
Malam menjelang,
di balkon kamar Saras dan Dion. Wanita cantik itu nampak asyik dengan ponselnya. Lagi, lukisan suaminya di minati seseorang. Seseorang yang sejak siang tadi intens menghubunginya melalui pesan WhatsApp. Membuat Saras makin bersemangat untuk menjual hasil karya Dion.
"Bisa ketemuan besok?" tanya si pembeli yang mengaku bernama Gibran itu.
"Bisa mas.." jawab Saras melalui pesan WhatsApp.
"Kita ketemuan malam bisa nggak? Soalnya saya kalau siang kerja" tulis pria itu.
"Di mana, mas?" tanya Saras.
"Taman kota.." jawab pria itu.
"Bisa, mas" ucap Saras.
"Oke, tapi kalau bisa jangan bawa teman ya. Saya introvert, kurang suka ketemu banyak orang." tulis Saras.
Saras diam. Apa bisa ia pergi sendiri? Dion pasti ikut. Belum lagi para anak buah Malvino, mereka juga pasti akan mengikuti Saras kemanapun wanita itu pergi.
Saras kembali mengetikkan pesan balasan untuk sang pembeli.
"Paling saya cuma sama suami aja, mas. Nggak apa apa kok" tulisnya.
"Kamu sendiri aja. Saya nggak suka ketemu banyak orang. Di taman kota pun saya juga memilih tempat yang sepi" tulis si pembeli.
Saras menghela nafas panjang. Sepertinya calon pembelinya ini memang sangat tertutup. Saras kemudian menggerakkan tangannya, berniat untuk mengetikkan pesan balasan untuk sang calon pembeli, namun tiba tiba....
.
.
.
"Ya udah, pergi sendiri aja.."
Suara itu berhasil membuat Saras menoleh ke belakang. Dilihatnya disana seorang pria nampak berdiri di samping ranjang. Tepat di belakang Saras yang nampak asyik dengan ponselnya.
"Dion?!" ucap wanita itu.
Dion hanya tersenyum. Ia lantas mengangkat sebuah gelas kaca berisi jus jeruk dingin di tangannya.
"Minum dulu." ucapnya pada sang istri.
Saras hanya menurut. Ia lantas meletakkan ponselnya, bangkit dari ranjangnya dan duduk di tepian tempat tidur luas itu.
"Terimakasih..." ucapnya sembari meraih gelas di tangan sang suami.
Dion mendudukkan tubuhnya di samping Saras. Diamatinya paras manis wanita itu. Semakin cantik kala leher itu bergerak gerak, pertanda air jus itu masuk mengalir membasahi kerongkongannya.
Selesai.
Saras meletakkan gelasnya di atas meja.
Dion tersenyum manis.
"Ada yang mau beli lukisan lagi?" tanya Dion.
"Ada..!" ucap Saras.
"Tapi dia mintanya aku datang sendiri..." ucap wanita itu sembari memasang wajah memelas.
Dion diam sejenak. Lalu tersenyum.
"Ya udah, pergi aja" ucap Dion.
__ADS_1
"Kamu nggak apa apa?" tanya Saras dengan sorot mata menelisik, seolah ingin memastikan bahwa Dion tidak tersinggung ataupun cemburu karena permintaan sang calon pembeli itu.
Dion diam sejenak. Menatap paras Saras dengan serat mata yang sulit diartikan. Lalu...
"Coba pinjam hp nya.." ucap Dion.
Saras menurut. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas ranjang itu kemudian menyerahkannya kepada Dion.
Dion menerimanya. Kemudian mulai membaca pesan dari nomor telepon tanpa foto profil itu. Samar samar, satu sudut bibir pria itu terangkat. Ia kemudian menoleh ke arah Saras. Menggerakkan tangannya membelai lembut rambut bergelombang istrinya itu dan menatapnya lembut.
"Pergi aja, nggak apa apa" ucap Dion.
Saras nampak menatap sang suami dengan sorot mata menelisik.
"Serius?" tanya Saras.
"Iya...." jawab Dion.
"Kamu nggak apa apa?" tanya Saras lagi mencoba meyakinkan suaminya.
"Nggak apa apa, sayang" jawab Dion.
Saras membuang nafas panjang. Diraihnya punggung tangan sang suami kemudian meremasnya dan mengusap usapnya lembut.
"Makasih, ya.." ucap wanita itu.
Dion tersenyum sinis.
"Tapi nggak gratis..!" ucap Dion.
Saras mengernyitkan dahinya.
"Maksudnya?"
Dion menampilkan sorot mata nakalnya.
Saras terkekeh.
"Dasar, jantan..!" ucap wanita itu sembari bangkit lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Dasar, women..!" sahut laki laki itu sembari melepas kaosnya dan melemparnya asal. Dion lantas menjatuhkan tubuhnya tepat di atas tubuh Saras. Wanita itu memekik. Dion mulai menciumi pipi wanita cantik itu. Tawa terbentuk dari bibir keduanya. Malam pun berlanjut dengan adegan indah nan romantis dari sepasang suami istri yang saling mencintai itu.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah...
Sebuah motor besar berhenti di depan sebuah minimarket yang berada di pinggir jalan. Arkana turun dari kendaraan roda dua miliknya itu. Kemudian bergegas masuk ke dalam minimarket dua puluh empat jam itu guna membeli sejumlah camilan.
Krieeettt...
Pintu kaca terbuka. Arkana masuk ke dalam bangunan itu, meraih keranjang belanjaan berwarna biru di sana dan mulai memilih beberapa camilan dan minuman botol.
Tak lama, laki laki berparas tampan itu selesai dengan aktivitas belanjanya. Ia kemudian bergegas menuju meja kasir untuk membayar barang barang belanjaannya. Namun tiba tiba...
Buughh.....
"Aww...!!"
Seorang wanita muda memekik. Ia tak sengaja bertabrakan dengan Arkana saat hendak mengantri di depan kasir. Membuat beberapa pampers bayi dan camilan yang merupakan barang belanjaan wanita itu pun jatuh berceceran di lantai.
"Maaf, mbak..! Saya nggak sengaja..!" ucap Arkana sembari membantu memunguti barang barang milik wanita dengan pakaian serba pink itu.
"Iya, nggak apa apa, mas" ucap si wanita.
Barang barang yang berserakan itu sudah kembali masuk keranjang biru milik sang wanita. Keduanya kemudian menegakkan posisi tubuh mereka. Arkana lantas menoleh ke arah wanita berambut panjang itu. Dan.....
__ADS_1
.
.
.
.
Deeghh....
Jantung Arkana seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat. Dilihatnya disana seorang wanita cantik berkulit putih dengan rambut panjang nampak berdiri dihadapannya. Dari mata, hidung, hingga bentuk wajah, semua mirip dengan sosok wanita dalam foto yang dikirimkan salah satu anak buah papanya beberapa hari lalu. Foto wanita yang katanya adalah adik kandungnya yang sudah meninggal.
Ya, Arkana masih menyimpan foto itu di dompetnya. Dan ia yakin, wanita di hadapannya ini sangat mirip dengan wanita dalam foto itu..!
"Anggi?" ucap Arkana.
Wanita itu mengernyitkan dahinya.
"Siapa?" tanyanya.
"Ka, kamu Anggi kan?" tanya Arkana lagi dengan raut wajah yang terlihat bodoh. Ia seolah tak percaya dengan apa yang berada di hadapannya.
Wanita itu celingukan. Wanita itu lantas mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mungkin laki-laki di hadapannya itu tidak sedang berbicara dengan dirinya, pikirnya.
Tak mendapati siapapun di sana, wanita itu kemudian kembali menatap ke arah Arkana.
"Saya?" tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Iya..! Kamu Anggi kan?" tanya Arkana memburu dengan mata mengembun.
"Bukan..!!! Nama saya Arini..! Bukan Anggi..!" ucap wanita itu mengelak.
"Tapi kamu.........." ucap Arkana yang tiba tiba terpotong oleh seorang pria yang tiba tiba datang dengan sebuah lolipop di mulutnya.
"Daddy?" ucap wanita bernama Arini itu.
"Udah?" tanya laki laki yang diketahui bernama Diego tersebut.
"Udah..!"jawab wanita itu.
"Ya udah yuk, Afra keburu nangis kalau di tinggal lama lama" ucap Diego.
Arini mengangguk. Ia kemudian menoleh ke arah Arkana yang nampak diam mematung tanpa melepaskan pandangannya pada Arini.
"Saya duluan, Mas. Mari.." ucap wanita itu kemudian berlalu pergi meninggalkan Arkana yang tak bergerak. Ia dan Diego yang rupanya adalah sepasang suami istri itu kemudian menuju meja kasir, bergegas membayar barang belanjaan mereka sebelum akhirnya keluar dari minimarket tersebut.
Arkana merogoh saku celananya. Meraih dompetnya kemudian mengeluarkan sebuah foto seorang wanita yang berada di dalam dompet tersebut. Ia lantas mencocokkannya dengan wanita yang kini nampak mengeluarkan sejumlah uang di depan meja kasir itu.
Mirip..! Sangat mirip..! Tapi kenapa wanita itu mengaku bernama Arini bukan Anggi?? Astaga..! Teka teki apa lagi ini..? Pikir Arkana dengan keras.
...----------------...
Selamat siang...
Up 13:34
Yuk, dukungan dulu...
Ada Arini dsn Daddy Digo yang numpang lewat di sini. Ini juga cuma lewat doang ya, nggak akan masuk ke cerita inti..!
Dan buat yang belum baca kisah Arini dan Kumbang tuanya, alias Daddy Digo, yuk, boleh mampir disini 👇👇👇
__ADS_1