
Di salah satu rumah sakit besar di kota itu.
"Oooeeeekk... Oooeeeekk...."
Suara tangis bayi terdengar menggema dari sebuah ruang bersalin yang berada di rumah sakit itu. Wanita cantik dengan kulit putih itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Keringatnya bercucuran. Sesosok bayi laki laki yang kini tengah berada di gendongan seorang perawat itu baru saja terlahir dari rahimnya.
Saras memejamkan matanya. Lelah, lega, bahagia, semua bercampur menjadi satu. Tangisan lantang dari bayi laki laki itu menggema memenuhi ruangan. Membuat seutas senyum terbentuk dari bibir wanita cantik yang kini baru saja resmi menyandang predikat seorang ibu itu.
Laki laki berparas tampan yang sejak tadi terlihat tenang itu nampak menoleh ke arah Saras. Sejak tadi laki laki itu hanya diam. Ia hanya menggenggam erat tangan sang istri tanpa ekspresi. Tak seperti laki-laki pada umumnya yang nampak gugup, haru, khawatir, bahkan menangis bahagia kala menyaksikan kelahiran putra pertamanya, Dion justru terlihat sangat tenang dan terkesan angkuh serta dingin, khas anak Malvino.
Ia soalnya yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Melihat seseorang menangis dan merintih, hingga tetesan darah yang keluar dari tubuh istrinya seolah sama sekali tak menggetarkan hatinya. Hal semacam itu seolah sudah menjadi sesuatu yang lumrah bagi seorang Dion.
Laki laki itu menoleh ke arah sang istri. Tangannya bergerak, meraih sebuah kain bersih yang berada di atas meja tepat di samping ranjang, kemudian menggunakannya untuk mengusap keringat yang berada di kening Saras.
Wanita itu menghela nafas panjang. Sang perawat yang kini nampak menggendong bayi Saras dan Dion itu mendekat.
"Tuan, Nyonya, selamat. Bayi Tuan dan Nyonya terlahir dengan selamat. Dia berjenis kelamin laki laki," ucap sang suster.
"Alhamdulillah," ucap Saras lirih. Sebuah kalimat yang kini sering ia ucapkan seiring makin dekatnya hubungan ia dengan Xena sang kakak ipar. Sedangkan Dion tak menjawab. Ia hanya diam sembari menampakkan senyuman samar mendengar penuturan dari sang suster.
"Kami akan memandikan baby nya dulu. Setelah itu, Tuan bisa segera mengadzaninya," ujar si perawat lagi.
Lagi lagi Dion hanya diam. Ia hanya menatap punggung perawat wanita yang kini nampak membawa buah hatinya untuk dibersihkan.
Saras menoleh ke arah sang suami.
"Dion ," ucap wanita itu.
"Ya," jawab Dion sembari menoleh ke arah sang istri.
__ADS_1
"Kamu harus adzan," ucap Saras yang seolah sedikit bimbang akan kemampuan sang suami.
Dion tersenyum. "Aku bisa!" jawabnya.
Saras hanya diam. Ia menampakkan senyuman samar mendengar ucapan dari laki laki itu.
Disaat sepasang suami istri itu tengah asyik dengan obrolan mereka. Tiba tiba,
"Ras!" Suara itu berhasil membuat Saras dan Dion menoleh. Dilihatnya disana, beberapa orang nampak masuk ke dalam ruangan itu dan mendekati kedua orang tua baru tersebut.
Yaz itu adalah Ratih, Adit, Bharata, Arkana, Xena, dan Gio di barisan paling belakang. Mereka datang ke rumah sakit itu setelah mendengar kabar tentang Saras dari Gio dan Xena.
"Ibuk, Papa, kalian kesini?" tanya Saras.
Bharata dan Ratih tersenyum. Wanita paruh baya itu mendekati sang putri. Begitu juga Bharata yang kini nampak berdiri di samping ranjang.
"Iya. Kita baru saja dapat kabar dari Gio tentang kamu," ucap Bharata.
Saras dan Dion menoleh ke arah Xena. Wanita berhijab itu nampak tersenyum sembari melambaikan tangannya. Sedangkan Dion, fokus matanya langsung tertuju pada sesosok pria yang berdiri tenang dan setengah angkuh di belakang Xena. Ya, itu Gio!
Xena mendekat. "Gimana kondisi kamu? Anak kamu mana? Cewek apa cowok?" tanya Xena semangat.
"Aku baik baik aja, Kak. Anak aku cowok, lagi sama suster di dalam," ucap Saras.
Xena tersenyum. "Selamat ya, Ras. Akhirnya kamu jadi ibu juga!" ucap Xena.
"Makasih, Kak," jawab wanita itu. Tak berselang lama, seorang suster yang menggendong sesosok bayi laki-laki keluar dari dalam sebuah ruangan yang berada di kamar bersalin itu. Kedatangannya di sambut dengan suka cita oleh keluarga besar kedua pasang suami istri yang tengah berbahagia itu.
Sang suster mendekati Dion, lalu memintanya untuk melantunkan adzan dan iqomah sesuai ajaran agama yang dianutnya.
Dion pun bersiap. Lantunan adzan yang tak terlalu merdu teralun lirih dari bibirnya. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah di dengar oleh orang orang yang berada di ruangan itu. Entah sejak kapan pria itu belajar hal tersebut, tak ada yang tahu. Bahkan Saras sang istri pun juga tak mengira jika Dion bisa mengumandangkan adzan. Lantaran ia juga tak pernah melihat Dion belajar hal itu.
__ADS_1
Adzan dan iqomah selesai. Dion tersenyum menatap sang jagoan berkulit putih dengan mata indah itu.
"Siapa namanya, Dion?" tanya Xena memberanikan diri. Dion diam sejenak.
"Leo Gabeiello Miguel" ucap laki laki itu. "Seorang laki laki keturunanku yang akan menjadi manusia kuat, kokoh, selayaknya singa jantan yang tidak mudah dipatahkan baik hati, mental, maupun raganya. Dia akan menjadi penguasa, pria pemberani bak singa jantan yang tidak akan pernah terkalahkan!" ucap laki laki itu sembari melirik ke arah Gio di akhir kalimatnya.
Gio yang sejak tadi diam itu kini nampak mengangkat dagunya. Meskipun pernah ada kata maaf yang terucap dari mulut laki laki itu, namun sepertinya hal itu juga tak membuat Dion dan Gio bisa berdamai sepenuhnya. Masih ada sisa sisa ketidaksukaan dari dalam diri kedua pria itu.
Xena menghela nafas panjang. Sepertinya nama yang Dion berikan untuk putra pertamanya itu juga sedikit banyak terinspirasi dari kelakuan Gio di masa lalu.
Xena, Gio, dan Dion masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Tiba tiba...
Drrrrttt.... Drrrrttt.....
Ponsel dalam saku jaket Xena berbunyi. Dengan segera ia pun mengeluarkan benda pipih canggih miliknya itu lalu membukanya. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke dalam ponsel itu.
Xena diak sejenak, lalu mengusap tombol hijau yang berada di layar benda pipih tersebut.
"Halo, Assalamualaikum," ucap Xena.
"........"
"Iya, saya sendiri. Ini siapa, ya?"
".........."
"Iya, benar. Itu ayah saya. Ada apa ya, Pak?"
"..........."
Deeghh...
__ADS_1
"Astaghfirullah haladzim,"
...----------------...