The Endless System

The Endless System
Ch 69 — Berbincang Dengan Viriet


__ADS_3

“Jadi Urashia, bisakah kau melepas tuan sekarang?” Ifrit melepas dengan paksa Urashia.


“Tidak! Biarkan aku memeluknya lebih lama!”


“Oh, jadi kau ingin porsi makanmu berkurang?” Dengan mata yang menatap tajam kepadanya, Ifrit mengancam Urashia.


Mendengar itu membuat Urashia terkejut, namun ia tidak akan goyah. “I..itu tidak cukup untuk mengancamku!”


“Kalau begitu kalau ku kurangi setengah?”


“E...eh?! Jangan sampai setengah juga!”


“Uh, jadi bisakah kalian hentikan pertengkaran ini? Aku masih memiliki urusan lain?” Tohrei angkat bicara.


Menyadari kesalahannya, Urashia melepas pelukannya dan meminta maaf. “Maaf honey, sepertinya aku agak berlebihan.”


“Tidak apa, aku tidak terlalu memikirkannya.” Tohrei mengusap kepala Urashia.


“Fufumu.” Urashia terlihat senang ketika kapalanya di usap. Wajahnya sedikit memerah karena senang. Sementara itu Ifrit dan Ikumi terlihat cemburu.


“Tuanku, saya juga merindukan anda selama ini, apa bisa menerima hadiah dari anda.”


“Hadiah apa?” Tohrei heran mengapa Ifrit tiba-tiba begitu.


“Tolong usap kepalaku.”


“Um, baiklah.” Tohrei tidak tahu kenapa Ifrit meminta itu sebagai hadiah.


“Tidak adil! Aku juga ingin!” Ikumi menghampiri Tohrei dan meminta diusap kepalanya juga.


“Baik-baik.” Tohrei juga mengusap kepala Ikumi.


‘Pada akhirnya kami semua dapat usapan kepala.’ Urashia tidak tahu harus apa.


‘Aku tidak mengerti ada apa dengan mereka, tapi mengusap kepala mereka membuat hatiku tenang.’ Batin Tohrei sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Uh..., dimana ini?” Suara seorang gadis kecil terdengar.


“Ah mereka sudah bangun.” Ikumi menengok ke arah suara setelah mendengarnya.


Perlahan semua anak itu terbangun. Mereka terlihat linglung dan sedikit panik karena tidak mengetahui mereka ada dimana dan lagi mereka bertemu orang yang asing bagi mereka.


“Sejak tadi saya bertanya-tanya, siapa para anak-anak ini tuanku?” Ifrit bertanya kepada Tohrei.


“Mereka adalah anak-anak yang kutemukan di penjara bawah tanah, hanya mereka yang tersisa dari banyaknya orang disana.” Tohrei menjelaskan.


“Si..siapa?”


“Siapa kalian?”


“Orang asing?”

__ADS_1


Ketiga anak itu bertanya, sedangkan tiga lainnya hanya diam dengan raut wajah suram.


“Ah, tenang saja kami bukan orang jahat! Kami tidak membawa kalian kesini dengan niat yang buruk!” Tohrei mencoba menenangkan mereka.


Karena perkataan Tohrei, mereka menjadi sedikit tenang dan melonggarkan kewaspadaan mereka. Wajah Tohrei tidak memancarkan hawa jahat sama sekali jadi mereka bisa merasa sedikit mempercayainya.


“Imut! Jika mereka dirawat dengan benar mereka pasti akan lebih imut lagi!” Ucap Urashia.


“Kalau begitu bisakah kau memandikannya Urashia?”


“Dengan senang hati! Apa kau ingin ikut honey?”


“Kau bercanda? Jangan mencoba menggodaku. Setelah membersihkan mereka, bawa mereka ke ruang makan.”


“Baik-baik.” Urashia kemudian mengarahkan anak-anak itu ke kamar mandi. Anak-anak itu hanya bisa menurut.


“Ikumi, Ifrit, untuk sekarang kalian bebas melakukan apapun, aku ada urusan.”


“Kalau begitu apa aku boleh berduel dengan kak Ifrit?” Tanya Ikumi.


“Ya, terserah pada kalian.” Tohrei kemudian keluar dari mansion.


“Apa Kak Ifrit mau duel denganku?”


“Tentu nona Ikumi, kita sudah lama tidak saling bertarung jadi tidak masalah.” Setelah itu mereka pergi ke tempat yang cocok untuk bertarung.


***


Setelah keluar dari mansion, Tohrei menggunakan telepati. Lebih jelasnya dia bertelepati dengan Viriet.


“Ah, suara ini? Apa ini tuan Tohrei?”


“Ya, ada yang ingin kubicarakan tentang tempat yang akan kau tinggali nanti, apa kau masih akan menetap di dungeon itu?”


“Begitulah, saya belum bisa meninggalkan dungeon ini, jika terjadi sesuatu disini ketika saya tidak ada maka akan sulit untuk mengurusnya, memangnya tuan berencana menempatkan saya dimana?”


“Aku berniat menempatkanmu ke sebuah kota, saat ini kota itu tidak memiliki walikota.”


“Bagaimana bisa kota itu tidak memiliki walikota? Apa yang terjadi disana tuan?”


“Kota itu sangat buruk karena walikotanya tidak bertanggung jawab, jadi aku menghabisinya. Aku sebenarnya ingin menjadikanmu sebagai walikota dari kota itu, apa kau keberatan?”


“Mungkin saya bisa melakukannya jika urusan disini sudah selesai, tetapi saya rasa ini akan memakan waktu cukup lama.”


“Kalau begitu bagaimana jika aku membuat transportasi cepat agar kau bisa berpindah tempat dengan mudah?”


“Huh? Memangnya ada transportasi seperti itu?”


“Aku akan membicarakannya ketika aku sampai ke dungeonmu.”


“Baiklah kalau begitu tuan, sampai jum—” Viriet yang menoleh dikejutkan oleh Tohrei yang secara tiba-tiba muncul entah dari mana.

__ADS_1


“Apa tuan punya skill teleportasi?!” Melihat kejadian itu membuatnya memiliki dugaan tersebut.


“Ya semacam itulah, yang lebih penting ayo bahas hal tadi.”


“Baik!” Viriet segera menyiapkan meja dan kursi untuk diskusi mereka. Ia juga menyiapkan teh dengan menggunakan salah satu skillnya.


“Kau sebenarnya tidak perlu melakukan ini Viriet, aku hanya akan disini sebentar.”


“Menurut saya akan tidak sopan jika tidak menyiapkan semua ini untuk tuan.”


“Jadi mari bahas mengenai hal sebelumnya.” Mereka duduk di kursi yang disiapkan.


“Mengenai transportasi yang kubahas sebelumnya, yang kumaksud itu adalah alat sihir teleportasi. Dengan menandai suatu tempat dengan alat sihir itu maka tempat itu bisa menjadi titik teleportasi dari alat sihir itu.”


“Saya mengerti, itu sudah tentu akan mempersingkat waktu. Tetapi alat sihir semacam itu bukankah termasuk langka? Bagaimana cara mendapatkannya?”


“Tenang saja, aku memilikinya. Aku akan memberikannya padamu.” Tohrei mengeluarkan alat sihir itu dari inventory nya.


Alat sihir itu berupa sebuah kaca, titik merah di dalam kaca itu adalah titik yang sudah ditandai. Jika fokus pada satu titik maka akan menampakan keadaan sekitar titik itu. Cara berteleportasi dengan alat sihir itu mudah, hanya perlu mengalirkan sedikit mana unuk menggunakannya.


Alat sihir ini Tohrei dapatkan dari salah satu misi dari sistem.


“Ini..., bukankah terlalu berharga untuk orang seperti saya?”


“Hei tak usah dipikirkan, aku memberi ini karena aku mempercayaimu.” Lagipula orang yang mengkonsumsi darahnya tidak akan menentangnya.


‘Tuan Tohrei sudah mempercayaiku, maka aku akan menjaga kepercayaan itu. Aku akan melakukan yang terbaik.’ Batin Viriet.


“Kalau begitu saya akan menjaga kepercayaan anda, saya akan mengurus kota itu seperti perintah anda.”


“Itu bagus.” Tohrei meminum seteguk teh.


“Tapi bagaimana cara saya mengurusnya?” Viriet bertanya sambil menggaruk pipinya dengan satu jari.


Tohrei seketika tersedak. Tohrei pikir Viriet memiliki pengalaman dalam hal ini tetapi sepertinya dugaannya salah. Nampaknya lain kali dia harus mencari tahu lebih banyak.


‘Sistem, bisakah kau memberi buku berisi pengetahuan cara mengurus kota?’


[Jika anda menginginkannya, maka anda perlu 300 poin untuk membelinya.]


‘Ya ya gunakan.’


[Buku telah ditaruh ke inventory]


“Kalau begitu mungkin buku ini akan membantu.” Tohrei segera mengeluarkan buku yang baru saja ia beli dan memberinya pada Viriet.


“Terima kasih tuan. Setelah ini apa yang akan anda lakukan?”


“Aku akan kembali ke tempatku. Oh ya, kota itu sudah kutandai jadi kau hanya perlu mencari lokasinya dalam alat sihir itu.”


“Baik tuan.”

__ADS_1


Setelah itu Tohrei kembali ke hutan Ashfriet dengan teleportasinya.


“Yosh, aku tidak akan nengecewakan tuan.” Viriet segera langsung ke kota itu karena ingin melihat secara langsung.


__ADS_2