
“Ini belum berakhir! ” Eriana lengah, salah satu iblis di belakangnya bangkit kembali dan menyerang tiba-tiba.
Akan tetapi—
“”
—Seseorang tiba-tiba muncul lalu memegang kepala iblis itu. Seketika iblis itu terlahap oleh asap hitam yang aneh.
“Rei ... ?” Eriana menoleh kebelakang dan melihat sesosok pemuda yang tidak asing baginya.
“Uh siapa yang kau maksud?” Tohrei yang masih memakai topeng bersiul dan berpura-pura tak tahu.
“Mau coba-coba berpura-pura di depanku?” Eriana melepas topeng Tohrei dengan gampangnya, memperlihatkan wajah asli Tohrei.
Eriana mencium Tohrei lalu memeluknya secara tiba-tiba. Ia memeluknya begitu erat, dia begitu merindukan Tohrei.
‘Kuh?! Apa?! Mengapa Eri tiba-tiba begini?!’ Tohrei agak terkejut dengan apa yang Eriana lakukan.
[Itu perasaan cinta.]
‘Hei sistem kenapa kau tiba-tiba muncul disaat seperti ini?!’
[Hanya sebuah kebetulan.]
‘Kebetulan matamu!’
Sejak turnamen itu, Eriana sudah memiliki firasat namun belum yakin, ketika ia melihatnya lebih dekat, kini ia sudah yakin bahwa pemuda bertopeng itu sungguh-sungguh Tohrei.
Menerima pelukan serta ciuman yang tiba-tiba, Tohrei yang tidak bisa berbuat apapun akhirnya hanya bisa membalas pelukan itu dan menerima ciuman itu.
Perasaan cinta ya? Tohrei belum pernah merasakannya dikehidupannya yang sebelumnya. Kini hati Tohrei terasa berbeda sejak berpindah dunia. Tohrei tak tahu apa maksudnya karena ia tak pernah jatuh cinta.
“Eh? Aku belum mati?” Salah satu iblis secara tiba-tiba terbangun.
“Mati.” Tohrei yang merasa terganggu menciptakan sebongkah batu besar di atas iblis sehingga ia remuk.
(Note : ini hanyalah fiksi, ingat ya adik-adik. Berciuman diluar menikah haram hukumnya dalam Islam.)
***
‘Ahhh?!!! Apa yang sudah kulakukan?! Aku tiba-tiba saja memeluk dan menciumnya!!’ Eriana mengalihkan pandangan setelah berciuman dan berpelukan. Wajahnya begitu merah.
‘Ah kurasa dia sendiri juga kebingungan.’ Tohrei yang melihat itu tersenyum tipis.
__ADS_1
Setelah mereka berpelukan selama beberapa menit kemudian saling mengobrol disana seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Itu karena banyak yang ingin mereka bicarakan setelah lama tak berjumpa.
Mereka telah tenang setelah melakukan hal yang tidak biasa beberapa saat yang lalu.
“Ada banyak yang ingin kutanyakan padamu.” Ucap Eriana.
“Begitu pun denganku.” Balas Tohrei.
“Kalau begitu,” Mereka berdua mengatakannya secara bersamaan.
“Uh kau dulu.” Eriana mempersilahkan Tohrei bertanya lebih dulu.
“Tidak tidak, kupikir lebih baik kau yang bertanya lebih dulu.” Tohrei menolak.
“Tidak apa! Kau bisa bertanya duluan.”
“Oh ayolah, pertanyaanku tak begitu menarik, kupikir lebih baik kau dulu!”
Mereka berdebat siapa yang lebih dulu bertanya, namun mereka malah berakhir lelah karena saling berdebat.
“Pffftt”
“Hahahahaha!”
“Kita sudah lama tak bertemu, tapi malah berakhir memperdebatkan omong kosong seperti ini.” Eriana tertawa sampai berlinang air mata.
“Hah ... Aku jadi teringat kapan terakhir kali kita tertawa bersama.” Tohrei merasa nostalgia.
“Oh! Bukankah itu terjadi saat kita mandi bersama, tetapi malah berakhir bermain air. Kita sampai dimarahi bibi Ersila.” Secara mengejutkan Tohrei tersentak mendengarnya.
“Hei bagaimana kau bisa ingat bagian yang itu?!”
“Itu karena aku punya ingatan yang tajam! Aku ini yang paling pintar di akademi!” Eriana membanggakan gelar hebatnya itu.
“Heh walau kau selalu kalah tebak-tebakan denganku.” Tohrei memperlihatkan senyum kemenangan.
“Ghh oke oke saatnya sedikit serius, aku tak ingin mengingat kekalahan beruntun ku saat itu.”
“Bagaimana kau bisa ada di akademi ini? Jangan-jangan kau menerima tawaran si Venoire itu?!” Eriana mengingat kalau Venoire pernah berkata kalau akan mengundang beberapa peserta turnamen Aelion untuk menjadi murid di akademi.
“Yah begitulah, tetapi kenapa kau nampaknya sangat akrab dengan Venoire?”
“Itu karena dia adalah guru sihirku ketika kecil, itu terjadi saat aku berumur 12 tahun.”
__ADS_1
“Hmm ngomong-ngomong tentang sihir, apa kau punya sihir spesial? Kudengar kalau kau itu pengguna sihir spesial.” Ketika pertarungannya melawan Magreis, Tohrei secara tak sengaja mendengar dari penonton bahwa Eriana memiliki sihir spesial.
Sihir spesial adalah sihir yang bisa dibilang adalah sihir langka, akan tetapi terkadang itu bukan hanya langka namun bahkan belum pernah ada sebelumnya.
“Haha mereka terlalu melebih-lebihkannya, walau memang sihirku itu spesial, bukan berarti sangat kuat.” Itu memang kuat, namun sangat sulit untuk digunakan sehingga itu bukan sesuatu yang bisa Eriana sangat banggakan.
“Sihirku bernama Starlight Magic, ini merupakan sihir cahaya namun lebih kuat dari itu mereka bilang. Yah walau begitu ini sangat sulit dipelajari dan aku hanya mampu membuat tiga spell dari sihir ini.” Lanjut Eriana.
Eriana menunjukkan sihirnya melalui tangannya, sebuah cahaya terang tercipta. Itu terlihat seperti cahaya biasa, namun sebenarnya sangat berbeda.
Intensitas dari cahaya itu terlampau tinggi jika dibandingkan sihir cahaya pada umumnya. Namun anehnya cahaya itu sama sekali tak merusak atau menyilaukan mata. Cahaya tersebut lebih seperti cahaya hangat dari api unggun di tengah hutan.
Sungguh perasaan yang sangat aneh.
“Starlight, sungguh nama yang indah, bahkan cahaya ini juga begitu indah.” Tohrei secara reflek menanggapi.
“Kurasa kau terlalu melebih-lebihkannya. Starlight adalah nama yang kuberikan untuk sihir ini, aku terpikir begitu saja ketika Venoire bilang kalau ini sihir yang belum pernah ada.”
“Ah aku baru ingat pertanyaan yang lebih penting.” Eriana tiba-tiba teringat.
“Bagaimana kau bisa dengan cepat muncul ke tempat ini dan kekuatan apa tadi itu yang membuat iblis tersebut menghilang?” Tanya Eriana yang penasaran.
“Itu adalah skill milikku.” Tohrei mengatakannya dengan mudah.
Tohrei menggunakan teleportasi untuk sampai ke perpustakaan ini. Sebelum itu, ia berkeliling akademi untuk menghabisi seluruh iblis yang menyusup. Hingga ia sampai ke titik terakhir yaitu perpustakaan ini.
“Eh ... sejak kapan kau punya hal semacam itu?”
“Haha kau tak perlu tahu Eri, setiap orang punya rahasia kekuatannya sendiri.” Jawab Tohrei.
“Hei Rei itu tidak adil! Aku sudah memberitahumu tentang starlight magicku tetapi kau tak mau memberitahu milikmu?” Eriana cemberut, merasakan tidak keadilan.
“Um bisa dibilang aku mendapatkannya karena beberapa keberuntungan.”
“Terserahlah, memangnya hanya dengan keberuntungan aku percaya?” Eriana membalikkan badan dan bertingkah seolah dirinya murung.
“Hei jangan mengambek begitu, apa kau ingin dipeluk lagi sebagai gantinya?” Tohrei mencoba menenangkan Eriana.
“Boleh.” Eriana berbalik kembali dan merentangkan tangannya, membolehkan tawaran Tohrei.
“Ugh baiklah.” Tohrei memberi pelukan hangat.
Selang beberapa detik, Tohrei bertanya. “Apa sudah cukup?”
__ADS_1
“Sebentar lagi ...”