
Sore menjelang. Saat jam menunjukkan pukul tiga sore. Di rumah sakit besar itu, aktifitas kedokteran terus berlanjut. Hilir mudik pasien masih datang silih berganti, seolah tidak pernah sepi.
Di dalam salah satu kamar rawat inap di sana. Seorang pemuda gondrong yang sudah pulih dari sakitnya itu nampak memasukkan beberapa pakaian dan barang barang pribadinya ke dalam sebuah tas ransel hitam berukuran sedang disana. Kondisi yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Laki laki itu sudah diizinkan untuk kembali ke rumahnya setelah mendapatkan izin dari dokter yang menangani. Kini, Gio dengan beberapa luka di wajah yang mulai mengering itu nampak bersiap untuk meninggalkan rumah sakit. Tidak ada teman. Tidak ada kawan. Tidak ada keluarga yang datang menjemput ataupun menemaninya. Laki-laki itu benar-benar melakukan semuanya seorang diri.
Semua barang-barang pribadi memilik Gio sudah masuk ke dalam ransel. Laki-laki itu lantas menggendong tas hitam tersebut kemudian melangkah keluar dari ruangan itu. Lalu lalang para kerabat pasien serta perawat nampak terlihat di sana. Gio mengayunkan kakinya dengan langkah gontai menuju lobby rumah sakit itu. Tiba tiba...
"C*k...." Suara itu berhasil membuat Gio menghentikan langkahnya. Dilihatnya di sana seorang pemuda berparas tampan dengan jambang tipis nampak berlari mendekatinya.
Ya, itu Arkana. Seperti biasa, setiap sore ia datang ke rumah sakit itu untuk menjenguk sahabatnya. Gio yang menyadari kedatangan Arkana itupun lantas melengos. Ia melanjutkan langkahnya menuju lobby rumah sakit seolah tak mau bertemu dengan sang sahabat.
"Gio, tunggu!" ucap Arkana sembari berlari mengejar Gio yang terus menjauh dari dirinya.
"C*k, bentar! Gue mau ngomong sebentar sama lu, berhenti dulu!" ucap Arkana. Gio masih tak menggubris.
"Gio!!" Arkana meraih lengan Gio namun dengan cepat pria gondrong itu menampiknya. Sorot matanya kini nampak menatap tajam ke arah anak kandung Ratih tersebut.
"Mau ngapain lagi lu kesini, anj*nk?!" tanya Gio murka.
"Mau sampai kapan lu kayak gini ama gua?! Gua salah apa ama lu, c*k?! Ngomong ama gua sekarang!!" tanya Arkana mulai kehabisan kesabaran. Ia seperti mengemis maaf dari Gio yang begitu keras kepala. Padahal jika dipikir-pikir, ia juga tidak punya salah pada sahabatnya itu. Ia hanya ingin melindungi adiknya. Apakah itu salah? pikir Arkana.
"Lu masih nanya salah lo apa?! Lo nggak salah apa apa. Gua yang salah! Karena gue udah terlalu menganggap lo sebagai sahabat gue. Gue udah terlalu percaya ama lu. Tapi nyatanya bahkan di saat gua pengen balas dendam sama orang yang udah ngebunuh keluarga gua, lu nggak ada di pihak gue. Cuma karena alasan konyol yang lu buat buat sendiri!" ucap Gio kecewa.
Arkana nampak menggelengkan kepalanya. "Lu udah dibutain sama dendam, C*k! Saras itu adik gua. Dia Anggita, orang yang gue cari-cari selama ini!" ucap Arkana meyakinkan.
Gio berdecih. Ia menatap sinis ke arah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Makan tuh adik lu!" ucap laki-laki itu kemudian berbalik badan menjauh dari Arkana. Arkana muak. Ia menatap tajam ke arah punggung Gio yang mulai menjauh darinya itu.
"Terserah lu! Gue capek ngejar-ngejar lu mulu! Lu mau marah sama gua, gua nggak peduli...! Lu nggak nganggap gua, gue juga nggak peduli! Gue udah capek jelasin semuanya sama otak lo yang bebal itu! Pergi lo jauh jauh, gue nggak peduli...!!!" teriak Arkana dengan penuh emosi. Gio yang mendengarkan ucapan Arkana tersebut nampak menghentikan sejenak langkah kakinya. Tak ada senyuman yang nampak dari wajahnya. Laki-laki itu mencoba tak peduli. Ia kemudian kembali mengayunkan kaki itu pergi meninggalkan lobi rumah sakit. Arkana menghela nafas panjang. Ia menjambak rambutnya sendiri sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh, begitu keras hati seorang Gio. Membuat Arkana kini menjadi frustasi karenanya.
Sedangkan di luar rumah sakit, laki laki yang baru pulih itu nampak berjalan menjauh dari bangunan tersebut. Perasaannya juga tak karu-karuan. Antara kecewa, marah, dan benci, semua bercampur menjadi satu. Laki-laki itu mengayunkan kakinya menuju ke seberang jalan, berniat untuk mencari taksi guna mengantarkannya pulang. Namun tiba tiba...
Tin ... tin ...
Gio menoleh. Sebuah skuter matic berwarna putih nampak mendekat ke arahnya dari belakang. Dikendarai oleh seorang wanita cantik berhijab putih dengan helm berwarna merah. Itu Xena! Salah satu perawat yang ia kenal yang bekerja di rumah sakit ini. Gio nampak tersenyum tipis.
"Gio," ucap Xena tersenyum.
"Mau pulang?" tanya Gio pada Xena. Wanita itu nampak mengangguk.
"Iya, mau cari taksi dulu," ucap Gio. Xena hanya mengangguk. Sedangkan tak jauh dari tempat mereka, ada Arkana yang nampak baru keluar dari lobby rumah sakit dan bergegas menuju parkiran untuk mengambil motornya.
Gio melirik ke arah Xena.
"Lu pulangnya kearah mana?" tanya Gio. Xena diam sejenak.
"Kesana..." jawab wanita itu sembari menunjuk ke salah satu arah mata angin. Gio nampak mengangkat satu sudut bibirnya. Ia lantas bergerak cepat, naik ke atas jog belakang motor itu tanpa permisi.
"Eh, apa apaan?!" tanya Xena kaget.
"Nebeng...!" ucap Gio.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Xena tak mengerti.
"Pulang lah! Anterin gue dulu. Ntar gue bayar, daripada gue kelamaan nungguin taksi!" ucap Gio.
"Gio, aku bukan ojek!" ucap Xena.
"Gue tahu! Ya udah sih, anterin aja. Itung itung bantuin anak yatim piatu!" ucap Gio enteng. Xena nampak tertawa sumbang.
"Tapi kamu ngerepotin anak yatim piatu juga!" ucap Xena.
"Sesama yatim piatu nggak boleh perhitungan. Udah, ayok!" ucap Gio.
Xena hanya menggelengkan kepalanya. "Ya udah, pegangan ya!" ujarnya kemudian.
"Iya..." jawab Gio sambil tersenyum samar. Seolah seketika lupa dengan perselisihannya dengan Arkana beberapa menit lalu.
Xena pun lantas melajukan kendaraan roda duanya. Menjelajahi jalanan beraspal itu bersama Gio yang memboncengnya.
...----------------...
Selamat sore
up 17:25
yuk, dukungan dulu 🥰🥰
__ADS_1