
[600 Status Point ditambahkan]
Setelah dengan terpaksa memesan kamar tersebut, mereka berdiskusi di kamar itu juga. Hal tersebut mengenai tujuan mereka kesini.
“Apa tujuan kita ke kota ini tuanku? Apa ini berkaitan dengan turnamen yang dibicarakan tadi?” Tanya Ifrit beserta dengan dugaannya.
“Seperti dugaanmu, tujuan kita kesini memang berkaitan dengan itu. Atau lebih tepatnya memang itulah tujuan kita kesini.” Ucap Tohrei yang membenarkan dugaan Ifrit.
“Memangnya apa yang menarik dengan turnamen itu Master?” Tanya Ikumi yang penasaran.
“Yang menarik adalah hadiahnya, aku mendapat informasi kalau hadiahnya adalah sebuah alat sihir yang katanya adalah bagian dari alat sihir lain yang sangat kuat. Jika disatukan maka alat sihir itu akan sempurna, itu memang hanya sebuah bagian tapi lebih baik mengamankannya sekarang kan? Lagipula alat sihir itu sendiri juga cukup hebat.” Tohrei menjelaskan.
“Hmpp paling itu hanya rumor yang dibesar-besarkan agar banyak orang tertarik untuk ikut serta!” Ucap Ryui.
“Tidak, tidak, aku mendapatkan informasi ini dari orang yang dapat dipercaya jadi akan baik-baik saja.” Tentu saja itu karena informasi yang ia dapat dari sistem.
“Saya mengerti, jadi tujuan anda mau membawa kami agar kami bisa membantu anda agar lebih mudah memenangkan turnamen dengan menyingkirkan peserta lain?” Ucap Ifrit.
“Itu hanya sedikit alasannya, alasan lainnya adalah karena aku ingin kalian mendapat pengalaman bertarung.” Ketika mereka meminta untuk ikut, sebenarnya dia tidak memiliki alasan pasti, namun saat dia mau menolaknya dia baru mendapat ide untuk membawa mereka.
“Ooh jadi begitu!” Ucap Urashia yang seolah mengerti.
“Jadi kapan turnamen itu diadakan Master?” Tanya Ikumi.
“Sekitar dua hari lagi, awalnya aku ingin mendaftar dulu sebelum pergi ke penginapan tetapi karena sudah gelap jadi seharusnya pendaftaran ditutup sementara. Lebih baik kita tidur segera agar bisa segera bangun pagi.”
Atau begitulah yang Tohrei katakan. Hanya ada satu tempat tidur di kamar itu. Jika ia memodifikasi atau menambahkan tempat tidur maka itu akan merepotkan. Alhasil kini mereka harus tidur berhimpitan.
Ikumi tertidur dengan pulas dalam pelukannya. Ifrit entah bagaimana bisa tidur dengan tenang. Sedangkan Urashia tidur dengan posisi yang tidak beraturan. Ryui yang memiliki ukuran terkecil diantara mereka merasa sangat terhimpit.
Bagi pria lain mungkin keadaan ini sangat menguntungkan, tetapi bagi Tohrei ini sangat mengganggu.
‘Sistem, bisakah kau memaksa aku tidur?’
[Sistem bisa melakukannya, akan tetapi akan ada efek debuff berupa rasa lelah berlebih ketika anda bangun.]
‘Biarkan saja, yang kuinginkan sekarang adalah istirahat yang tenang.’
[Perintah diterima.]
—Keesokan Harinya—
Tohrei bangun dan menyadari dirinya tidak terbangun di tempat tidur melainkan di lantai.
__ADS_1
‘Ukh..., jadi ini debuff yang dimaksud sistem?’ Tohrei merasakannya sendiri, bukannya segar bugar, kini Tohrei merasa sangat lelah seolah baru saja selesai lari maraton.
Tohrei menoleh ke tempat tidur dan melihat hanya Urashia yang terbaring disana. Sedangkan yang lain, mereka terbaring di lantai sama sepertinya. Tohrei melihat Urashia masih tertidur pulas.
Tohrei menggaruk kepalanya yang gatal lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah mencuci muka ia membangunkan yang lain.
“Uh..., memangnya sudah pagi ya Master?” Ikumi bangun dengan rambut berantakan.
“Kalau aku membangunkan mu berarti memang sudah pagi.”
“Selamat pagi tuan.” Begitu mendengar panggilan Tohrei, Ifrit bangun dengan tubuh tegak.
“Ya, tapi kenapa tubuhmu kaku begitu?”
“Aaa! Jangan bangunkan aku! Biarkan aku lanjutkan tidurku!” Ryui menutupi dirinya dengan selimut.
“Hei ini sudah pagi, memangnya kau mau bangun kapan? Aku tidak akan memberimu coklat lagi loh jika kau tidak bangun sekarang.”
Ryui seketika melebarkan mata dan menghempaskan selimutnya lalu melesat ke arah Tohrei. “Ja..jangan!” Tatapannya begitu melotot kepadanya.
“...” Tohrei hanya bisa terdiam.
Setelah membangunkan mereka bertiga, Tohrei mencoba membangunkan Urashia. “Bangun Urashia, sudah pagi.”
Tohrei menggunakan sihir airnya dengan seukuran jari. Ia membuat sihir air itu memiliki suhu yang sangat dingin. Lalu sihir air itu dia setrumkan di bagian leher belakang Urashia.
PSHH
“Ah dingin!” Urashia terbangun dan terjatuh dari tempat tidur karena terkejut.
“Apa kau sudah bangun?” Tohrei menatap Urashia dengan senyum kosong.
***
Setelah bangun dan membersihkan tubuh, mereka lekas pergi untuk mendaftar ke turnamen. Letak pendaftarannya tak jauh dari penginapan jadi mereka bisa sampai dengan cepat. Itu juga berkat petunjuk para warga sekitar.
Saat dalam perjalanan ke tempat pendaftaran, mereka melihat sekitaran kota. Tempat ini layak disebut sebagai ibukota karena wilayahnya yang besar dan bangunannya begitu indah.
*(ilustrasi bukan milik saya)
“Ugh..., kenapa harus pakai cara itu sih untuk membangunkan ku?” Ucap Urashia dengan wajah cemberut ketika sampai di tempat pendaftaran.
__ADS_1
“Itu salahmu sendiri karena tidak mudah dibangunkan.” Jawan Ifrit yang mewakili Tohrei.
“Hei aku tidak memintamu menjawab.”
“Bisakah untuk semetara kak Ifrit dan kak Urashia diam? Kita ada di tempat umum loh!” Ikumi memperingatkan mereka berdua.
“Mereka ini sering ribut ya?” Ucap Ryui yang menyimak pertengkaran Urashia dan Ifrit.
“Entahlah.” Tohrei hanya bisa menggeleng pelan.
Mereka segera mendaftar, untuk mendaftar hanya perlu menulis nama peserta dan menggunakan uang sebagai biaya pendaftarannya.
Setelah mendaftar, mereka segera kembali. Namun, Tohrei secara tidak sengaja menabrak seseorang.
“Ah maaf.” Tohrei berniat langsung pergi setelah meminta maaf. Akan tetapi,
“Hei! Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah menabrakku?!” Ujar orang yang bertarabakan dengan Tohrei. Dia berteriak dengan marah.
“Huh? Bukankah aku sudah minta maaf?”
“Minta maaf?! Kau pikir itu cukup untuk memperbaiki harga diriku?! Aku adalah anak bangsawan! Kau seharusnya bersujud minta ampun jika ingin kumaafkan!” Dia menjadi begitu keterlaluan. Dia adalah seseorang yang nampaknya seumuran dengan Tohrei namun sifatnya sangat menyebalkan.
“Aku tidak peduli.”
“Kau pikir bisa pergi begitu saja?!” Tohrei yang berniat pergi dihadang oleh kedua penjaganya.
“Hah..., merepotkan sekali. Kalau begitu inilah akibatnya. ” Seketika waktu melambat hingga ke titik dimana sedikit hampir sama seperti menghentikan waktu.
Dalam kondisi itu, apapun kecuali Tohrei akan melambat. Tohrei dengan cepat melumpuhkan kedua penjaga anak menyebalkan itu.
Setelah itu Tohrei menghampiri anak bangsawan itu. “Sekalian saja.” Tohrei mengarahkan jarinya ke dahi anak itu.
Lalu, dengan sedikit kekuatan dia mengeluarkan sentilan ke dahi anak itu.
“Oh ya, sekalian saja, buat dia agar tidak mampu mengalahkanku.”
Setelah itu Tohrei kemudian kembali ke posisi awalnya. “”
Skill Time Slow dinonaktifkan. Hasilnya, dua penjaga itu terhantam ke tanah dan anak bangsawan yang menyebalkan itu terhempas dan menabrak tembok hingga menghancurkannya. Ia hingga pingsan karena hantaman yang ia terima.
‘Apa yang baru saja terjadi?!’ Batinnya sebelum pingsan. Anak bangsawan itu terbaring di tembok yang hancur dengan luka di dahinya.
“Ayo pergi.” Ucap Tohrei tanpa menghiraukan kekacauan itu.
__ADS_1