
Hari berganti hari...
Kehidupan para anak manusia itu berjalan seperti yang seharusnya. Saras dan Dion semakin bahagia menikmati kehidupan mereka sebagai sepasang suami istri. Membuat rasa sayang dan cinta diantara keduanya kian hari kian tumbuh. Keduanya juga semakin dekat, seolah tak mau saling berjauhan satu sama lain.
Sebagai seorang istri, Saras tak lepas menemani suaminya. Hingga saat ini ia masih terus berusaha sedikit demi sedikit memulihkan kondisi mental Dion agar bisa bangkit sepenuhnya dari trauma dimasa lalu pria itu. Kian hari kondisi Dion pun terlihat makin membaik. Dion semakin bisa terbuka. Semakin berani berbaur dengan dunia luar meskipun dengan kadar keramaian yang bertahap. Yang semula ia lebih suka pergi ke tempat tempat yang sepi, kini ia mulai berani pergi ke tempat tempat yang cukup ramai. Tak seperti dulu yang hanya sibuk dengan dunianya sendiri.
Bulan berganti bulan, Saras juga masih terus memperjualbelikan lukisan hasil karya sang suami. Anggap saja sebagai uang tambahan sekaligus nafkah yang Dion berikan padanya. Ia juga seolah ingin membimbing Dion, mengajarinya bagaimana cara bekerja dan mencari uang, selayaknya pria beristri seusianya.
Hari berganti hari, Malvino juga perlahan mulai bisa menerima kehadiran Saras sebagai menantunya. Ia semakin sadar, betapa berartinya Saras bagi seorang Dion. Betapa besarnya pengaruh wanita itu untuk kesehatan mental putranya.
Kini laki laki itu makin memperketat penjagaan untuk Saras dan Dion. Meskipun menurut laporan para pengawal pribadi Saras Dion sudah tidak ada lagi orang yang membuntuti sepasang suami istri itu, namun Malvino seolah tetap waspada. Ia seolah memiliki insting, bahwa keselamatan Dion dan Saras belum sepenuhnya aman.
Hari ini..
Saat siang menjelang, sebuah mobil mewah nampak berhenti di depan sebuah cafe yang berada di salah satu sudut kota itu. Saras yang berada di dalam mobil tersebut nampak turun dari kendaraannya bersama seorang pria tampan yang merupakan suaminya.
Ya, hari ini mereka akan bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai pembeli lukisan Dion. Saras sudah membuat janji dengan si pembeli yang katanya adalah seorang pengusaha itu. Si calon pembeli sepertinya sudah berada di dalam cafe itu.
Saras dan Dion masuk ke dalam bangunan tersebut. Tak lupa, kedua lengan mereka saling bergandengan, seolah tak mau lepas satu sama lainnya.
Sepasang suami istri itu pun sampai di dalam bangunan kafe tersebut. Sebuah pertunjukan musik tersaji di cafe itu. Seorang pemuda tampan berkulit putih nampak menyanyikan sebuah lagu di atas panggung rendah di sana sambil memainkan sebuah gitar. Ditemani oleh sepasang bocah laki-laki dan perempuan yang nampak asik menggoyang-goyangkan tubuh mereka mengikuti alunan musik yang sebenarnya Mellow itu sambil cekikikan tak jelas
Para pengunjung yang rata-rata adalah kaum muda itu nampak larut dalam suasana. Mereka bernyanyi sambil menggerak-gerakkan tangan mereka mengikuti alunan musik yang pemuda itu tampilkan.
Dion nampak menunduk. Cafe ini terlalu ramai untuk Dion yang masih dalam fase beradaptasi dengan keramaian. Laki laki itu lantas menggerakkan tangannya, hendak meraih kupluk hoodie nya dan berniat untuk menyembunyikan wajahnya. Namun Saras yang sudah hafal dengan gerak gerik Dion itupun dengan cepat menghalangi pergerakan sang suami. Dion harus mulai terbiasa berbaur dengan banyak orang. Ia tak mau suaminya terus-terusan menghindar seperti itu.
"Nggak usah ditutupin..! Aku pengen pamer suami ganteng aku..!" ucap Saras sembari mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan sang suami.
Dion diam tak menjawab.
"Kamu kesini mau nemenin aku..! Jangan ditutupin mukanya..!" ucap Saras pada suaminya. Dion tak menjawab.
Saras lantas meraih ponselnya menggunakan satu tangannya yang bebas, lalu membukanya. Sebuah pesan masuk dari sebuah nomor dengan foto profil sebuah foto keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, serta dua orang bocah laki-laki di sana.
"Saya ada di meja nomor dua puluh" tulis si calon pembeli.
Saras tersenyum. Wanita itu lantas mendongak, mencari cari meja nomor dua puluh di sana. Wanita itu kemudian tersenyum. Tepat di barisan paling pinggir, di samping jendela besar ruangan ruangan itu, seorang laki-laki nampak duduk membelakanginya. Menatap ke atas panggung yang menampilkan sebuah pertunjukan musik di sana.
"Itu orangnya..! Samperin yuk.." ucap Saras pada sang suami.
Dion menurut, sepasang suami istri itu lantas mendekati meja nomor dua puluh tersebut.
"Permisi..." ucap Saras lembut.
Seorang pria dewasa berjambang cukup lebat menoleh.
"Ya.." jawab pria itu.
"Dengan tuan Kyle?" tanya Saras.
__ADS_1
Laki laki mengangguk. Saras tersenyum, lalu menjulurkan tangannya.
"Saya Saras, penjual lukisan yang kemarin tuan hubungi" ucap wanita itu.
"Oh, silahkan duduk.." ucap pria itu tenang.
Saras pun mengangguk. Ia pun mengajak sang suami untuk duduk di sana.
Laki laki bernama Kyle itu lantas menoleh ke arah Dion.
"Ini?" tanya Kyle sembari menggerakkan tangannya menunjuk ke arah Dion.
"Oh, ini Dion, suami saya. Dia yang bikin lukisan" ucap Saras bangga. Kyle hanya menampakkan senyuman simpul kemudian mengangguk.
"Oke..jadi, mana lukisannya, saya mau lihat" ucap Kyle.
"Em, ada di mobil, tuan. Mau saya ambilkan? Atau kita lihat kesana aja. Soalnya disini terlalu rame" ucap Saras.
"Ya sudah, kita keluar saja" ucap Kyle.
Saras dan Dion mengangguk. Kyle bangkit. Ia lantas memberi kode ke arah panggung menggunakan jari jarinya seolah mengatakan bahwa ia ingin keluar sebentar. Dua bocah yang sedang asyik menggerak-gerakkan tubuhnya di atas panggung itu nampak mengangguk. Sepertinya itu adalah anak-anak dari laki-laki itu, pikir Saras. Ketiga manusia itu pun kemudian pergi keluar dari cafe tersebut, menuju sebuah mobil mewah yang terparkir disana. Saras pun lantas membuka bagasi mobil, dan memperlihatkan lukisan cantik hasil karya suaminya. Kyle nampak tersenyum, memperhatikan lukisan itu dengan seksama. Sebuah lukisan seorang wanita cantik dengan sayap di bagian belakang tubuhnya, nampak bersimpuh mengobati seekor binatang yang nampak berdarah darah.
Lukisan itu terlihat sangat indah dan nyata. Membuat Kyle cukup terkesima dibuatnya.
Tiba tiba....
"Woooooaaaaaaoooooowwwwwww...!! Lukisan ibu peri..!!"
Suara cempreng itu berhasil membuat ketiga orang dewasa itu menoleh. Dilihatnya di sana sepasang bocah laki laki dan perempuan nampak berdiri di samping para orang dewasa itu. Entah sejak kapan mereka berada disana. Kedua bocah itu nampak terkesima melihat lukisan indah di tangan Kyle itu.
Plakk..!!
Si bocah wanita nampak menepuk lengan kawannya itu.
"Ya Amsyong, Tiger..! Itu bukan kambing, itu kucing..!!" ucap si bocah wanita yang diketahui bernama Aliya itu.
"Ibu perinya lagi ngobatin kucingnya..! Bukan nyembelih kambing...! Capek deh..!" tambah bocah itu sembari menepuk jidatnya sendiri.
Si bocah laki laki yang diketahui bernama Tiger itu nampak cekikikan.
"Hihihi...iya, iya, bercanda doang akutuh..! Orang ganteng mah bebas..!" ucap bocah itu dengan PD nya. Membuat Saras yang mendengarnya pun terkekeh. Ah, menggemaskan sekali dua bocah ini, batinnya.
Kyle nampak menggelengkan kepalanya.
"Maafkan anak anak saya, mereka emang suka bercanda" ucap Kyle.
Saras hanya tersenyum.
"Nggak apa apa, tuan. Namanya juga anak anak" ucap Saras.
Aliya si gadis kecil itu nampak melongok, mencoba menengok wajah tampan Dion yang sejak tadi lebih banyak diam dan menunduk.
"O Em Ge..! Om ganteng banget..!" celetuk bocah itu.
__ADS_1
"Oemji, Aliyaaaa...!!!" ucap Tiger mengoreksi ucapan bocah laki laki itu.
"Sama ajaahhh..!!" ucap Aliya tak mau disalahkan. Bocah itu nampak tersenyum menatap paras tampan Dion. Dion yang ditatap manis oleh bocah cantik itupun ikut tersenyum. Tangannya tergerak mengacak-acak lembut pucuk kepala bocah berparas lucu itu. Membuat Aliya pun tersipu malu dibuatnya.
Kyle kembali fokus pada Saras dan Dion.
"Oke, saya ambil yang ini, sebentar, saya ambil uangnya dulu" ucap Kyle.
Saras mengangguk. Pria berjambang cukup lebat itu kemudian mengangkat tangannya, memanggil seorang pria lain yang berdiri di samping mobil mewah miliknya di sana. Itu adalah asisten sekaligus supirnya. Pria berkulit putih yang diketahui bernama Zack itu kemudian mendekat. Mengambil alih lukisan itu dan memasukkannya ke dalam mobil kemudian kembali dengan sebuah amplop coklat berisi uang pembayaran lukisan tersebut.
Saras pun menerimanya.
"Terima kasih banyak, tuan" ucap Saras. Dion hanya tersenyum.
Kyle pun tersenyum seperlunya.
"Sama sama. Lukisan anda bagus, kapan kapan kalau ada yang menarik buat saya, saya pasti hubungi kalian lagi" ucap Kyle.
Sarah dan Dion tersenyum. Laki-laki berjambang cukup lebat itu kemudian pamit undur diri bersama kedua bocah yang sejak tadi tak henti bercanda itu.
Merekapun berpisah. Kyle dan keluarga masuk ke dalam mobil mewahnya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut. Saras membuka amplop coklat itu. Wanita itu nampak berbinar melihat uang kertas yang berada di sana.
"Dion...! Lihat..! Duitnya banyak..!!" ucap Saras berbinar.
Dion berdecih.
"Terserah.." ucap Dion pelan tepat di samping telinga sang istri. Sungguh, ia sebenarnya tak butuh uang itu. Ia menjual lukisan-lukisannya tersebut demi menuruti kemauan Saras.
Dion berjalan terlebih dulu menuju mobilnya meninggalkan Saras.
"Ayo cepetan pulang..! Aku laper..!" ucap Dion sembari membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam sana.
"Iya, iya..! Bawel..!" gerutu wanita itu.
Saras pun memasukkan amplop coklat itu ke dalam tasnya. Ia kemudian bergegas untuk menyusul sang suami masuk ke dalam mobil. Namun baru selangkah ia berjalan tiba-tiba...
Ting...
1 pesan masuk. Saras merogoh saku celananya, mengambil sebuah benda pipih yang berada di sana kemudian membukanya. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari sebuah nomor tanpa foto profil yang tidak ia kenali.
Saras pun membuka pesan itu..
"Hai, Saras...." bunyi pesan tersebut.
...----------------...
Selamat sore..
Ini bab untuk yang kemarin pada nanyain kabar Tiger dan Aliya. Yang katanya kangen sama dua bocil ini plus bapaknya😁😁, author munculin di bab ini ya. Refreshing sebelum kita mulai konflik lagi.
Tapi disini Author cuma nyelipin doang. Nggak akan memasukkan mereka dalam inti cerita. Jadi jangan ada yang bilang minta bantuan papa Adrian🙈😁
Mungkin nanti di bab" lain akan ada tokoh dari novel novel sebelumnya yang author masukin. Entah itu Daddy Digo, bapak Calvin, Tuan Leon, Mas Jordan atau yang lainnya..
__ADS_1
Sekarang jangan lupa kasih dukungan dulu ya. Dan untuk hari ini kayaknya author cuma up 1 bab. Kita mulai lagi besok, masuk ke konflik lagi. Terimakasih*....