
Pertarungan Magreis melawan Yami(Tohrei) menjadi bahan perbincangan dan tontonan murid lain. Saat itu kursi penonton di arena setidaknya diisi oleh kurang lebih 100 orang murid.
“Apa langsung kita mulai saja?” Tohrei sudah dalam posisi siap.
“Ya!” Kedua lengan Magreis seketika dilapisi oleh lava panas. Akan tetapi panasnya itu tidak tersalurkan kepadanya karena ialah pengendali sihir itu.
Mereka diam menatap selama beberapa detik, menunggu siapa yang lebih dulu menyerang. Mereka berdua bersikap awas.
Tohrei sedikit menurunkan kekuatannya agar bisa melakukan pertarungan yang sedikit setara dengan Magreis. Ia baru saja memeriksa jendela status dari Magreis jadi ia bisa tahu bagaimana ia harus bersikap.
»»————««
Name : Magreis Burnie
Class : Martial Magician
Tittle : None
Level : 120
Race : Human
STR : 250
AGI : 136
VIT : 150
INT : 45
<\=\=\=>
Pasive Skill :
Active Skill :
Lava Magic
»»————««
__ADS_1
‘Level 120? Sebagian besar statnya lumayan untuk level sebesar itu, tetapi entah kenapa stat intelligent nya kelihatan aneh.’ Pikir Tohrei setelah menganalisa status Magreis.
Tohrei menurunkan statnya sebanyak 90% sehingga kini rata-rata stat nya sekitar 1000. Cukup sulit untuk menahan kekuatannya hingga sedrastis itu tanpa bantuan sistem.
Waktu terus berlalu namun tak satu pun dari mereka yang bergerak untuk menyerang. Tohrei pun memutuskan untuk menyerang lebih dulu.
‘ ’ Tohrei dalam sekejap membuat sebuah klon dirinya dan membuat klon itu bergerak cepat ke arah belakang Magreis.
Magreis secara spontan merasakan sesuatu dari belakangnya, yaitu Tohrei yang menyerangnya dengan tangan kosong. Ia segera membalas sebelum serangan tersebut mengenainya.
Namun ketika ia menyerangnya, Tohrei yang tidak Magreis ketahui sebagai klon lalu menghilang.
“Ap—?!”
“” Tohrei mencoba meniru sihir milik Cresil namun dengan versi yang lebih kecil.
Sebuah lingkaran sihir hitam tercipta di depan Tohrei. Dari lingkaran sihir itu keluar puluhan ular hitam yang melesat ke arah Magreis.
Magreis secara terburu-buru menciptakan sihir pelindung sebelum ular-ular itu menggigitnya. “!” Tercipta kubah lava yang tercipta melindungi Magreis dari ular-ular itu.
Ketika Magreis merasa bahwa serangan telah berakhir, ia segera membuka kubah pelindungnya. Namun yang dia lakukan bukan sekedar itu, begitu kubah terbuka, Magreis melesatkan puluhan peluru lava ke arah Tohrei.
‘Dia sungguh pengguna multi-sihir!’ Magreis menghindari tsunami itu mundur beberapa langkah sebagai perlindungan diri.
Tohrei sungguh-sungguh layak sebagai pemenang turnamen aelion. Ia sangat cepat hingga membuatnya kewalahan.
‘Ini sungguh menegangkan!’ Magreis tersenyum lebar, sangat jarang ia bisa melawan orang setingkat Tohrei. Walau ia kadang latih tanding melawan sesama murid dari kelas khusus, ia merasakan sensasi yang berbeda saat melawan Tohrei.
“Kini giliranku melawan balik!” Magreis melesat ke arah Tohrei dengan kedua tangannya yang dilapisi oleh lava.
Magreis memberi pukulan namun Tohrei segera menghindar ke samping. Akan tetapi sesuatu yang tak diduga Tohrei terjadi.
Begitu pukulannya meleset, Magreis melepaskan kepalan tangannya dan menghadapkan telapak tangannya ke arah Tohrei.
“!”
Dari telapak tangan itu melesat serangan lava yang mendadak.
Tohrei segera menurunkan tubuhnya menghindari serangan itu. “Ho? Boleh juga.”
“Kalau begitu biar kutunjukan lebih banyak kekuatanku!” Disekitaran Tohrei tercipta puluhan lingkaran sihir biru.
__ADS_1
Dari lingkaran sihit keluar panah-panah air yang melesat ke arah Magreis. Ia tak punya ruang lebih untuk menghindar, sehingga ia hanya bisa melindungi dirinya dengan pelindung seperti yang sebelumnya.
Namun ia terkejut, panah-panah air itu mampu menembus pelindungnya. Ia tak sempat bereaksi sehingga panah-panah itu mengenainya.
“Ghh!” Panah air itu cukup kuat hingga bisa mendorongnya beberapa meter. Pelindung lava miliknya hilang begitu ia menerima serangan.
‘Bagaimana panah-panah itu bisa—?!’
“Kau pasti penasaran mengapa itu bisa menembus pelindungmu bukan?” Tohrei menciptakan sebuah lingkaran sihir besar dua lapis.
Lingkaran pertama berwarna biru sedangkan lingkaran kedua berwarna hijau. “Itu karena aku melapisi sihir air dengan angin.”
Dari lingkaran sihir dua lapis itu keluar sebuah air dengan bentuk bor yang berputar. Angin berputar kencang melapisi air itu.
Sihir itu melesat ke arah Magreis dengan cukup kencang.
“Itu sungguh tak terduga.” Magreis kembali berdiri. Ia melapisi kembali kedua tangannya dengan lava. Namun kali ini sangat berbeda, ia melapisinya dengan lava yang sangat besar.
Magreis menahan serangan itu menggunakan kedua tangannya yang dilapisi lava. “Arrghh!” Ia menahan serangan itu walau tetap terdorong ke belakang.
Ia menahannya seberapa detik sebelum tubuhnya melemas karena tak kuat memblokir serangan itu. Alhasil Magreis terhempas hingga menghancurkan tembok. Dia hampir tak sadarkan diri.
Sihir Tohrei sengaja dihilangkan begitu Magreia terhempas. Ia menghampiri Magreis yang terbaring di tembok.
“” Tohrei memberi penyembuhan kepada Magreis.
“Kau Sungguh sangat kuat, bahkan kupikir lebih kuat dari pak tua naga merah.” Magreis tersenyum walau tahu bahwa ia telah kalah.
“Pak tua naga merah?” Tohrei penasaran dengan siapa yang Magreis singgung. Selain dari Ryui, Tohrei belum pernah bertemu naga lain karena kelangkaan ras mereka di tanah enervelia.
“Haha itu hanya masa lalu, bukan hal yang penting.”
“Yah aku tidak akan bertanya lebih banyak.”
“Hah... Aku mendapat hikmah dari pertarungan ini.” Magreis menghela napasnya.
“Huh? Hikmah apa?”
Magreis bangun dan berteriak. ”Bahwa aku harus berlatih lebih keras agar bisa mendapat kekuatan yang kuharapkan! Aku tersadar bahwa aku hanya sekedae katak dalam sumur! Kau menyadarkanku Yami!”
“Kau pasti bisa kalau kau lebih bekerja keras.” Padahal Tohrei mendapat kekuatan hasil dari sistem.
__ADS_1