
Seperti yang dikatakan sebelumnya, terdapat sebuah ruangan lain di gua yang berisi dua jenis kelompok monster berbeda. Mereka saling berselisih dan pada akhirnya bertarung.
Venoire berinisiatif untuk meminta para murid mengalahkan mereka selagi mereka sibuk berselisih.
“Ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagi kalian. Magreis & Harciest, bisakah kalian mengalahkan para rock crusher pangolin?” Venoire menolehkan kepala ke arah para murid.
“Hahaha! Aku tahu suatu saat hal seperti ini tiba!” Magreis segera melapisi kepalan tangannya dengan sihir lava.
“Baik pak!” Harciest mengangguk dan membentuk armor dengan sihir metalnya.
“Sementara itu, Eriana, Zen, Yami, bisakah kalian menangani para lightning wild wolf?” Venoire bertanya pada ketiganya.
“Saya bisa mengatasinya.” Ucap Eriana.
“Aku tak memiliki masalah.” Zen berkata dengan pelan.
“Jika disuruh melawan keduanya pun aku mampu.” Ungkap Tohrei yang kelihatan sombong namun memang begitulah kenyataannya.
“Kalau begitu aku akan mengawasi dari belakang, aku akan membantu jika situasi menjadi genting. Sekarang segeralah pergi!” Ucap Venoire.
“Baik!” Teriak semuanya yang pergi menuju para monster.
“Sedangkan itu, Isabella, Sei, aku tahu bagaimana kemampuan kalian bekerja, jadi bisakah kalian membantu dari belakang?” Venoire berbicara dengan kedua murid yang tersisa.
“Um.” Kemampuan Isabella yang mengendalikan boneka cukup membantu ketika ia berada di garis belakang. Itu sangat membantu karena boneka yang ia gunakan bukanlah boneka biasa.
Sementara itu Sei hanya mengangguk, dia bisa menyalurkan racun dari kejauhan tanpa mengenai non-target.
“!” Magreis melompat dan menghantamkan diri ke perselisihan para monster itu. Seketika Magreis menjadi perhatian paling utama.
Setelah membuat kekacauan, Magreis langsung mengincar para rock crusher pangolin. Walau begitu, ia langsung diincar juga oleh para lighting wild wolf karena mereka juga terkena dampak serangan.
Akan tetapi, Eriana langsung mengatasi para serigala yang baru saja berniat menyerang. Tentu bukan hanya Eriana yang menyerang para serigala, Zen dengan sihir es nya dan Tohrei dengan sihir kegelapannya juga menyerang.
“Haha! Ini sangat meriah!” Magreis menyerang para trenggiling(pangolin) dengan puluhan pukulan.
__ADS_1
Sementara itu, tanpa disadari Magreis, para teringgiling yang lain bergelinding ke arahnya sebagai bentuk serangan balasan.
Namun, Harciest datang dan menahan para trenggiling itu dengan gampangnya. “Hoi perhatikan musuh dibelakangmu Magreis.”
Harciest memberi peringatan sebelum ia menebas puluhan kali trenggiling yang ia lawan dan akhirnya menumbangkannya.
“A-ah maaf! Aku terlalu fokus!” Jawab Magreis atas peringatan itu.
Disisi lain, para murid dari garis belakang ikut membantu.
“” Boneka beruang yang Isabella pegang seketika membesar.
Lalu, seolah mengendalikannya dengan benang, Isabella menggerakkan jari-jarinya dan membuat boneka beruangnya bergerak.
Boneka beruang itu ikut dalam bertempuran dan membuat para monster semakin terpojok.
“” Sementara itu, Sei meluncurkan puluhan jarum beracun yang tepat saran mengenai para monster.
Setelah beberapa puluh menit, pertarungan usai, para monster seluruhnya tumbang. Akan tetapi, para murid nampak tak sama sekali kelelahan. Hanya nampak noda di pakaian mereka.
“Kerja bagus, kalian melakukannya dengan sangat baik. Nampaknya kita akan langsung melanjutkan perjalan karena dari yang kulihat kalian sama sekali tak kelelahan.” Ucap Venoire ketika mengamati para murid.
Para murid mengangguk setuju. Mereka tak mempermasalahkan keputusan Venoire.
“Kalau begitu masing-masing dari kita akan dipisah menjadi 2 orang perkelompok. Eriana dengam Tohrei, Magreis dengan Harciest, Isabella dengan Zen, dan aku dengan Sei.” Jelas Venoire.
“Ah, tetapi sebelum itu, masing-masing kelompok harus memegang ini.” Venoire mengeluarkan benda yang nampaknya memiliki fungsi khusus.
Benda itu berbentuk seperti sebuah pin bulat yang bisa ditaruh di pakaian. Masing-masing berjumlah empat. Lalu, ada satu lagi benda yang berbentuk seperti sebuah jam tangan namun berlayar hitam.
Venoire menjelaskan apa fungsi benda yang seperti jam tangan itu adalah sebagai pendeteksi keberadaan.
Lalu, pin-pin itu merupakan benda yang akan dideteksi oleh benda yang seperti jam tangan. Pin-pin tersebut adalah pendamping benda itu.
Benda-benda ini merupakan benda eksperimen yang masih dalam tahap ujicoba, namun itu tak akan membahayakan penggunanya.
__ADS_1
‘Aku tak mengerti kenapa benda ini bisa mendeteksi sedangkan skillku tak bekerja? Ada apa dengan gua ini? Atau yang salah itu aku?’ Tohrei merasa kebingungan pasalnya sebelumnya ia tak bisa menggunakan area detection disini.
Setelah memberi penjelasan, mereka pun berpisah dan pergi ke jalur masing-masing sesuai kelompoknya.
***
“Nampaknya kita bersama lagi ya, Eri?” Ucap Tohrei sembari mereka menyusuri jalan gua.
“Ya, itu nampak seperti Venoire melakukannya dengan sengaja.” Eriana menghela napas pasrah. Venoire seperti seolah sudah tahu hubungan mereka.
“Haha itu mungkin saja.” Tohrei tertawa, lalu secara tak sengaja dia melihat ke arah kristal-kristal yang menempel di gua. Itu bersinar sangat terang hingga menutup seluruh penglihatannya.
“Apa yang terjadi?” Tohrei terpaksa memejamkan matanya karena silau. Ia kemudian membuka kembali matanya dan sontak terkejut ketika dia tiba di ruang putih tak berujung.
“Kau sungguh kasus yang sangat langka, tidak ada magic spirit yang bisa mengimbangimu.” Sebuah suara wanita yang misterius terdengar ke kepala Tohrei. Membuat gendang telinganya berdengung keras.
“Sistem! Apa yang terjadi?!”
[Sebrndnrj erronfbfbfbf terjabdhdvs 92+$;$;;$;$;#!#!@ eoenbsvsjn 8!#+!2 !;:)!¢& :+!#))@! ;:&"&@(@( errrrrorororoororirior]
“Apa yang terjadi pada sistem?” Tohrei bingung dengan tingkah sistem yang aneh.
Tohrei tak diberi kesempatan untuk bernapas tenang, secara tiba-tiba muncul ratusan monster dengan berbagai jenis elemen yang berbeda. Mereka menunjukkan tatapan buas yang sangat kuat pada Tohrei.
“Sial, apa-apaan ini?” Tohrei dengan cepat menjadi tenang, jika situasinya begini, maka ketenangan sangat diperlukan.
“Ratusan monster? Itu bukan masalah, akan kuatasi ini!” Tohrei secara bersamaan menggunakan banyak skillnya.
Flames Magic, Water Magic, Earth Magic, Wind Magic, Creation, Annihilation, Gluttony, Poison Magic dan skill lainnya. Tohrei menggunakannya secara bersamaan untuk membantai para monster-monster itu.
Ratusan lingkaran sihir berbagai warna tercipta di atas langit dan melesat ke arah monster. Sementara itu, dengan menggunakan Creation, Tohrei menciptakan ratusan senjata untuk menusuk dan menebas para monster.
Tohrei menyerang terus-menerus namun seolah tak ada habisnya, monster-monster kembali bermunculan entah dari mana.
“Siapapun yang melakukan ini, akan kupukul kau!” Tohrei berkata seolah dirinya kesal, namun bibirnya tersenyum lebar seperti merasa senang.
__ADS_1
Tohrei rasanya seperti telah bertarung selama puluhan jam. Namun mananya sama sekali belum habis. Jika mananya habis, dia hanya perlu memukul para monster ini dengan kepalan tangannya.
“I-ini sungguh diluar dugaanku ...” Seseorang dari suatu tempat mengawasi pertarungan Tohrei yang brutal.