The Endless System

The Endless System
Ch 109 — Aamun Gin Felix


__ADS_3

Sementara itu, Magreis nampak sangat bersemangat menyelesaikan ujiannya. Daripada terus-menerus berlindung, Magreis menantang hujan lava itu.


Magreis membuat sebuah alat yang nampak seperti tongkat bisbol, namun alat itu dia buat dari sihir lava nya sehingga tentu bahan utamanya adalah lahar panas.


Kalian tahu apa yang akan Magreis lakukan dengan alat itu? Dia melempar balik hujanan lava itu menggunakan tongkat bisbol itu. Siapa yang menyangka bahwa benda itu bisa melempar balik hujanan lava yang terpukul.


Magreis tidak tahu apa syarat kelulusan ujian ini, namun yang ia tahu adalah dia akan bersenang-senang dengan situasi berbahaya ini.


Walau lava yang ia tangkis tak sepenuhnya terhindari, Magreis tak memedulikannya dan tetap terus melakukan hal tersebut. Bahkan jika itu mulai melelehkan pakaiannya secara perlahan.


“Pemuda ini sungguh menarik! Dia memiliki sifat yang mirip denganku! Kuahahaha!!” Seseorang nampaknya sedang tertawa dari balik layar tanpa Magreis ketahui.


“Sudah kuputuskan, kau lulus nak!” Seekor kera berbulu merah secara tiba-tiba muncul di depan wajah Magreis dan mengejutkannya. Itu bahkan sampai membuatnya terjatuh kebelakang.


“Itu mengagetkan! Siapa kau?!” Magreis menunjuk-nunjuk kera itu dengan jantung yang masih merasa kaget.


“Aku? Aku Lava Magic Spirit, Ignive! Mulai sekarang kita akan menjadi rekan!” Makhluk di depannya adalah Ignive, seorang spirit yang memiliki wujud sebagai kera berbulu merah menyala.


“Tunggu, jadi itu artinya aku lulus?” Tepat setelah Magreis mengatakannya, ia secara tiba-tiba berpindah ke ruangan utama dari magic spirit altar. Bertemu dengan yang lainnya.


“Oh, nampaknya orang terakhir sudah disini?” Venoire melirik ke arah Magreis yang tiba disini sebagai yang terakhir.

__ADS_1


“Eh? Apa yang terjadi disini?” Magreis masih kebingungan dengan situasi saat ini.


“Kita semua dipindahkan begitu saja ketika kita menyelesaikan ujian magic spirit. Itu juga berlaku untukmu.” Eriana menjawab pertanyaan Magreis itu.


“Haha kau ternyata yang terakhir kesini Magreis.” Dari sudut lain terlihat Harciest yang menyelesaikan ujiannya lebih cepat dari Magreis. Yah walau itu hanya lebih cepat 30 detik.


“Berisik! Memangnya aku peduli siapa yang duluan?!” Magreis membentak ejekan Harciest dengan kesal.


Venoire menepuk keras tangannya, membuat hening seluruh ruangan, termasuk keributan yang dibuat Magreis dan Harciest.


“Kuharap kalian tenang untuk sesaat, karena aku ingin mengucapkan sesuatu untuk kalian.” Ujar Venoire dengan tenang.


“Untuk pertama-tama, aku ucapkan selamat pada kalian semua karena telah berkontrak dengan para spirit.” Lanjut Venoire.


“Yah hanya itu saja yang ingin kusampaikan, setelah ini seharusnya kita akan ke—” Kata-kata Venoire terhenti, secara tiba-tiba atap gua meledak dan menyebabkan atap tersebut hancur.


Venoire sesegera mungkin menghempaskan bebatuan yang hancur agar tak mengenai mereka semua. Ia saat ini belum tahu apa penyebab ledakan itu.


“Akhirnya aku menemukannya, bedebah sialan!!” Sebuah suara asing terdengar tak lama setelah ledakan. Dari nadanya, nampaknya pemilik suara itu sedang kesal.


“Kalian semua, berdiri lah di belakangku!” Venoire yang merasakan bahaya segera mengamankan para murid agar tak terkena imbasnya.

__ADS_1


‘Siapa yang membuat ledakan itu? Apa itu Mesphyra?!’ Mengingat peringatan dari spirit queen, Venoire terus terbayang dengan Mesphyra.


Perlahan debu akibat ledakan menghilang, kini terlihat sesosok manusia namun memiliki sayap kelelawar serta dua tanduk. Selain dari itu, dia memiliki mata hitam dengan pupil merah yang tentu bukanlah kepunyaan manusia pada umumnya. Dengan kata lain, dia adalah seorang iblis.


Dia adalah seorang pria dengan rambut hitam se pundak dengan kulit pucat. Dia memakai pakaian ala seorang bangsawan.


“Haha, siapa ini? Sungguh tak ada sopan santun, tiba-tiba meledakkan tempat ini.” Venoire membual kepada sosok itu.


“Hm? Rupanya ada lebih banyak orang dari yang kukira, apa salah satu dari kalian adalah orang yang membunuh bawahanku?” Sosok itu memperhatikan ke arah Venoire dan yang lain.


‘Bawahan? Dari ciri-cirinya, sepertinya dia adalah seorang iblis, kalau begitu apa mungkin bawahan yang dia maksud adalah Cresil atau para iblis yang menyerang akademi?’ Tohrei menduga-duga.


“Yah lupakan, pada akhirnya kalian semua akan kuhabisi. Maka, agar kalian tidak mati penasaran, biar kuperkenalkan diriku.” Iblis itu berbicara dengan begitu sombong.


“Namaku adalah Aamun Gin Felix, salah satu jendral iblis Abyss Army. Tujuanku kesini adalah merebut nyawa orang yang sudah membunuh bawahan favoritku. Walau hanya salah satu dari kalian yang membunuhnya, bukan berarti aku akan membiarkan seorang pun kabur.”


Dia adalah Aamun, dia merupakan orang yang sudah memerintahkan Cresil ke kekaisaran ini, namun karena sudah tak merasakan keberadaannya, Aamun menganggap Cresil telah mati.


Bukti itu diperkuat dengan dirinya yang merasakan sedikit keberadaan dari Cresil disini. Namun karena terlalu sedikit, maka dia tak bisa menemukan pasti siapa yang membunuh Cresil.


Para iblis yang menyerang akademi merupakan pasukan yang bukan berada dibawah naungannya. Sehingga itu tak ada sangkut pautnya dengan ini.

__ADS_1


‘Aamun? Kalau begitu nampaknya dia bukanlah Mesphyra.’ Venoire sedikif lega, namun itu bukan berarti dia kini bisa berleha-leha.


Aamun perlahan turun ke lantai gua. Bersamaan dengan itu, sebuah pedang kegelapan muncul di tangan kanannya. “Karena waktu luangku banyak, kurasa akan menyenangkan sedikit bermain-main disini.” Aamun masih dengan raut kesal kink tersenyum sadis.


__ADS_2