
Esok hari tiba, Tohrei akan pergi ke akademi hari itu. Setelah dibaca lagi, ternyata terdapat tulisan lain di kertas yang diberikan Venoire.
Tulisan itu berisi lokasi dimana ia harus mengambil seragam akademinya. Sehabis pergi dari restoran kemarin, Tohrei langsung pergi menuju ke tempat pengambilan seragamnya.
Kembali ke esoknya, Tohrei pergi ke akademi tak menggunakan kertas yang diberikan Venoire. Itu karena dengan area detection dia bisa menemukan tempat itu dengan mudah.
Agar tak memakan banyak waktu, Tohrei berteleportasi ke tempat tersembunyi yang ada di sekitar akademi. Alasannya berteleportasi ke tempat tersembunyi tentu supaya tidak ada yang melihatnya muncul secara tiba-tiba.
Tohrei keluar dari lokasi teleportasi dan berjalan di keramaian. Saat ini jalan dipenuhi oleh murid-murid yang menuju ke akademi tak jauh dari sini.
Tohrei berjalan santai, membaur dengan sekitar. Namun karena ia menggunakan topeng, tetap saja ia menjadi perhatian banyak orang. Itu juga lantaran dirinya yang merupakan pemenang turnamen Aelion sehingga banyak yang mengenalinya.
Ketika sudah berada di depan gerbang akademi, ia berhenti, Tohrei merasakan sesuatu yang tak asing ada di belakangnya.
“Eh?! Bukankah itu kau Yami?!” Terdengar suara seorang pemuda dari belakang. Ia adalah Harciest, seorang pengguna sihir metal. Dia juga memakai seragam dari akademi Aelion, nampaknya ia juga seorang siswa disini.
Tohrei berbalik menjawab Harciest. “Oh apa itu kau Harciest dan juga ... Zen?” Tohrei melirikkan matanya ke samping Harciest, terlihat Zen yang juga merupakan siswa.
“Aku tak menyangka melihatmu lagi disini, dengaj seragam itu, apa berarti kau juga murid disini?” Tanya Harciest melihat seragam yang dipakai Tohrei.
“Aku baru akan menjadi murid setelah ini.” Tohrei berjalan masuk melewati gerbang diikuti oleh Harciest dan Zen. Mereka berjalan bersana menuju kelas mereka. Sebelumnya mereka sudah diberitahu kelas mereka.
“Hmm ... keliatannya kita ada di kelas yang sama.” Mereka saat ini berada di depan pintu kelas, yang kebetulan sama-sama akan mereka masuki.
“Apa ini kebetulan?” Harciest tak menyangka hal ini.
“Kalian terlalu banyak berpikir, kenapa kalian tidak langsung masuk saja?” Zen yang sedari tadi diam, kini berbicara dan membuka pintu kelas.
__ADS_1
Begitu ia membuka pintu, Zen melihat tiga orang sudah berada dalam ruangan itu. Tohrei dan Harciest ikut masuk. Ketiga orang yang ada di ruangan menoleh ke arah Zen dan yang lain.
“Halo ...” Harciest mencoba menyapa namun ekspresi mereka yang ada di ruangan terlihat datar sehingga membuatnya canggung.
‘Apa kelas ini memang cukup sepi?’ Tohrei heran mengapa hanya ada tiga orang di dalam kelas ini.
Tiga orang itu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Terdapat seorang pemuda berambut merah dengan gaya rambut seperti duri-duri, ia bernama Magreis Burnie. Lalu ada seorang gadis kecil dengan gaun putih yang lucu sedang memegang sebuah boneka, namanya adalah Isabella Verinica.
Lalu yang terakhir adalah seorang pemuda yang memakai mantel hujan berwarna hitam yang menutupi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia juga memakai masker gas. Rambut atau pun wajahnya tak terlihat dengan jelas. Ia bernama Sei Fausten.
Penampilan Sei sangat bertolak belakang dengan latar dunia ini yang selayaknya fantasi sihir. Sei benar-benar misterius...
Sementara itu, Magreis nampak melirik ke arah Tohrei lalu tersenyum lebar. Ia mendekati Tohrei dengan raut wajah yang terlihat seram.
“Kau yang memenangkan turnamen itu kan?!” Magreis menunjuk ke arah Tohrei masih dengan senyum yang lebar.
“Kalau begitu aku menantangmu bertarung! Aku penasaran seberapa kuatnya kau!” Magreis awalnya berniat mendaftar ke turnamen saat itu, namun iasebelumnya terlalu sibuk hingga Magreis tak bisa ikut serta dalam turnamen. Ia hanya bisa datang sebagai penonton di babak final.
Melihat sang pemenang turnamen ada disini, Magreis merasa tertantang untuk melawannya.
“Yah boleh-boleh saja, tapi aku bahkan tidak mengenalmu, bisakah kau mengenalkan dirimu dulu?” Tohrei merasa sedikit heran dengan Magreis yang tiba-tiba saja menantang bertarung.
“O-oh iya juga! Nama ku Magreis Burnie! Aku seorang pengguna sihir lava!” Dia memperkenalkan dirinya dengan bangga.
“Aku Yami, pengguna um ... sebut saja multi-sihir mungkin?” Tohrei bisa menggunakan berbagai macam sihir, sehingga tak tahu harus disebut pengguna sihir apa.
“Kalau aku Harciest, seorang pengguna sihir metal.”
__ADS_1
“Siapa yang menanyakan namamu?” Magreis merasa Harciest mengganggu persaingan mereka.
Kata-kata Magreis menusuk langsung ke hatinya. “Be-begitu ya? Maaf kalau begitu.”
Harciest menundukkan dan menggaruk kepalanya. Zen yang ada di sampingnya menepuk punggung Harciest, mencoba menenangkannya.
“Waktu pelajaran masih cukup lama, itu waktu yang cukup untuk pertarungan kita.” Ucap Magreis.
“Jadi dimana kita akan bertarung?”
Mereka pergi ke arena akademi. Itu adalah arena yang diperuntukan untuk para murid yang ingin latih tanding. Itu bisa digunakan dalam praktek pembelajaran atau diluar pelajaran.
“Eh? Bukankah itu Magreis? Pengguna sihir langka di kelas khusus!” Para murid secara tak sengaja melihat Tohrei dan Magreis pergi ke arena akademi.
“Yang disebelahnya itu bukankah pemenang turnamen?! Apa mereka akan bertarung?” Para murid berbondong-bondong pergi ke arena.
Mereka sangat penasaran, pasalnya Magreis adalah salah satu murid dari kelas khusus. Kelas khusus sendiri adalah sebuah kelas yang diperuntukan untuk pengguna sihir yang kuat dan langka. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke kelas itu.
Sedangkan Tohrei, atau yang orang-orang kenal sebagai Yami, mereka tahu bahwa ia sangat kuat. Oleh karena itu mereka sangat penasaran dengan bagaimana pertarungan diantara mereka terjadi.
Sementara itu di ruangan kelas khusus ...
“Uh apa kalian tidak akan mengikuti mereka?” Yang Harciest maksud adalah Tohrei dan Magreis.
“Biarkan saja dia, Magreis memang sedikit sinting jika mengenai pertarungan.” Ujar Isabella yang fokus memainkan bonekanya.
“Aku penasaran dengan pertarungan Yami melaqan Magreis, apa kau mau ikut Zen?” Tanya Harciest.
__ADS_1
“Ya, setidaknya aku seharusnya bisa mendapat analisis lebih tentang Yami.” Zen berniat untuk bertarung kembali dengan Yami(Tohrei) suatu hari nanti. Jadi ia butuh analisis mengenai kemampuannya.