The Endless System

The Endless System
Ch 145 — Keputusan


__ADS_3

Alisa tampaknya menawarkan Tohrei untuk menaklukkan negeri ini. Dengan kedatangannya keturunan asli dari kerajaan ini, tentu saja akan tidak terlalu sulit untuk mendapatkan opini rakyat ketika raja yang berkuasa sekarang tidak memimpin dengan benar.


Alisa punya keyakinan bahwa Tohrei tidak akan menolak tawarannya karena memang kerajaan ini seharusnya adalah kepunyaan sang pewaris tahta, yaitu Tohrei.


Akan tetapi, Tohrei dengan senyum tipis berkata, “Kurasa aku harus menolak tawaran itu.”


Alisa sontak terkejut, merasa heran dengan pilihan Tohrei. Matanya melebar, namun itu tidak berselang lama hingga Alisa kembali tenang.


“Apa alasan anda menolak kesempatan ini, Tuan Muda?” tanya Alisa.


“Bukannya aku tidak simpati dengan kondisi negeri ini, tetapi aku sudah mempunyai wilayah yang harus ku urus.” jawab Tohrei.


“Sebuah wilayah ... ?” Alisa tidak mendengar sesuatu seperti ini dari Relon.


“Hutan Ashfriet, wilayah itu ada dibawah kekuasaanku. Yah, sebenarnya daerah penduduk di sana sudah berubah nama menjadi Dezalene Kingdom, tetapi aku belum mengumumkannya.”


Alisa sedikit tidak percaya, namun yang di depannya saat ini adalah pewaris dari darah keturunan Evilia. Alisa tidak merasakan kebohongan dari raut wajah Tohrei.


Jika sudah begini, lalu bagaimana negeri ini bisa diperbaiki?


Alisa sendiri tidak bisa melakukan kudeta, selain karena kekuatan militer yang kecil, walikota lain dari Heistihart sama sekali tidak memedulikan perihal raja saat ini karena yang mereka pedulikan hanyalah kebebasan mereka untuk melakukan hal ilegal.


“Jika kau bersikeras ingin merubah negeri ini, aku setidaknya bisa membantu.” ujar Tohrei yang merasa tidak enak dengan wajah kecewa yang dibuat oleh Alisa.


Alisa tersentak mendengarnya. Tohrei lalu melanjutkan, “Aku bisa membantumu melakukan kudeta, tetapi kaulah yang harus memimpin negeri ini di tanganmu setelah ini.”


“Aku ... ? Mengapa tuan muda yang menunjuk—”


“Ada apa? Apa kau tidak sanggup menggenggam tanggung jawab itu?” Tohrei mengerutkan kening begitu melihat keraguan di wajah Alisa.

__ADS_1


Sang pewaris tahta memberinya kesempatan untuk memimpin negeri ini. Alisa tidak bisa melepas kesempatan ini tentunya. Namun, terdapat keraguan di hatinya yang membuatnya memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika dirinya memimpin Heistihart.


Keraguan terlihat di raut wajahnya, Alisa menundukkan kepalanya. Namun, itu secara berangsur-angsur memudar, tergantikan oleh wajah penuh tekad. Alisa mengepalkan kedua tangannya dan mengangkat kepalanya, menatap Tohrei dengan serius.


“Saya akan melakukannya, menggantikan raja brengs3k itu dan memperbaiki negeri ini! Apakah tuan muda sungguh menyerahkan kekuasaan ini pada saya?” tanya Alisa yang sudah memantapkan tekadnya.


Tohrei tersenyum tipis lalu mengangguk pelan, merasa suka dengan sikap Alisa yang memiliki tekad yang kuat.


“Aku serahkan itu padamu. Sebelum itu, aku harus menghajar raja tak becus yang kau sebut itu.” Tohrei berdiri dari kursi, sudah siap untuk langsung melakukan kudeta yang menyenangkan.


“Ah, ngomong-ngomong Tuan Muda, sebenarnya anda masih bisa mengklaim tanah dari negeri ini walaupun saya menjadi ratu dari kerajaan ini loh.” Tanpa alasan yang jelas, Alisa mengatakan sesuatu yang sudah pasti akan membuat orang biasa tergiur.


“Huh? Apa yang kau bicarakan? Bukankah aku sudah bilang aku tidak terta—”


“Saya tidak mencoba membujuk anda, saya hanya sekedar memberitahu hak yang anda miliki sebagai pewaris tahta sesungguhnya.” Dengan wajah tersenyum, Alisa mengatakannya.


“Maaf jika saya terlalu banyak omong, tuan muda. Sepertinya saya memang terlalu antusias karena anda telah kembali.” Alisa mengatakan hal itu dengan jujur, namun setengahnya karena dia iseng.


“Saya akan meminta Relon untuk mengantar anda ke ibukota.” Lanjutnya yang baru menjawab pertanyaan Tohrei.


Alisa memanggil pelayan di luar ruangan untuk mengantar Relon ke sini segera. Pelayan itu menuruti perintah itu tanpa satupun kata, lantas pergi menuju ke tempat Relon berada.


Menunggu Relon sampai ke ruangan ini, Alisa dan Tohrei melakukan perbincangan kecil. Seperti halnya tentang bagaimana Tohrei bertahan hidup selama ini.


“Hm? Kau menanyakan hal yang seperti itu? Oke, aku akan sedikit menjawab.” Alis Tohrei sedikit terangkat lalu dilanjut dengan seringai kecil di mulutnya.


Tohrei menceritakan bahwa dia hidup bersama Ibunya, yaitu Elicia dan seorang maid yang bernana Ersila, yang merupakan nenek dari Alisa. Namun, bertahun-tahun setelahnya, keduanya telah tiada, meninggalkan Tohrei seorang diri.


“Saya bersyukur ternyata Yang Mulia Ratu dan Nenek masih selamat setelah insiden itu, tetapi sangat disayangkan saya tidak bisa menemui mereka sebelum mereka lebih dulu pergi. Saya ... berduka atas hal itu,” ucap Alisa setelah mendengar apa yang Tohrei sampaikan. Nada yang dirinya sampaikan terdengar sangat mendalam.

__ADS_1


“Jangan berkata dengan nada seperti itu, Alisa. Itu sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu.” Tohrei sebenarnya tahu bahwa itu hal yang wajar karena Alisa cukup akrab dengan neneknya serta Ibunya. Mendengar apa yang Tohrei sampaikan, tentu Alisa akan sangat bersedih.


“Maaf jika saya membuat suasana menjadi suram ... tuan muda.”


Tohrei ingin membalas ucapan Alisa. Namun, sebuah ketukan pintu terdengar, membuat pikiran mereka teralihkan ke sana. Ketukan pintu itu datang di waktu yang tepat.


“Hm? Apakah Relon sudah datang?” gumam Alisa yang mendengar ketukan pintu.


“Permisi, nona. Relon sudah tiba di sini.” ujar sang pelayan yang ada di balik pintu


“Bawa dia masuk.” Balas Alisa, mendengar laporan sang pelayan.


Relon membuka pintu, menapaki lantai ruangan dan melangkah dengan sopan karena dia akan menemui majikan yang dia layani.


“Ada gerangan apa memanggilku, Nona?” tanya Relon ketika menghentikan langkahnya tak jauh dari Alisa.


“Relon, tolong antar Tuan Muda menuju Ibukota, dia akan melakukan revolusi untuk kita.” jawab Alisa, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Relon, hanya mengangkat kepalanya sedikit.


“Saya mengerti, saya akan mengantarnya menuju Ibukota. Kapan tepatnya saya harus mengantarnya?” tanya Relon tanpa menghilangkan rasa hormatnya.


Relon tidak kaget ketika Alisa menyebut Tohrei dengan sebutan Tuan Muda. Itu karena dia memang sudah sedikit mengetahui identitas Tohrei, yaitu pewaris tahta Evilia. Alasan itu juga membuat Tohrei juga menghormati Tohrei.


“Kita harus melakukan ini segera. Jadi, antar Tuan Muda sekarang juga.” Alisa melihat raut wajah Tohrei, dia tampaknya ingin segera menyelesaikan ini sehingga dia menyampaikan ucapan itu pada Relon.


“Baik, kalau begitu, tuan Tohrei, tolong ikuti saya untuk sampai ke ibukota.” Relon menoleh ke arah Tohrei, mengajak Tohrei untuk pergi sekarang.


“Kalau begitu aku pergi langsung, Alisa, biar ku pastikan raja yang mengurus kerajaan ini tertangkap dan dibawa ke sini.” Tohrei berdiri dari sofa, berjalan menuju Relon yang akan memandunya.


“Saya percaya pada anda, Tuan Muda.” Alisa menundukkan kepala sembari tersenyum tipis, merasa tidak perlu ada hal yang dikhawatirkan jika itu diurus oleh Tohrei.

__ADS_1


__ADS_2