
Hari kembali berganti. Malam menjelang di tepi kolam renang rumah megah kediaman Malvino beserta anak dan menantunya.
Wanita hamil itu nampak asyik merebahkan tubuhnya di atas kursi kolam renang itu. Kedua telinganya disumpal headphone. Ia bernyanyi semaunya, memperdengarkan suara cempreng tak merdu miliknya dengan penuh percaya diri.
Di sampingnya, seorang pria tampan berkulit putih nampak sesekali terkekeh mendengar suara wanita yang begitu percaya diri menyanyikan sebuah lagu itu. Mungkin ia pikir suaranya sangat merdu. Padahal jika didengar oleh orang lain, itu sangat menyakitkan telinga.
Dion sejak tadi tak henti mengulum senyum. Sesekali ia terkekeh kecil mendengar nyanyian cempreng istri cantiknya itu.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saras menyudahi nyanyiannya. Dilepaskannya headset yang menempel di kedua belah telinganya itu kemudian duduk bersila di samping sang suami yang masih sibuk melukis gambar wajah seorang wanita cantik di sana.
"Dion," ucap Saras terdengar sedikit manja.
Laki laki itu menoleh. "Apa?" tanya Dion.
"Udah malem, bobok, yuk! Udahan ngelukisnya, lanjut besok lagi!" ucap Saras.
Dion tersenyum. "Kamu udah ngantuk?" tanyanya.
Wanita dengan perut yang mulai membuncit itu lantas mengangguk.
Dion tersenyum. "Ya udah, aku beresin ini dulu, abis itu kita tidur, ya," ucap Dion.
Saras mengangguk. "Aku bantuin!" ucap wanita hamil itu kemudian. Saras lantas bergegas dari posisi duduknya. Mendekati sang suami, membantu laki laki itu memberesi peralatan melukisnya dan membawanya menuju ruang lukis milik Dion yang kini sudah terlihat jauh lebih berwarna.
Lukisan lukisan seram yang dulu menghiasi dinding ruangan itu kini sudah tak nampak lagi. Berganti dengan lukisan lukisan cantik nan penuh warna yang menyejukkan mata. Ruangan ini sudah disulap menjadi studio mini yang indah. Sudah tak ada lagi kesan seram dan mengerikan di ruangan ini.
Saras dan Dion meletakkan peralatan lukis mereka di tempat yang sudah tersedia.
"Udah, kita bobok, yuk!" ucap Dion.
Saras nampak mengerucutkan bibirnya. "Tapi gendong..." rengek wanita hamil yang kian hari kian terlihat manja itu. Membuat Dion yang dulunya lebih banyak diam, dingin dan misterius, kini seolah menjelma menjadi suami siap siaga yang hangat lantaran Saras yang seolah selalu bisa mencairkan suasana.
Dion mengubah posisi tubuhnya berdiri membelakangi Saras.
__ADS_1
"Yuk!" ucapnya kemudian seolah meminta wanita itu untuk naik ke punggungnya. Saras pun nampak berbinar. Dengan segera ia menggerakkan tubuhnya, naik ke atas punggung pria berbadan tegap itu.
Dion pun lantas membawa sang istri naik ke lantai dua tempat dimana kamar pribadi keduanya berada.
"Kamu makin berat, Ras," ucap Dion.
"Ya nggak apa apa! Kan sekarang ada dua nyawa di badan aku!" ucap wanita hamil itu.
"Aku suka kalau kamu makin berisi. Kamu lebih lucu!" ucap Dion.
"Beneran?" tanya Saras.
"Ya..." jawabnya.
Keduanya pun lantas masuk ke dalam kamar mereka. Di dalam kamar luas itu, Dion yang masih berada dalam posisi menggendong Saras itu nampak membawa tubuh ramping tersebut menuju meja rias yang berada tak jauh dari ranjang. Ia kemudian mendudukkan tubuh sang istri disana. Sedangkan ia kemudian berbalik badan, membuat keduanya kini nampak saling berhadap-hadapan dalam posisi Saras yang duduk di atas meja rias berbahan kayu itu.
"Dion, bobok!" ucap wanita hamil itu.
Dion tak menjawab. Ia nampak mengangkat satu sudut bibirnya lalu sembari melepas kaosnya dan membuangnya asal.
Dion menggerakkan kedua tangannya mengusap-usap lembut dua belah paha mulus itu. Mulai dari lutut, kemudian semakin naik dan naik menuju pangkal paha yang berbalut hotpants putih tulang itu.
Dion lantas menggerakkan tangan kekar itu, membuka kedua belah paha itu hingga terbuka cukup lebar, lalu memposisikan tubuhnya terapit dua belah kaki itu.
Dion melirik sang istri dengan sorot mata nakal, sedangkan tangannya tak henti memberikan sentuhan sentuhan lembut pada kaki jenjang sang istri.
"I love you," ucap Dion sedikit berbisik lirih. Saras tak menjawab. Ia menggerakkan tangannya, meraba raba lembut dada bidang pria itu hingga naik ke lehernya. Saras lantas mendekatkan wajahnya pada telinga Dion.
"Love you more, Papa," ucap Saras.
Dion mengulum senyum. Ia mengemukakan kepalanya, begitu juga Saras. Kedua ujung hidung itu saling bertemu. Mereka saling menggesek-gesekkan ujung hidung masing-masing sembari menikmati aroma nafas bentuk tubuh mereka.
Saras memejamkan matanya. Dion tersenyum. Digerakkannya tangan kekar itu, diusapnya bibir tipis milik wanita hamil itu menggunakan ibu jarinya. Saras terlihat begitu cantik dan menggoda di mata Dion yang tengah berada di puncak gairah. Membuat laki laki itu semakin bersemangat untuk melakukan lebih pada wanita yang kini tengah berbadan dua itu.
__ADS_1
Dion menggerakkan tangannya. Ditangkupnya wajah cantik itu menggunakan kedua tangannya. Kepala itu kemudian bergerak, ia mulai menciumi bibir tipis milik Saras dengan lembut dan bertubi-tubi seolah ingin menunjukkan seberapa banyak cinta yang ia miliki untuk wanita itu. Saras masih memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya.
Laki-laki itu semakin panas. Begitu juga dengan Saras. Ia terlihat mampu diimbangi pergulatan lidah sang suami dengan gerakan yang cukup luwes.
Wanita itu kian hari kian terlihat semakin nakal jika bersama suaminya.
Suhu dalam ruangan itu terasa semakin panas bagi sepasang suami istri itu. Tanpa aba-aba, Dion mengangkat tubuh wanita hamil itu lalu merebahkannya di atas ranjang miliknya. Laki-laki itu kemudian melepas pembungkus tubuh bagian bawahnya hingga tak berbusana. Ia kemudian naik ke atas ranjang itu dan memulai aktivitas panas mereka.
...****************...
Sementara itu beberapa jam kemudian di tempat terpisah. Di sebuah rumah sakit besar di kota itu. Saat jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Perawat cantik yang kini kebagian shift malam itu nampak berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit sambil tersenyum-senyum membaca sebuah pesan dari seorang pria yang sangat ia kenal.
"Iya, ini baru mau mulai tahajud nya," tulis pria itu.
"Alhamdulillah," balas Xena.
"Nanti jangan pulang sendiri, ya. Gue jemput!" tulis pria itu lagi, Gio.
"Iya! Ya udah, dilanjut, gih. Aku juga mau kerja dulu," jawab Xena.
"Oke!" jawab Gio.
Xena masih asyik berbalas pesan dengan pria berambut gondrong itu. Tiba tiba...
Buughh...
"Aww!!"
Tubuh ramping itu tak sengaja menabrak sesosok badan besar yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya. Wanita itu kemudian mendongak...
Degghh...!!
__ADS_1
"Tuan?"
...----------------...