Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
93


__ADS_3

Hari berganti, saat pagi menjelang. Pria tampan berjambang tipis itu nampak berjalan menuruni tangga rumah mewahnya. Dengan sebuah ponsel di tangannya, ia melangkah menuju meja makan tempat dimana sang ibu sambung berada.


"Pagi, Ma" sapa Arkana pada Maya yang sudah menunggu di meja makan. Wanita itu sudah terlihat cantik dan rapi. Ia yang sudah menunggu di meja makan pun lantas menoleh ke arah Arkana yang baru tiba.


"Oh, hai, sayang" jawab Maya manis. Arkana mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi disana. Sedangkan Maya kini bangkit, mengisi piring kosong itu dengan makanan yang tersaji di atas meja.


Ya, sebut saja selama ini Arkana jauh beruntung jika dibandingkan dengan Saras. Meskipun hanya anak sambung tapi Maya benar benar sangat menyayangi anak kandung Ratih itu meskipun dengan caranya sendiri. Ia mendapatkan makanan, kehidupan, serta pendidikan yang amat layak, serta bekal agama yang cukup dari ayahnya. Jauh berbeda dengan Saras yang sejak kecil sudah harus banting tulang dan hidup berdampingan dengan dunia kriminal lantaran memiliki orang tua yang berkecimpung di dunia perjudian dan alkohol. Saras bahkan harus rela bekerja di sebuah tempat hiburan malam hanya demi mendapatkan uang.


Sungguh, sebuah kehidupan yang sangat berbeda antara sepasang kakak beradik itu.


"Makan yang banyak!" titah Maya sembari mendudukkan tubuhnya kembali. Arkana hanya tersenyum. Maya dan Arkana pun lantas mulai menyantap sarapan pagi mereka berdua. Sedangkan Bharata, pria itu sedang tidak berada di rumah saat ini. Ia sedang berada di luar kota mengurusi bisnis bisnisnya. Ya, sesibuk itulah seorang Bharata kini. Membuatnya sangat jarang bisa berkumpul bersama anak dan istrinya.


"Oh ya, papa besok pulang kan, Ma?" tanya Arkana.


"Iya, sayang" jawab Maya. Pemuda berkulit putih itu nampak menghentikan pergerakannya sejenak, lalu menoleh ke arah sang mama.


"Ma," ucap Arkana.


"Ya.." jawab Maya.

__ADS_1


"Mama mau nggak, besok ikut aku?" tanya Arkana. Maya menoleh sejenak.


"Kemana, Ka?" tanya Maya.


"Aku mau ngajak Mama ketemu sama ibuk." Arkana menatap penuh harap ke arah sang ibunda. Maya nampak diam sejenak.


"Untuk apa?" tanya Maya. Arkana nampak tersenyum.


"Enggak. Aku pengen Mama sama ibu bisa mengenal lebih jauh aja. Biar lebih dekat. Soalnya selama ini kan, Mama sama ibuk nggak pernah ketemu langsung. Biar gimanapun, Mama sama ibu adalah orang tuaku. Mumpung besok papa ada di rumah, gimana kalau kita pergi berempat? Mama mau, kan?" tanya Arkana. Maya diam sejenak. Menatap diam ke arah sang putra


Arkana menggerakkan tangannya meraih punggung tangan sang ibu.


"Ka, Mama nggak masalah, kok. Asalkan kamu bahagia, Mama juga ikut bahagia. Karena yang terpenting bagi Mama adalah bisa melihat kamu senang. Bisa melihat kamu tersenyum. Itu sudah sangat cukup buat Mama. Mama tahu kamu bukan darah daging Mama. Tapi Mama sangat menyayangi kamu seperti anak Mama sendiri," ucap Maya terlihat begitu tulus dan keribuan. Membuat Arkana pun terharu olehnya.


"Dah, makan lagi. Besok kita ketemu ibu kamu," ucap Maya sambil tersenyum manis.


"Makasih, Ma." Pemuda itu nampak terharu. Betapa baik hatinya sang ibu sambung ini, pikir Arkana.


Kedua manusia tak sedarah itupun lantas melanjutkan sarapan pagi mereka. Suasana nampak hening sejenak. Hanya suara sendok yang berbenturan dengan piringlah yang terdengar di sana. Hingga ...

__ADS_1


"Oh ya, Gio apa kabar, Ka? Udah sadar?" tanya Maya memulai pembicaraan lagi.


Raut wajah Arkana berubah menjadi sedih. Ia nampak menghela nafas panjang, lalu menyendok makanannya itu dengan gerakan lemah.


"Udah. Tapi dia masih marah sama aku, Ma" ucap Arkana. Maya nampak menampilkan wajah iba di hadapan sang putra.


"Dia nggak mau ngomong sama aku," ucap Arkana sembari menatap nanar lurus ke depan. Maya menghela nafas panjang. Tangannya bergerak mengusap pundak sang putra yang terlihat sedih


"Kamu sabar, ya. Jangan pernah tinggalin Gio. Dia cuma seorang anak yang kekurangan kasih sayang. Dia bukan marah sama kamu. Mungkin dia cuma lagi kecewa aja. Jangan berhenti untuk membujuk dia dan menemani dia ya, Nak" ucap Maya seolah memberikan nasehat positif pada sang putra. Arkana hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Ya udah, sekarang lanjutin makannya. Nanti kalau kamu ke rumah ibu kamu, jangan lupa titip salam Mama buat beliau, ya" ucap Maya lagi.


"Pasti, Ma" jawab Arkana. Sepasang ibu dan anak tak kandung itu pun kembali melanjutkan santap pagi mereka. Tanpa Arkana sadari, sebuah seringai tipis samar-samar terbentuk dari wajah Maya. Wanita itu nampak menampilkan senyuman iblisnya. Seolah mewakili sebuah pemikiran busuk di otaknya.


...----------------...


Selamat siang


up 10:50

__ADS_1


Yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2