
Setelah akhirnya mencapai ujung hutan, tak lama mereka langsung melanjutkan perjalanan sembari menikmati angin yang bertiup. Mereka berjalan santai untuk menikmatinya dan tidak terburu-buru melakukan perjalanan.
Mereka berjalan selama kurang lebih satu jam dan menemukan sesuatu tak jauh dari pandangan mereka.
Yang terlihat tak jauh adalah asap hitam yang begitu jelas. Asap hitam itu berasap dari kebakaran yang terjadi di sebuah desa kecil yang dapat mereka lihat. Kebakaran itu melanda hampir seluruh desa itu.
“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi disana, ayo Ikumi.” Tohrei melesat dengan cepat diikuti oleh Ikumi dengan kecepatan yang hampir sama.
“Um Master!” Ikumi mengangguk pelan dan mengikuti Tohrei.
Mereka sampai di desa kecil itu dan melihat pemandangan berdarah. Mayat-mayat warga desa tergeletak di tanah dengan bekas tusukan di tubuh para mayat.
“Apa desa ini sedang dijarah?” Tohrei melihat sesaat mayat orang-orang itu sebelum mengalihkan pandangan. Dia melihat sekelompok bandit yang sedang menjarah berbagai hal di desa. Bandit-bandit itu menangkap perempuan dan harta-harta di desa itu.
“Ikumi, habisi mereka yang menjarah desa ini!” Ikumi menjawab dengan anggukan dan segera melesat ke arah para bandit itu.
“” Ikumi membuat para bandit itu terpental dengan sihir anginnya dan melepaskan jarahan mereka.
Para warga desa terkejut dengan kemunculan Ikumi yang datang secara tiba-tiba. Sementara itu Tohrei memadamkan api yang membakar desa dengan skillnya.
“” Tohrei menciptakan hujan di atas desa dan air turun perlahan memadamkan api yang berkobar.
“Hujan? Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya tadi cuacanya—?!” Salah satu bandit menoleh ke atas. Dia terkejut namun keterkejutannya dipotong, sebuah tali mengikat seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga ke mulut. Hal itu terjadi kepada bandit lain.
Itu adalah ulah Tohrei, setelah melancarkan sihirnya, Tohrei menggunakan skill creation dan telekinesis untuk mengikat mereka.
Setelah beberapa waktu, mereka berhasil menangkap semua bandit. Kemudian seseorang mendekati mereka dan bertanya.
__ADS_1
“Siapakah kalian berdua? Tetapi mengesampingkan itu kami sangat berterima kasih telah menangkap para bandit yang mencoba menjarah desa ini.” Seorang lelaki tua datang ke hadapan Tohrei.
“Kami hanya pengembara yang kebetulan lewat. Aku Tohrei dan yang di sampingku adalah Ikumi. Anda sendiri siapa?” Tohrei memperkenalkan dirinya serta Ikumi.
“Seorang manusia berdampingan dengan beastman? Sungguh hal yang langka. Aku adalah kades dari desa ini, nama ku Ezardo.”
‘Langka? Apa maksudnya itu sistem?’ Tohrei bertanya kepada sistem setelah sekian lama.
[Di Enervelia, manusia dan beastman tidak berhubungan dengan baik. Itu karena beastman diperlakukan layaknya budak dan dipandang rendah oleh sebagian manusia. Hal itu menyebabkan permusuhan diantara mereka.]
‘Begitu ternyata, itu berarti saat di kota nanti aku harus memberi penyamaran kepada Ikumi agar tidak mengundang hal-hal yang tidak diinginkan.’
“Ezardo kah? Ngomong-ngomong, menurutmu apa yang harus dilakukan pada para bandit ini? Mereka telah membunuh para warga desa.” Tohrei melirik ke para bandit yang telah ditangkap. Para bandit itu hanya bisa memucat berharap sesuatu yang buruk tidak menimpa mereka lagi.
“Bagaimana ya..., saya tidak tahu apa yang harus dilakukan pada mereka, mungkin kita bisa minta pendapat warga desa.” Ezardo menanyai para warga desa, mereka sama tidak tahunya seperti Ezardo.
“Kalau begitu akan kubawa mereka dulu, akan kupikirkan apa yang akan kulakukan pada mereka. Ikumi, ikuti aku dan bawa mereka.” Tohrei berjalan pergi tak jauh dari desa.
“Baik Master.” Ikumi menyeret dengan mudah semua bandit yang berjumlah puluhan dengan menyeret seutas tali yang terhubung dengan tali yang mengikat para bandit.
Tohrei teringat sesuatu yang membuat jalannya terhenti. Dia menoleh ke belakang dan menyampaikan pesan pada kepala desa. “Aku hampir lupa, aku berniat berdiam di desa ini selama beberapa waktu, bisakah kau siapkan kamar untuk kami berdua?”
“Tentu tuan Tohrei.” Kepala desa menjawab.
Setelah itu Tohrei berjalan kembali menuju ke luar desa.
***
__ADS_1
“Sekarang apa yang akan kulakukan pada kalian ya?” Tohrei mulai berpikir mengenai apa yang akan ia lakukan pada para bandit penjarah ini.
“Daripada dibunuh sia-sia, bagaimana jika kulahap kalian dengan gluttony?” Tohrei tersenyum tipis.
“Ikumi, apa kau mampu melihat aku membunuh mereka? Jika tidak berbalik lah karena aku akan melakukannya sekarang.” Tohrei memperingati Ikumi.
“Aku sanggup Master!”
“Baiklah kalau begitu...” Tohrei menghirup napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan skillnya.
“” Mata Tohrei sesaat berwarna keunguan ketika aktivasi skill dimulai.
Asap hitam keunguan keluar dari tangan Tohrei dan melahap seluruh bandit. Para bandit hanya bisa memucat karena merasakan firasat buruk dari asap hitam keunguan itu.
Begitu asap hitam keunguan itu masuk kembali ke tangannya, seluruh bandit lenyap tanpa jejak.
[Tak ada skill yang dapat diperoleh.]
[Reward yang diperoleh digantikan oleh EXP]
[100.000 EXP diperoleh.]
Setelah itu Tohrei secara tiba-tiba berkeringat dingin dan juga napasnya terasa berat. “Membunuh manusia untuk pertama kalinya, ini membuatku merasa bersalah, padahal mereka pun juga bersalah.” Tohrei merasakan hal yang tidak mengenakan setelah membunuh para bandit, padahal sebelumnya ketika ia melihat seseorang terbunuh di depan matanya dia baik-baik saja.
Tetapi perasaan ini tidak memberatkannya, justru dia merasa terbantu karena pastinya hal-hal yang lebih berat pasti akan menimpanya.
[Skill : diperoleh karena guncangan mental yang muncul.]
__ADS_1