
aMalam makin larut,
Sebuah motor besar nampak memasuki sebuah halaman rumah mewah di kota itu.
Ya, itu adalah Arkana. Ia datang mengantarkan Adit yang baru saja pulang dari rumah sakit guna mengobati luka akibat kecelakaan yang terjadi padanya malam ini. Sebenarnya dokter memang menyarankan Adit untuk rawat inap. Tapi pemuda itu menolak dengan alasan tidak mau menambah beban pikiran ibunya. Sehingga dengan sangat terpaksa dokter pun mengizinkan Adit pulang dengan tangan yang nampak di gips itu.
Adit turun dari motornya.
"Masuk dulu yuk, kak" ucap Adit.
"Nggak usah, gue langsung pulang aja.." ucap Arkana.
"Ini udah malem, kak. Udah hampir jam dua. Sekarang penjahat dimana mana. Mending lu nginep di sini aja semalam ini. Ya...." ucap Adit.
Arkana nampak berfikir sejenak. Ini memang sudah sangat malam, bahkan hampir pagi. Terlebih lagi Arkana juga sangat lelah lantaran beberapa hari ini ia bekerja sendiri tanpa Gio yang menemaninya. Ia butuh kasur untuk segera mengistirahatkan raganya.
"Yuk, kak" ucap Adit lagi.
Arkana mengangguk. Ia lantas turun dari kendaraan roda duanya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah itu bersama Adit.
Ceklek..
Pintu utama rumah mewah itu terbuka.
"Assalamualaikum" ucap Arkana membuat Adit yang tak terbiasa mengucap salam setelah masuk ke dalam rumah itu pun menoleh ke arahnya kemudian tersenyum.
Rumah itu terlihat sepi. Sepertinya Ratih sudah tidur. Arkana mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Mengamati ruang tamu luas dengan berapa ornamen dan hiasan dinding yang tertempel di sana. Beberapa guci besar yang pasti berharga fantastis, lukisan, serta beberapa foto keluarga.
Arkana terdiam sejenak. Foto foto lawas berisi gambar Ratih bersama dua putra putrinya yang masih kecil juga nampak tertempel sempurna di sana. Sesuatu yang entah mengapa membuat Arkana tertarik untuk menatapnya lebih lama.
Dilihatnya di sana bu Ratih nambah tersenyum manis. Menggunakan sebuah daster berwarna hijau sambil memangku seorang bocah wanita mungil dengan dress berwarna pink serta bando berwarna senada di kepalanya.
Ya, itu adalah Saras kecil. Arkana nampak tersenyum melihatnya. Entah mengapa ada sesuatu yang berbeda di sana. Ada sebuah perasaan yang sulit untuk dijelaskan dengan kata kata. Membuat fokus matanya sejak tadi tak lepas dari foto usang berbingkai itu.
__ADS_1
"Itu kak Saras waktu kecil, kak" ucap Adit yang entah sejak kapan berdiri di samping Arkana.
Arkana tersenyum lalu mengangguk.
"Iya, mukanya mirip kayak gue waktu masih kecil" ucap Arkana lagi.
"Oh ya?.Wah, jangan jangan jodoh..!" ucap Adit.
Arkana tergelak.
"Ya kalik gue berjodoh ama kakak lu..! Dion mau taruh mana? Gue nggak mau di penggal pala gue ama bapaknya Dion..!" ucap Arkana bercanda sambil menepuk pundak Adit.
Adit terkekeh.
"Ya udah, yuk, kak..! Kita istirahat. Kita tidur di kamar gue aja..!" ucap Adit.
Arkana hanya mengangguk. Ia pun mengikuti langkah adik Saras itu untuk naik ke lantai dua dan menuju ke kamar pribadi Adit.
****************
Ya, itu adalah Maya..! Ia tengah menunggu kepulangan Arkana. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi sang putra, namun sejak tadi pemuda itu seolah mengabaikan pesan dan panggilan telepon darinya.
Maya benar benar khawatir. Baru saja ia mendapatkan pesan dari seseorang yang berbunyi "Putra anda sedang bersamanya" membuat Maya semakin tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
Ceklek...
Pintu utama rumah mewah itu terbuka. Seorang pria dewasa nampak keluar dari dalam rumah itu dengan piyama tidurnya.
"Mau sampai kapan kamu mondar mandir di situ? Mungkin Arka nginep di rumah temennya. Atau mungkin di rumah Gio. Siapa tahu dia udah balik dari luar kota" ucap pria itu, Bharata.
"Aku khawatir, Mas. Kebiasaan loh dia, kalau mau nginep nggak bilang bilang. Mana di telfonin dari tadi nggak diangkat..! Aku cuma takut kalau terjadi apa apa sama Arkana" ucap Maya.
Bharata tersenyum. Sebagai seorang laki-laki ia merasa bangga dengan istrinya. Meskipun Maya bukanlah ibu kandung dari Arkana, tapi wanita itu terlihat sangat menyayangi putranya itu. Ia semakin yakin bahwa ia tidak pernah salah memilih Maya sebagai istrinya. Bukan hanya cantik, tapi juga mapan dan baik hati.
__ADS_1
Bharata mendekati sang istri, lalu merangkul pundaknya dan mengusap usapnya lembut.
"Dia bisa jaga dirinya sendiri. Udah, mending sekarang kita tidur. Kamu juga harus istirahat. Besok kan kamu harus kerja" ucap Bharata.
Maya membuang nafas panjang. Ia kembali menoleh ke arah pagar rumahnya. Harap harap sang putra datang dengan motornya.
Bharata tersenyum sambil mengusap usap pundak mulus itu.
"Udah..! Nggak usah terlalu di khawatirin..! Arka udah dewasa. Dia bisa menjaga dirinya sendiri" ucap Bharata menenangkan istrinya.
Maya tersenyum. Lalu mengangguk.
"Kita masuk yuk..." ucap pria dewasa itu lagi.
Maya menganggukkan kepalanya lagi.
"Iya, mas. Kamu duluan aja. Bentar lagi aku nyusul" ucap Maya.
Bharata tersenyum. Laki laki itu kemudian masuk ke dalam rumah tersebut. Maya berbalik badan. Berniat untuk mengikuti langkah sang suami yang sudah terlebih dulu memasuki rumah mewahnya. Namun tiba-tiba...
Ting...
1 pesan masuk dari sebuah nomor yang sangat ia kenal.
"Tante, saya sudah siap. Tapi beri saya tempat untuk sembunyi" bunyi pesan itu.
Satu sudut bibir wanita itu terangkat. Maya kemudian menuliskan sebuah pesan balasan untuk pesan yang dikirim oleh sebuah nomor yang sangat ia kenal itu. Sebuah nomor whatsApp dengan foto profil sebuah logo geng motor ternama di kota tersebut.
"Kita bertemu besok sore di jalan X" tulisnya.
...----------------...
Selamat siang...
__ADS_1
up 10:33
yuk, dukungan dulu 🥰🥰