Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
78


__ADS_3

Mobil hitam itu sampai di sebuah gudang lusuh tak terpakai. Sebuah bangunan terbengkalai yang letaknya cukup jauh dari pemukiman warga.


Kendaraan roda empat itu berhenti disana. Gibran sang pengemudi keluar dari kursi kemudinya. Ia lantas membuka pintu bagian belakang mobil itu, memberi jalan untuk satu rekannya keluar sambil membopong tubuh Saras yang nampak tak sadarkan diri.


Kedua pria itu lantas membawa Saras masuk ke dalam bangunan usang tersebut. Mereka merebahkan tubuh wanita cantik itu di sebuah sofa usang yang berada di dalam bangunan yang hanya diterangi lampu bohlam yang tak terlalu terang itu.


Gibran berkacak pinggang. Diamatinya tubuh molek berbalut kaos oversize merah muda dan celana pendek putih tulang itu. Laki laki itu kemudian menggerakkan lidahnya menyapu bibir bawahnya. Cantik sekali wanita ini. Kulitnya juga sangat mulus. Membuatnya seolah ingin mencicipinya barang sebentar. Tapi sayang, sang kawan yang sudah membayarnya melarangnya untuk melakukan hal lain selain menculik Saras.


"Kita ngapain sekarang?" tanya rekan Gibran yang masih berada di tempat itu.


"Tunggu sampai Gio datang..!" ucap Gibran. Sang rekan pun hanya mengangguk.


Tak berselang lama, dua buah motor besar nampak memasuki area gudang lusuh itu.




Ya, itu adalah Arkana dan Gio...!


Gibran adalah rekan Gio dalam satu genk motor. Gio membayar Gibran menggunakan uang yang ia terima dari Maya, untuk menculik istri Dion itu. Awalnya Gio ingin membawa Saras ke rumah barunya yang juga merupakan pemberian Maya, namun hal itu urung di lakukan lantaran dirasa kurang aman. Maka Gio mengubah strategi dengan membawa Saras menuju sebuah gudang lusuh yang jauh dari pemukiman warga agar tak menimbulkan kecurigaan orang orang sekitar.


Dan, disinilah ia sekarang. Ia menemui Gibran yang sudah membawa Saras ke gudang lusuh itu. Ia bahkan membawa Arkana, sahabatnya yang tengah galau lantaran misteri kematian adik kandungnya belum terpecahkan.


Arkana dan Gio melepaskan helmnya kemudian turun dari kendaraan mereka masing masing. Arkana mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mengamati bangunan tua yang sebagian catnya sudah mengelupas dan berjamur. Bagian halaman juga nampak tak terawat. Rumput-rumput liar serta ilalang tumbuh subur disana.


"Lu mau ngapain bawa gue ke tempat kayak gini?" tanya Arkana pada Gio.


"Seneng seneng..! Udah sih ikut aja..!" ucap Gio kemudian menarik kerah Arkana dan mengajaknya masuk ke dalam gedung lusuh itu.


Gio dan Arkana berjalan makin masuk, hingga sampailah mereka pada sebuah ruangan tempat dimana Gibran dan satu rekannya sudah menunggunya disana.


Degghh...


Arkana terdiam.


"Saras?!!" ucapnya terkejut. Sedangkan Gio nampak berbincang sebentar dengan Gibran dan harganya sebelum kedua laki-laki itu pamit pergi. Gio mendekati sang sahabat.


"Gimana?" tanya Gio tanpa dosa. Arkana menoleh ke arah Gio.

__ADS_1


"C*k, lu mau ngapain?! Kenapa Saras ada disini?!!" tanya Arkana mulai menampakkan mimik wajah tak suka.


"Santai kalik, gue cuma mau ngasih pelajaran dikit aja buat suami nya." ucap Gio santai sembari melepas tas selempang kecil yang yang sejak tadi dibawanya. Ia lantas mengeluarkan sebuah kamera dari dalam sana.


Arkana nampak tak suka dengan perbuatan Gio kali ini.


"C*k, gue tau lu brengs*k, tapi nggak kayak gini. Ini istri orang..!" ucap Arkana mencoba menyadarkan kawannya itu.


"Ya terus kenapa? Asal lu tau ya, perempuan ini, dia tuh mantan perempuan malam. Dia nikah ama orang gila itu cuma demi duit. Dia mah cuma sok sokan aja sok polos, sok baik, padahal murah..!" ucap Gio sembari mulai mengatur lensa kameranya.


"Udahlah, gue udah siapin semuanya. Kita bikin video, ama cewek ini, bertiga, biar rame. Abis itu, kirimin ke lakinya. Meledaaakkk...!! Bakal gila season dua tuh orang..!" ucap Gio seolah merasa bak diatas awan. Ia seolah sudah memegang kartu as atas hidup Dion dan Saras.


Arkana menggelengkan kepalanya.


"Sumpah, lu sinting, c*k..!!" ucap Arkana. Gio menoleh ke arah sang sahabat lalu tersenyum sinis.


"Masalah lu cuma sama suaminya. Selesaikan sama dia..! Lu nggak perlu bawa-bawa Saras. Dia nggak tahu apa-apa..!" ucap Arkana lagi.


Gio berdecak kesal.


"Ck..! Nggak asik banget sih lu?!! Udahlah, lu nurut aja kata gua..! Anggap aja kita lagi jajan..! Toh dia juga bukan perempuan baik baik..!" ucap Gio nyolot.


"Sekarang mending lu buka baju..! Gue ngajakin lu ke sini buat seneng seneng, bukan buat ceramah..!" ucap Gio lagi.


Arkana menggelengkan kepalanya lagi.


"Nggak..! Sorry, c*k, untuk kali ini gue nggak setuju ama tindakan lu...! Gue nggak mau..!" ucap Arkana membuat Gio pun kembali berdecak kesal.


"Ck..! Cemen lu..!" ucap Gio. Arkana tak menjawab. Ia menatap nanar ke arah Saras yang masih tak sadarkan diri.


Gio lantas menyodorkan kamera nya pada Arkana.


"Pegangin bentar...!" ucap laki laki itu. Arkana yang masih bingung antara iba pada Saras dan tak habis pikir pada Gio itupun hanya diam menurut saja. Ia seolah berada di tengah tengah diantara dua orang yang saling berseberangan. Dan malangnya, Arkana sudah menganggap kedua manusia itu seperti saudara mereka sendiri. Entah pada siapa ia harus berpihak.


Arkana masih mematung dengan kamera yang menyala di tangannya. Sedangkan Gio kini nampak melepas jaket serta kaos hitamnya. Hingga memperlihatkan sebuah tubuh atletis dengan tato naga di punggungnya.


Gio mendekati Saras yang masih terbaring tak bergerak disana. Diraihnya kaos oversize berwarna merah muda itu, lalu...


Sreeekkk...

__ADS_1


Gio merobek kaos itu hingga tak berbentuk. Membuat tubuh putih mulus dengan beberapa bercak merah keunguan di leher hingga dada itu nampak terpampang dengan indah dihadapan Gio dan Arkana. Kini hanya tersisa sebuah b*a berwarna hitam yang membungkus tubuh bagian atas wanita bersuami itu.


Degghh....


Arkana melotot. Ia membuka matanya lebar-lebar. Dilihatnya di sana, di atas dada sebelah kiri Saras, sebuah tanda lahir berbentuk pulau Sulawes* terpampang dengan sangat jelas tanpa ada kain penutup yang menghalanginya.


Arkana bergetar hebat. Ucapan sang ayah yang mengatakan bahwa adik kandungnya memiliki sebuah tanda lahir berbentuk pulau Sulawes* yang bisa dibilang cukup langka seolah menari-nari dalam ingatan Arkana.


Saras memiliki tanda itu. Tepat di dada sebelah kiri. Seperti itukah bentuk tanda lahir Anggita sang adik?


Daaghh....


Arkana menjatuhkan kamera ditangannya. Membuat Gio yang sudah bersiap untuk menyentuh kulit Saras pun menoleh ke arah sahabatnya itu. Arkana mendekat. Fokus matanya tertuju pada tanda lahir di dada Saras.


Gio mengangkat satu sudut bibirnya.


"Kegoda juga kan lo?" ucapnya. Ia pikir Arkana mula tergoda melihat tubuh molek wanita yang tak sadarkan diri itu.


Arkana tak menjawab. Ia duduk bersimpuh di samping sofa lusuh itu. Tangannya bergerak menyentuh tanda lahir berbentuk pulau Sulawes* tersebut. Matanya mengembun. Pemuda tampan itu bergetar dengan sangat hebat. Lidahnya seolah kelu menatap paras cantik wanita yang terlelap itu.


"Anggi..." ucapnya.


.


.


.


.


bersambung dulu ya😁


...----------------...


Selamat siang


up 11:11


yuk, dukungan dulu 🥰

__ADS_1


__ADS_2