The Endless System

The Endless System
Ch 76 — Babak Pertama


__ADS_3

Orang-orang didekat sana menjauh dari Tohrei karena menyadari betapa kuatnya dia. Tohrei dan yang lain pergi kembali ke penginapan. Akan tetapi mereka pergi dengan cara memutar agar tidak ada yang mengikuti.


“Kenapa orang itu tadi tidak sekalian saja dilenyapkan honey?” Tanya Urashia di jalan pulang.


“Biarkan saja, aku sudah memasang sesuatu.” Jawab Tohrei.


“Sesuatu?” Urashia hanya bisa memiringkan kepalanya karena tak mengerti dengan maksud Tohrei.


***


Satu hari berlalu, hari dimana turnamen dimulai telah tiba. Mereka pergi pagi-pagi ke arena yang dijadikan tempat turnamen itu.


Arena itu cukup besar hingga bisa menampung ribuan orang di dalamnya. Arena tersebut memiliki bentuk layaknya sebuah Colosseum. Kalau tak salah, nama tempat ini adalah Bluesky Arena.



(ilustrasi bukan milik saya)


Mereka perlu menunjukkan tanda peserta untuk masuk ke arena sebagai peserta. Ketika mereka memasuki arena, terlihat beberapa puluh orang sudah berkumpul di tengah arena. Mereka adalah peserta sama seperti mereka.


“Pengumuman turnamen akan disebutkan satu jam lagi, untuk peserta yang sudah hadir bisa bebas hingga waktu pengumuman.” Sebuah suara terdengar ke seluruh arena.


Kebanyakan peserta pergi karena pengumuman itu namun Tohrei dan yang lain tetap berdiam di arena.


Tohrei sedikit mengamati para peserta lain. Tohrei menggunakan skill Apprasial untuk memeriksa level mereka dan mendapatkan informasi bahwa diantara mereka tidak ada yang memiliki level diantas 200. Kecuali satu orang dengan jubah hitam dengan sedikit garis ungu. Mengetahui ras dari orang itu, Tohrei tersenyum lebar.

__ADS_1


Setelah satu jam berlalu, akhirnya turnamen akan diadakan. Jumlah peserta yang berkumpul jauh berbeda dari saat Tohrei dan yang lain masuk pertama kali. Kini jumlah pesertanya ada sekitar lebih dari seratus.


Penontonnya sendiri berjumlah kurang dari seratus karena babak pertama tidak akan terlalu menarik. Kebanyakan penonton di babak pertama menganalisa para peserta untuk dipertaruhkan. Dalam turnamen seperti ini wajar jika ada yang namanya taruhan ke peserta. Iu sendiri juga menjadi keuntungan pihak penyelenggara turnamen.


“Ehem, karena turnamen akan diadakan, aku akan menjelaskan peraturan dan kualifikasi kemenangan.” Seseorang yang berada di kursi istimewa mencoba menjelaskan mengenai turnamen ini.


“Pertama mengenai peraturannya. Aturannya cukup sederhana, kalian hanya tidak boleh membunuh peserta lain. Cukup membuat mereka pingsan maka itu sudah cukup untuk mendiskualifikasikannya.”


“Kedua, mengenai kualifikasi kemenangan. Di babak pertama, kalian semua akan saling bertarung dalam satu arena sekaligus. Dari semua peserta, hanya akan ada 32 peserta yang lolos dari babak pertama, maka babak pertama akan dihentikan jika sudah tersisa 32 peserta.” Jelas orang itu.


“Baiklah, karena aku sudah menjelaskan semuanya maka aku akan pamit. Jadi segera mulai turnamennya!” Orang itu pamit dari sana.


“Babak pertama dimulai!”


Setelah suara itu terdengar, para peserta langsung menyerang semua peserta disekitarnya. Hal itu tak lepas pada Tohrei dan yang lain. Mereka diserang oleh peserta disekitar mereka.


Setelah membuat pingsan peserta yang berniat menyerang mereka, Tohrei memberi perintah pada Ikumi.


“Ikumi, hempaskan mereka jauh dari kita!”


“Baik! !” Seketika peserta di dekat mereka terhempas jauh dan menghantam para peserta lain.


Melihat betapa berbahayanya mereka, peserta lain mencari target lain dan mengabaikan mereka.


“Untuk saat ini kalian terserah ingin melakukan apa, aku akan memperhatikan peserta lain. Jika kalian ingin mengalahkan peserta lain maka buat saja mereka pingsan seperti peraturannya ok?” Ucap Tohrei.

__ADS_1


Mendengar itu membuat mereka berempat pergi menyerang peserta lain untuk mempercepat jalannya babak pertama. Mereka berpencar sedangkan Tohrei hanya duduk santai memperhatikan.


“! Rasakan ini!” Seseorang pemuda berambut coklat menarik perhatian Tohrei. Dengan sihir metal dia menciptakan ratusan pedang besi yang ia lesatkan kepada para peserta lain.


Peserta yang melawannya terpaksa mundur, beberapa dari mereka tak sadarkan diri karena luka yang mereka alami akibat tusukan pedang-pedang pemuda itu.


“Si..sial! Dia tidak bisa didekati!” Mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti menyerang.


Pemuda berambut coklat itu nampaknya sepantaran dengan Tohrei. Dia sepertinya adalah sosok yang bersemangat.


“”


Seseorang yang lain membuat Tohrei tertarik. Begitu orang tersebut mengucapkan sihirnya, bunga es tercipta di sekitarannya. Itu bukan sembarangan bunga es, karena selang beberapa saat bunga es itu melesat satu persatu ke hadapan lawan-lawannya.


Lawan-lawannya yang terkena bunga es itu seketika membeku namun masih dalam keadaan hidup.


“Mereka masih hidup, sebaiknya tim medis segera membawa mereka.” Ucap orang yang menggunakan sihir es itu. Dia adalah seorang pemuda berambut putih yang menutupi dirinya dengan jubah tebal berbahan bulu domba. Ia nampak seperti berasal dari wilayah dengan es tebal.


‘Mereka agak berbeda dengan peserta lain, walau levelnya masih agak setara dengan peserta lain akan tetapi mereka bisa mengimbangi banyak musuh dan bahkan mengalahkan mereka, menarik.’ Batin Tohrei setelah melihat kekuatan dua orang itu.


“Tetapi ada yang lebih menarik dari itu.” Tohrei bergumam sambil tersenyum tipis. Dia melirik ke salah satu peserta lain. Ia adalah sang peserta dengan jubah hitam bergaris ungu.


Peserta berjubah hitam itu hanya diam namun peserta disekitarnya menjauh. Itu karena ketika peserta lain mendekati orang berjubah hitam tersebut, mereka merasakan bisikan yang membuat mereka merasa merinding.


Ketika Tohrei masih sibuk mengamati peserta lain, secara tiba-tiba ia diserang oleh makhluk misterius dari belakang. Namun dengan sigap Tohrei menahan serangan itu. Sebelum sempat menangkapnya, makhluk itu sudah kabur lebih dulu.

__ADS_1


‘Huh? Apa-apaan itu?’ Pikir Tohrei setelah menghadang serangan makhluk misterius itu.


__ADS_2