The Endless System

The Endless System
Ch 155 — Menguntit


__ADS_3

Sang dwarf kaya raya itu tidak tinggal diam. Seolah tak mau menerima kekalahan, dia menawar dengan harga yang lebih tinggi.


“6100 koin gold?! Tidak disangka bahwa masih ada yang menawar harga lebih tinggi!” Ucap sang pembawa acara yang sontak terkejut.


“Siapa yang menawar lebih tinggi? Apa dia tahu fungsi benda ini?” Tohrei merasa heran siapa yang mau membeli kunci ini sedangkan ini tidak mungkin diketahui fungsinya oleh orang awam.


Tetapi, penawaran itu akan sangat percuma karena sangat mudah bagi Tohrei untuk terus menaikkan harga. Pada akhirnya, Tohrei menaikkan harga menuju 7000 koin gold. Itu termasuk jumlah yang fantastis bagi orang-orang di pelelangan ini.


‘Apa dia ingin menghancurkan harga diriku! Tidak akan kubiarkan!’ Sang dwarf yang semakin kesal menambah jumlah harga menjadi 7100 koin gold. Itu merupakan batas yang bisa dirinya berikan.


‘Hah ... yang benar saja.’ Tohrei menghela napas, ikut kesal karena perlawanan lawan lelangnya yang begitu percuma.


Dengan sedikit senyum, Tohrei mencoba membuat kejutan yang mungkin akan membuat seluruh pelelangan merasa syok.


Tohrei menaikkan total harga menjadi 20.000 koin gold.


Seisi pelelangan langsung gempar. Orang yang sekaya itu hingga memiliki 20.000 koin gold di tangannya hanya bisa dihitung oleh jari di kota ini. Mereka jadi penasaran, siapakah sang pemilik 20.000 koin gold itu.


Dengan kepala yang tertunduk, dwarf di ruangan sebelah Tohrei merasakan kekalahan. Memang cukup aneh, tetapi kalah dalam pelelangan bagi orang sepertinya sama seperti dipermalukan di hadapan banyak orang.


“Aku harus mengawasinya!” Sang dwarf merasa harus mengambil jalur curang, dia akan mencuri barang dari orang itu dan mencari tahu mengapa orang itu sangat menginginkannya hingga menawar sebanyak 20.000 koin gold.


***


“Honey ... kurasa akan sangat banyak madu yang bisa didapatkan dengan jumlah koin sebanyak itu ...” Urashia terbelalak, merasa heran mengapa Tohrei rela membuang 20.000 koin emas untuk sebuah kunci.


“Ini bukan masalah, jika aku mau, aku bisa memberimu madu yang jumlahnya lebih banyak dari total koin itu. Masalahnya, ini bukan waktu yang tepat.” Tohrei berdiri dari kursinya, merasa tidak ada urusan lagi di sana dan akan segera mengambil kunci yang dia beli.


“Hm ... kuharap itu bukan kebohongan ..,” gumam Urashia dengan gerakan bibir yang merasa ragu.


Mereka pergi untuk mengambil kunci. Usai itu, Tohrei dan yang lain pergi ke suatu tempat, yaitu lokasi yang dituju oleh Sistem.

__ADS_1


Di sisi lain, sang dwarf dengan penjaganya mengikuti Tohrei yang sedang dalam perjalanannya.


‘Kemana sebenarnya mereka? Pasti ada tujuan tertentu untuk dua ekor demihuman dan satu orang manusia di sini!’ pikir si dwarf yang masih mengikuti mereka.


Beberapa menit berlalu, namun, mereka bertiga segera berhenti, membuat si dwarf penasaran apa yang akan mereka lakukan.


‘Mereka berhenti?’ Dwarf itu menaikkan satu alisnya, segera bersembunyi karena takut di sadari.


Dwarf itu bersembunyi di belakang tembok, seharusnya mereka tidak akan menyadarinya. Namun, itu hanya pikirannya hingga dia menggerakkan matanya dan menemukan Tohrei yang memakai topengnya menatap dengan sangat dekat ke arahnya.


“Hii?!!” Dwarf itu segera jatuh, merasa sangat ketakutan.


“Untuk apa kau mengikutiku, hm?” tanya Tohrei dengan sedikit memiringkan kepala.


“Bajing4n!” Penjaga dari dwarf itu dengan begitu cepat segera menyerang Tohrei, berusaha melindungi tuannya.


Dengan palunya yang sangat besar, dia mengayunkan senjatanya dengan sangat destruktif. Akan tetapi, efek destruktif itu tidak berefek sama sekali ketika Tohrei dengan santai memegang ujung palunya yang sangat berat.


“Sungguh protektif.” Tohrei tersenyum tipis, lalu dengan santai melempar palu itu beserta pemiliknya.


“Sekarang, apa yang kita dapat? Seorang penguntit?” Tohrei menatap dwarf itu seolah sedang menatap semut. Betapa besar Tohrei kelihatannya di mata dwarf tersebut.


Dwarf itu sama sekali tidak menyangka bahwa selain kaya raya, manusia di depannya juga merupakan sosok yang sangat kuat.


“A-apa maksudmu?! Aku hanya sedang berjalan di sekitar sini! Beraninya kau memfitnahku?!” Dwarf itu mencoba membela diri, berharap itu akan berhasil dalam upayanya melarikan diri dari kecerobohan yang dia buat.


“Kau pikir aku bodoh? Aku sudah tahu bahwa kau mengikutiku sedari awal, cebol.” Tohrei mengerutkan dahinya, merasa kesal dengan pernyataan yang dibuat dwarf itu.


“Tetapi, karena aku sedang baik, bagaimana jika aku mengambil seluruh uang di kantongmu? Aku tidak akan membunuhmu kok.” Dengan senyum ramah yang tersembunyi di balik topeng, Tohrei tawar menawar dengan dwarf itu.


“I-iya! Silahkan ambil saja!” Dwarf itu segera merogoh sakunya dan memberi seluruh uangnya, termasuk beberapa perhiasan yang dikalunginya serta kartu vipnya.

__ADS_1


“Terima kasih, lain kali jangan berbuat aneh-aneh lagi ya!” Tohrei segera pergi dari sana, menghampiri Urashia dan Ikumi yang menunggu.


Sementara itu, rasa malu yang dimiliki dwarf itu menjadi lebih meluap. Namun, kini dia sadar bahwa rasa malu ini menjadi lebih buruk karena ulahnya sendiri.


“Sial ... ini sebuah kesalahan ...”


***


“Apa sudah selesai, Master?” tanya Ikumi, yang menunggu Tohrei bersama dengan Urashia.


“Ya, sudah selesai, jadi ayo lanjutkan tujuan kita,” balas Tohrei yang berjalan ke arah mereka.


Lokasi yang mereka tuju adalah sebuah air mancur yang berada di pusat kota. Untung saja tempat itu sedang sepi ketika mereka sampai sehingga tidak ada mata yang melihat.


Tohrei menoleh ke sekitar dan menemukan sebuah lubang kunci di tembok air mancur. Merasakan sebuah keterhubungan, Tohrei mengeluarkan kunci yang sudah ia dapat dan memasukkannya ke dalam lubang tersebut.


“Apakah ini tempat yang tempat untuk menaruhnya?” gumam Tohrei yang berjongkok untuk memasukkan kuncinya.


Tak lama kemudian, tempat air mancur itu bergetar. Air yang mengalir keluar dari pancuran tersebut seketika berhenti. Lalu, pancuran itu bergerak, berpisah menjadi dua, membuka sebuah jalan tangga menurun ke suatu tempat.


“Woah! Darimana kau tahu suatu hao seperti ini, honey?” tanya Urashia yang merasa sedikit heboh karena belum pernah melihat mekanisme seperti ini.


Di sisi lain, Ikumi juga merasakan kehebohan, terus berkata terbuka dan terbuka ketika pancuran terpisah menjadi dua.


“Ayo turun, Urashia, Ikumi.” Tohrei langsung melangkah masuk melalui tangga itu diikuti dengan Urashia dan Ikumi di belakangnya.


Awalnya ketika mereka masuk, tidak ada cahaya sama sekali. Namun, dalam beberapa saat, kristal-kristal yang ada di tembok jalan menyala terang, menerangi jalan mereka yang menjadi lebih jelas.


Tohrei yang awalnya akan menggunakan night vision kini mengurungkan niatnya karena merasa sudah tidak perlu.


Mereka berjalan beberapa menit, belum ada tanda-tanda sebuah jebakan atau apapun selama itu. Namun, tak lama kemudian mereka menemukan sekelompok golem batu yang dikelilingi oleh kristal berharga.

__ADS_1


“Seperti yang ku kira, perjalanan ini tidak berjalan selancar itu.” Tohrei segera menyuruh Ikumi dan Urashia untuk bertarung bersamanya.


__ADS_2