
Motor besar itu berhenti di depan sebuah coffee shop bertuliskan Sky Coffee Cafe. Dimana beberapa kendaraan beroda dua lainnya nampak sudah berjajar rapi di lahan parkir bangunan yang dinding dan pintunya didominasi kaca itu.
Arkana melepas helmnya. Ia berjalan mendekati pintu kaca yang masih bertuliskan 'Close' itu. Ia masuk ke dalam bangunan itu dengan mimik wajah yang tak begitu ceria.
Di dalam coffee shop, beberapa karyawan nampak sibuk bersih bersih. Sedangkan di belakang meja barista, ada Gio yang nampak sibuk membersihkan tempat meracik kopi untuk para pengunjung itu.
Arkana melepas waistbag nya. Lalu sedikit melempar nya keatas bangku yang berada disana.
Gio menoleh. Dilihatnya wajah sang sahabat itu nampak kurang bersahabat, tak seperti biasanya.
Gio mendekati Arkana. Duduk di sampingnya lalu menepuk pundaknya.
"Napa, c*k?" tanya Gio.
Arkana menoleh sejenak lalu membuang nafas kasar.
"Semalam gue ketemu cewek. Mukanya mirip banget sama muka perempuan yang katanya adek gue yang udah meninggal..!" ucap Arkana.
"Yang fotonya lo kasih liat ke gue itu?" tanya Gio.
Arkana mengangguk.
__ADS_1
"Terus?" tanya Gio antusias.
"Aneh kan, c*k..! Anak buah papa bilang kalau Anggi itu udah meninggal. Tapi kemarin gue lihat perempuan, sumpah, mirip banget mukanya sama muka cewek dalam foto itu..! Mulai dari mata, hidung, bibir, bentuk mukanya, semua mirip..! Gue yakin banget itu dia..!" ucap Arkana begitu yakin dengan pemikirannya.
Gio diam. Sebagai seorang pemuda yang bekerja sama dengan Maya, ia memang belum tahu pasal rencana Maya yang meminta anak buah Bharata untuk memberikan fakta palsu tentang kematian anak dan mantan istri ayah Arkana itu. Ia juga tak tahu siapa sebenarnya ibu dan adik kandung Arkana yang sesungguhnya. Pemuda yatim piatu itu bahkan juga tak tahu, bahwa anak buah Maya adalah anak buah Bharata yang sengaja "dibelokkan" oleh Maya. Kerjasama antara Gio dan Maya hanyalah sebatas kerjasama menghancurkan Dion melalui Saras. Maya sama sekali tidak pernah menyinggung tentang Bharata, Arkana, serta masa lalunya.
Gio menepuk pundak sahabatnya itu sebagai bentuk dukungan.
"Lo ketemu cewek itu dimana? Ntar gue minta temen temen gue deh buat cari tahu.." ucap Gio.
"Di minimarket ujung jalan. Cewek itu ngaku namanya Arini apa siapa gitu kalau nggak salah. Dia kayaknya udah nikah. Suaminya ganteng, tapi umurnya kayaknya agak jauh dari si cewek..!" ucap Arkana.
Gio mengangguk.
Gio berdecih.
"Apasih yang gue nggak bisa..?! Lu tenang aja, nggak nyampe seminggu, semua tentang cewek itu pasti gue bakal tahu..!" ucap Gio.
Arkana terkekeh. Gio memang selalu bisa diandalkan. Pemuda gondrong itu lantas merangkul pundak sang sahabat.
"Eh, lu daripada suntuk kek gini, mending entar lu ikut gue..!" ucap Gio pelan dengan sorot mata terlihat nakal khas seorang Gio.
__ADS_1
Arkana melirik ke arah kawan dekatnya itu.
"Kemana? Lu nggak usah ngajarin gue aneh aneh..! Iman gue tebel..!" ucap Arkana.
"Alah..! Imannya dibolongin sehari aja..! Besok ditambal lagi...!" celetuk Gio sembari menepuk nepuk sebelah dada Arkana.
Arkana menggerakkan tubuhnya. Ia mengelak dari rangkulan tangan kawan baiknya itu.
"Lu mau ngapain, c*k..? Jangan aneh aneh lu..!" ucap Arkana.
"Kagak..! Gue nggak aneh aneh..! Gue mau ngajakin lu seneng seneng..! Entar malem, lu ikut gue..! Gue jamin, stres lu bakalan ilang..!!" ucap Gio percaya diri.
Arkana mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Gio.
"Oke, bro..?! Siap siap ya..!!" ucap pemuda gondrong itu lagi sembari bangkit dari posisi duduknya. Ia kembali mendekati meja barista dan melanjutkan kerjanya yang sempat terhenti.
...----------------...
Selamat pagi menjelang siang.
up 11:19
__ADS_1
Dikit dulu ya...lanjut lagi nanti malam.
Yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰