The Endless System

The Endless System
Ch 151 — Usaha Terakhir(4th Arc End)


__ADS_3

Kehampaan menyelimuti Tohrei, itu bukan hanya karena buku harian itu telah selesai dia baca, namun itu juga karena pesan terakhir yang tertulis di buku itu cukup menyelimuti hatinya.


“Dia menulis dengan usaha terakhirnya ... hanya untuk menyampaikan bahwa dia menyayangiku?” gumam Tohrei yang sesaat setelah menutup buku menghela napas.


Tohrei bisa melihat bahwa tulisan di akhir buku terlukis dengan bergetar dan tidak stabil, menandakan bahwa tulisan itu dibuat dengan kondisi penulisnya yang tidak baik-baik saja.


Tohrei jadi teringat bagaimana ibunya itu tiada dengan tiba-tiba. Saat itu tidak ada seorang pun yang menemani ibunya, dia mati tanpa mengeluarkan tanda-tanda yang jelas, seperti dewa kematian mengambil nyawanya begitu saja tanpa memberitahu.


Kematian memang tidak ada yang tahu kapan akan datang, itu berlaku untuk siapa pun. Hal itu juga berlaku pada Tohrei yang kecelakaan dalam tabrakan bus. Tohrei tidak pernah menduga akan mengalami kematian seperti itu.


Memikirkan tentang ibunya membuat Tohrei teringat masa lalu di kehidupannya yang sebelumnya, dimana dia tidak memiliki sosok orang tua.


Tohrei tinggal di panti asuhan hingga usianya sudah cukup untuk mengambil pekerjaan paruh waktu dan tinggal di apartemen seorang diri. Baginya, panti asuhan bukanlah tempat yang nyaman karena anak-anak sepanti dengannya tidak memiliki hubungan pertemanan yang erat.


Bahkan ketika dirinya keluar dari tempat yang bernama panti asuhan itu, dia tidak merasakan kebahagiaan yang memuaskan.


Namun, sejak dirinya terlahir kembali, dia merasakan kebahagiaan yang lebih memuaskan. Walau dulu dia menjadi cukup lemah, ada Ibunya dan Bibi Ersila yang peduli dengannya.


Ketika dirinya kehilangan kedua orang berharga itu, hatinya merasa sakit. Mereka mungkin hanya ada sebentar dalam hidup Tohrei, namun kenangan yang dia habiskan dengan mereka berdua masih Tohrei ingat.


Mengesampingkan kesedihan yang teringat kembali, Tohrei merasa penasaran dengan identitas dan wajah dari ayahnya.


Dalam buku harian ibunya, hanya dijelaskan bahwa Riito Yuusei adalah seorang pengembara dari luar benua. Tetapi di mana tepatnya asalnya?


Ibunya mengatakan bahwa kekuatan yang dimiliki oleh ayahnya sangat kuat, melebihi rata-rata orang yang berada di benua ini. Ciri-ciri dari ayahnya disebut hampir sama dengan Tohrei oleh ibunya.


Kekuatan yang dimiliki ayahnya dikatakan mampu menghancurkan ratusan pohon hanya dengan sekali tebas dan mampu memisahkan awan petir.


Jika ayahnya memang sebegitu kuatnya, berarti musuh yang membuatnya tiada pasti begitu amat kuat.


“Dia memiliki aura spirit ... apa dia disummon oleh seseorang?”


Itu adalah kalimat yang tertulis di dalam buku harian, sehari setelah insiden besar yang terjadi. Hal itu membuat sebuah dugaan bahwa penyerangnya adalah spirit. Di dalam catatan tertulis bahwa ibunya merasakan bahwa spirit itu memiliki atribut langka, bukan dari 4 elemen dasar.

__ADS_1


Mencari tahu identitas dari ayahnya serta mencari orang yang menghancurkan Evilia Kingdom. Tohrei rasa itu akan menjadi tujuan dia yang sekarang.


“Kurasa ini akan menarik untuk diselidiki.” Tohrei tersenyum tipis. Rasa penasaran membuatnya ingin mencari tahu.


Tepat ketika Tohrei sudah memantapkan tujuannya, sebuah layar muncul tepat di depannya, sesuatu yang jarang terjadi.


...[Misi baru telah dibuat!]...


...[Misi : Lakukan pencarian Second Metafos Relic Part ke Recalist Kingdom...


...Ketentuan penyelesaian : Temukan Metafos Relic Part...


...Hadiah :...


...(1) 500 Poin Status...


...(2) Petunjuk masa lalu Riito Yuusei]...


Tohrei sedikit terkejut melihat hadiah yang ditawarkan oleh sistem.


Tohrei kemudian menutup layar tersebut, berniat untuk melakukan sesuatu. Dia sebenarnya tidak terlalu sibuk sehingga dia bisa kapan saja melaksanakan misi tersebut.


Namun, dia baru saja dari Heistihart Kingdom, dia ingin istirahat sejenak. Setelah membaca buku harian milik ibunya, Tohrei berniat untuk pergi ke kamarnya.


Dalam perjalanannya ke kamar, dia bertemu dengan Omega dan Alpha. Mereka merupakan beberapa anak yang Tohrei pungut dan dijadikan sebagai pembantu di rumah ini karena anak-anak tersebut tidak punya apa yang disebut tempat tinggal sebelumnya.


Tohrei melihat bahwa kemampuan keduanya sudah menjadi cukup kuat. Tohrei yakin bahwa mereka tidak hanya bisa menjadi sekedar pembantu, namun sebagai penjaga juga.


Kedua anak itu, Omega dan Alpha, begitu hormat ketika menemui Tohrei. Mereka memiliki etika yang baik, seorang pelayan yang sempurna. Anak-anak yang lain selain mereka berdua sepertinya sedang menjalankan tugasnya.


Tohrei tidak berlama-lama. Usai menjawab salam dari kedua anak itu, dia segera beranjak, kembali melangkah menuju kamarnya.


Suara langkah kakinya terus terdengar hingga dirinya tiba di depan pintu kamarnya. Dirinya langsung membuka pintu tersebut.

__ADS_1


“Kapan ... anda tiba?” Suara seorang wanita terdengar dari dalam kamar.


Tohrei sempat keheranan ketika melihat seorang wanita di kamarnya. Awalnya dia pikir dia salah kamar. Namun, setelah dilihat-lihat ini memang kamarnya.


Wanita yang ada di ruangannya adalah Ifrit. Dia dengan santai bertanya kepada Tohrei ketika dirinya ada di kamarnya tanpa Tohrei sendiri ketahui.


“Ifrit? Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanya Tohrei yang masih memegang engsel pintu dari kamarnya.


“Saya sedang membersihkan kamar, tuanku.”


Jika dilihat kembali, Ifrit memang memegang sebuah sapu di kedua tangannya. Masuk akal jika Ifrit menjawab pertanyaannya dengan itu.


Tetapi masalahnya, mengapa Ifrit membersihkan kamarnya? Bukankah itu tugas para The Ath Acilla?


The Ath Acilla adalah sebutan untuk para pembantu utama di mansion ini, yaitu dari Alpha hingga Omega. Membersihkan kamar Tohrei juga termasuk tugas mereka, jadi tentu saja Tohrei merasa heran dengan tindakan Ifrit.


Ifrit bisa mengetahui dari raut wajah tuannya bahwa dia sedang merasa keheranan. Maka, untuk sedikit menjawab keheranan itu, dia kembali melanjutkan.


“Hamba hanya sekedar ingin membersihkan kamar tuanku, ini merupakan salah satu tanda kesetiaan hamba.”


“Yah ... tidak perlu berlebihan, Ifrit. Pekerjaanmu yang membuatmu mengurus wilayah ini saja sudah membuktikan betapa setianya dirimu.”


Ifrit tersentuh mendengar ucapan tuannya, hanya berakhir dengan wajah datar yang berusaha menutupi rasa tersipunya.


Tohrei menyuruh Ifrit untuk segera menghentikan pekerjaan membersihkannya itu karena menurutnya sudah cukup. Setelah Ifrit menuruti itu, Tohrei akhirnya bisa istirahat dengan tenang di kamarnya.


Tohrei langsung tidur setelah menguap sekali di atas ranjang tidurnya. Seharusnya ini akan menjadi tidur yang akan secara singkat membawanya ke pagi hari.


Namun, sebuah mimpi membawa tidurnya menjadi tidak terasa tenang.


Ini tentang perdebatan antara dua spirit. Spirit yang satu beratribut hitam dan yang satunya beratribut merah. Mereka berdebat karena salah satu dari mereka melakukan pengkhianatan, yaitu sang spirit beratribut hitam.


Pada akhirnya mereka bertarung dengan hebat. Spirit beratribut hitam kalah dan dihukum kurungan seumur hidup. Sedangkan sang spirit beratribut merah menang, namun harus membayar itu dengan kerusakan pada tubuh dan ingatannya.

__ADS_1


“Sial ... semua berakhir di situ ...” Tohrei terbangun dengan mengawalinya dengan menggumam.


...~Fourth Arc : The History Of Evilia Kingdom{End}~...


__ADS_2