The Endless System

The Endless System
Ch 39 — Ciuman Yang Manis


__ADS_3

Waktu dengan cepat berlalu. Ifrit serta yang lain pergi ke ruang makan dan sarapan bersama-sama. Hanya Tohrei yang tidak sarapan, itu tentu karena dia sudah sarapan sebelumnya.


Setelah itu Tohrei kembali ke salah satu ruangan. Yaitu ruangan dimana Ryui berada. Tohrei berniat mengecek keadaan disana.


Begitu masuk dia disambut oleh keadaan Ryui yang sedang kelelahan setelah melakukan sesuatu.


‘Sepertinya dia berusaha kabur.’


“Hwa?! Apa yang kau lakukan disini?!” Ryui baru menyadari keberadaan Tohrei beberapa saat setelahnya.


“Kau sepertinya kelelahan setelah berusaha kabur ya?”


“A..apa maksudmu?! Jangan seenaknya bertanya kepadaku!” Ryui dengan malu dan marah menyemburkan sihir api kepada Tohrei. Api yang ia semburkan cukup besar.


“Menyemburkan api kepadaku? Apa-apaan itu?” Tohrei mengarahkan tangannya kedepan.


“” Dia penasaran apakah skill gluttony mempan terhadap sihir.


Seketika sihir Ryui terserap ke tangan Tohrei. Tohrei ingin mencoba skill gluttony kepada sihir Ryui.


[Memperoleh skill : sihir api! Dikarenakan skill telah dimiliki sebelumnya, maka skill akan diubah menjadi 20 poin tukar.]


‘Oh~? Skill yang kuserap akan menjadi poin jika skill itu sebelumnya sudah kumiliki. Menarik.’

__ADS_1


“Kenapa?! Kenapa?! Aku ini harusnya lebih kuat dari manusia! Ah sudahlah! Aku menyerah!” Ryui nampak cemberut. Dia dengan sedih serta kesal masuk ke dalam tempat tidurnya lalu menutupi dirinya dengan selimut.


‘Lah...? Dia menyerah...?’


Ryui merasa malu, sebagai naga tidak ada yang mampu mengalahkannya. Ia begitu menganggap rendah makhluk dibawahnya. Namun begitu bertemu Tohrei, ia dikalahkan dengan begitu mudah. Ia belum pernah merasa semalu ini.


“Apa? Apa alasanmu mengurungku?!”


“Daripada mengurung, aku lebih tepatnya ingin menyembuhkanmu. Aku menaruhmu disini hanya untuk berjaga-jaga agar mansionku tak hancur. Yah, lebih dari itu ada alasan lain yang mendasari mengapa aku membawamu.”


“Hmpp! A...aku sama sekali tidak ingin tahu! Sana pergi jika sudah tidak ada urusan.” Ryui mengatakannya dengan terbata-bata.


‘Jelas dia ingin tahu...,’


“Alasanku membawamu kesini adalah membuat ikatan denganmu. Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin memusuhimu, daripada itu mengapa kita tidak menjadi teman saja?”


“Hah..., baiklah, kau memang sepertinya sulit diajak bicara ya..., kalau begitu aku pamit~” Tohrei menggertak akan keluar dari ruangan.


“Ah! Tunggu sebentar! De...dengarkan aku dulu!” Entah mengapa Ryui mencoba menghentikan Tohrei untuk keluar.


“Apa?”


“Maksudku tadi aku ti..tidak ingin memiliki ikatan sebagai teman.”

__ADS_1


“Terus?”


“Ba...bagaimana jika kita memiliki ikatan yang lebih dari itu?”


“Yah, kurasa tidak masalah.” Tohrei tak tahu ikatan yang Ryui maksud. Mungkin yang lebih dari itu adalah sebagai sahabat.


“Tetapi ada satu syarat.”


“Hm? Syarat apa?”


Ryui secara tiba-tiba melepas selimut dan berjalan ke arah Tohrei. Dia begitu dekat! Tetapi anehnya dia tidak memancarkan hawa membunuh sama sekali.


‘Sudah kuputuskan! Aku akan menjadikannya pasanganku! I...ini bukan karena aku mencintainya! Ini karena aku butuh itu untuk evolusi menjadi true dragon!’ Ryui memutuskan menjadikan Tohrei pasangannya melalui hal yang biasa dilakukan pasangan.


Ryui menarik kerah Tohrei lalu berjinjit. Wajahnya terlihat sangat dekat dengannya. Ryui mencium bibir Tohrei begitu saja tanpa ia sadari. Seketika cahaya terang muncul dari tubuh Ryui. Cahaya itu kemudian memudar lalu menghilang begitu saja.


Begitu Tohrei menyadari dirinya dicium, dia segera melepas ciuman itu dan memegang kedua pundak Ryui. “Hoi! Apa yang kau lakukan?”


Tohrei terkejut ketika melihat Ryui tak sadarkan diri. “Hah..., sebenarnya apa maksud ciuman itu tadi?” Tohrei kemudian menggendong Ryui layaknya seorang putri.


[Itu artinya dia menginginkan anda menjadi pasangannya.]


“Sistem? kenapa kau tiba-tiba mengatakan itu?!”

__ADS_1


“Daripada itu lebih baik aku baringkan Ryui, sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja.” Tohrei menaruh Ryui di tempat tidurnya dan memasangkan selimut.


Tohrei kemudian keluar dari kamar itu. ‘Ngomong-ngomong kupikir rasa ciuman tadi itu manis.’ Tohrei memegang bekas ciuman tadi.


__ADS_2