayah dan kakak kandungnya?


Saras diam sejenak. Ia cukup terkejut mendengar pernyataan dari Dion itu.


Dion diam.


"Ibu sama bapak kandung aku pisah waktu aku masih bayi, dan kakak aku umur lima tahun. Kakak ku ikut bapak, aku ikut ibuk karena waktu itu aku masih butuh ASi. Setelah itu ibu nikah sama bapak tiri aku dan lahirlah Adit. Kita udah nggak pernah berhubungan lagi sejak saat itu. Tapi kata ibu, yang ibu tahu bapak sudah menikah lagi lima tahun setelah berpisah dari ibu. Tapi kita nggak tahu istrinya yang mana" ucap Saras. Dion diam.


"Dion" ucap Saras. "Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" imbuh wanita itu lagi. Dion menatap datar ke arah sang istri.


"Apa?" tanyanya.


"Kenapa kamu nggak jujur sama aku? Kenapa pakai di rahasiain? Kenapa kamu sampai blok nomornya Adit segala? kenapa?" tanya Saras. Dion diam sejenak.


"Ada banyak orang jahat di sekitar kita" ucap laki laki itu.


"Arkana adalah sahabat manusia biad*p itu. Kamu tahu siapa mereka. Mereka orang jahat!" ucap Dion dengan baik wajah serius.


"Arkana itu nggak jahat. Kan aku udah pernah bilang sama kamu" ucap Saras.


"Kenapa kamu ngeyel? Nggak ada orang baik disekitar manusia kep*rat itu, Saras!" ucap Dion mulai memburu. Ia selalu marah dan penuh emosi ketika berbicara mengenai Gio.

__ADS_1


"Tapi kalau Arkana itu kakakku, berarti itu artinya aku berhak tahu, kan" ucap Saras.


"Keselamatanmu lebih penting, Saras!" ucap Dion.


"Dion, nggak semua orang diluar sana itu jahat. Masih banyak orang baik di dunia ini" ucap Saras mencoba membunuh pikiran negatif yang selalu bergelayut di otak sang suami.


"Dion, orang baik itu ada. Nggak Semua orang punya niat buruk sama kita. Lagi pun, kalau ada yang punya niat jahat sama aku, kan ada kamu. Kamu pasti akan melindungi aku, kan? Kamu kan hebat. Pinter lagi. Buktinya kamu punya feeling kalau aku bakal dijebak. Dan akhirnya kamu ngikutin aku sampai ke gudang itu." Saras tersenyum. Diraihnya punggung tangan sang suami dan digenggamnya dengan erat.


"Mulai sekarang, kurang-kurangin ya berfikir negatif tentang orang lain. Nggak semua orang luar itu jahat seperti orang-orang di masa lalu kamu. Sebagian juga ada yang baik, kok. Lagian kamu kan sayang sama aku. Masa iya kamu mau misahin aku dari keluargaku? Aku nggak mau sayang" ucap Saras dengan wajah memelas di akhir kalimatnya. Dion diam sejenak.


"Aku nggak bermaksud memisahkan kamu dari siapapun!" ucap Dion. Saras tersenyum manis.


"Makasih ya, udah punya inisiatif untuk melindungi aku dari orang-orang jahat. Aku paham banget maksud kamu. Tapi, untuk melindungi orang yang kita sayang, kita tidak harus menyembunyikan fakta tentang dia. Untuk melindungi seseorang yang kita sayang, tidak harus dengan cara memisahkan dia dari orang-orang yang berhak untuk dekat dengannya. Itu namanya egois, sayang. Enggak boleh lagi ya kayak gitu." ucap Saras.


"Walaupun aku nggak pernah ketemu sama bapak dan saudara kandung aku, tapi jauh dari dalam lubuk hati aku, aku tuh juga kangen sama mereka. Aku juga pengen ketemu sama mereka." tambahnya.


"Mereka orang baik kok. Aku yakin itu. Mereka ayah dan saudara kandung aku. Aku yakin mereka nggak akan berbuat jahat sama adik dan anak perempuannya sendiri."


"Sama kayak papa kamu. Meskipun dia penjahat di mata orang, tapi dia selalu sayang sama kamu sebagai putranya." ucap Saras panjang lebar. Ia lantas mengusap usap lembut punggung tangan itu.


"Selalu ada sisi baik dan buruk di setiap diri manusia. Mulai sekarang, jangan suka berpikiran negatif, ya. Nggak semua orang sejahat yang kamu pikir, Dion" ucap Saras pada sang suami seolah menasehati seorang bocah. Memang perlu pendekatan dan kesabaran khusus untuk menghadapi laki-laki dengan sebuah luka trauma seperti Dion. Saras harus pandai-pandai menjaga emosi dan memilah-milah kata untuk memberikan penjelasan pada laki-laki yang bisa dikatakan tidak sepenuhnya normal dalam pola pikirnya itu.


Dion mengangguk. Ia tersenyum.


"Besok kita ke rumah ibu kamu. Arkana nginep di sana sejak beberapa hari terakhir" ucap Dion. Saras nampak berbinar.


"Beneran?" tanya Saras.


Dion mengangguk. Wanita hamil itu nampak berbinar. Dengan gerakan cepat ia pun memeluk erat tubuh laki-laki itu kemudian menciumi pipi Dion berkali-kali dengan penuh semangat.


"Makasih, papa" ucap Saras manis. Dion terkekeh. Sepasang suami istri itu pun kembali larut dalam suasana hangat yang mereka ciptakan sendiri.


...----------------...


Selamat malam


up 20:30


yuk, dukungan dulu 🥰

__ADS_1


__ADS_2