
“He...hebat!” Eriana hanya bisa mengucapkan satu kata itu untuk menanggapi kekuatan wanita tua itu.
“Jadi apa anda bisa menjelaskan apa yang telah terjadi, tuan muda? Saya tidak menyangka anda akan dewasa begitu cepat.” Ersila tersenyum tipis melihat Tohrei yang menggendong seorang gadis.
“Apa maksudmu? Aku menemukannya ketika dia sedang dikejar monster itu, aku pun segera menolongnya.” Tohrei memberi penjelasan.
“Um, apa aku sudah bisa turun?” Eriana bertanya dengan posisinya yang masih digendong Tohrei.
Tohrei segera menurunkan Eriana. “Ah iya maaf menggendongmu terlalu lama, kurasa itu tidak nyaman.” Tohrei menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Tidak apa! Kau barusan menyelamatkanku! Jika kau tidak ada maka aku tidak tahu bagaimana nasibku tadi.” Eriana ternyata berterima kasih, dia nampak tak mempersalahkan cara Tohrei menyelamatkannya.
“Tidak-tidak, Ersila lah yang menyelamatkan kita, aku hanya mengulur waktu.”
“Tetapi bagaimanapun kau tetap orang yang telah menyelamatkanku, siapa namamu? Aku Eriana! Kau bisa memanggilku Eri!” Eriana tidak mengungkapkan identitasnya sebagai seorang putri.
“Aku Tohrei. Lalu dia adalah Ersila, maid keluargaku.” Tidak hanya memperkenalkan dirinya, Tohrei juga memperkenalkan Ersila.
“Salam kenal, wanita tua ini adalah Ersila, orang yang telah melayani keluarga tuan muda Tohrei selama bertahun-tahun.”
“Salam kenal Tohrei dan nenek Ersila.”
“Anda bisa memanggil saya hanya dengan nama saja.” Kata Ersila.
“Hm, baiklah jika Nenek Ersila sendiri yang minta.”
__ADS_1
“Oh ya, Tohrei, apa aku bisa memanggilmu Rei? Namamu sulit diucapkan.”
“Tidak apa, aku tidak mempermasalahkan nya.”
“Tuan muda? Bagaimana punggung anda bisa tergores?” Ersila menyadari sebuah bekas cakaran besar di punggung Tohrei.
“Ah ini? Aku terkena cakaran monster ini dan inilah akibatnya.”
“Uh, maaf, karena aku kau jadi begitu.” Eriana merasa bersalah.
“Tidak apa, ini bukan masalah besar.” Tohrei menjawab dengan senyumnya.
“Cincin itu sepertinya menyelamatkan anda ya?” Ucap Ersila.
“Ya begitulah, jika cincin itu tidak ada maka dampaknya akan sangat besar. Tetapi karena hal itu, cincinnya hancur, hehe.” Tohrei tersenyum muram.
Tohrei bergidik ketakutan, dia hanya bisa terdiam.
“Ah ngomong-ngomong, apa yang membuatmu bisa disini?” Tohrei bertanya kepada Eriana. Dia dari awal penasaran dengan itu.
“Aku awalnya sedang berada di suatu perjalanan dengan kereta kuda, tetapi monster misterius datang dan menghalangi. Semuanya mati kecuali aku yang berhasil menyelamatkan diri. Karena itu aku benar-benar bersyukur bertemu denganmu Rei dan juga Ersila!”
Mereka hanya tersenyum menanggapi ucapan Eriana. “Juga, bagaimana monster itu bisa muncul? Bukankah disekitar sini tidak ada monster ya?” Tohrei merasa bingung.
“Ya, ini seharusnya adalah wilayah yang aman dari monster, setahu ku, ruteku adalah rute teraman untuk berpergian antar kota tetapi bagaimana bisa ada monster tiba-tiba?” Eriana ikut merasa bingung.
__ADS_1
“Kemungkinan itu adalah monster yang kehilangan habitatnya atau tersesat. Ini terkadang terjadi.” Ersila mengutarakan dugaannya.
“Oh ya, apa yang akan kau lakukan selanjutnya Eri? Apa kau punya tempat tinggal?” Tohrei mempertanyakan itu.
“Aku? Entahlah, aku tidak tahu jalan pulang, jadi aku tidak bisa kembali.” Dibalik itu, ia sebenarnya malas untuk kembali ke istananya.
“Kalau begitu bagaimana jika kau tinggal sementara dengan kami?”
“Sungguh? Apa itu boleh?”
“Tentu! Bagaimana jika ke rumahku dulu?”
***
Setelah itu mereka berjalan ke rumah Tohrei yang berada di tengah-tengah hutan ini. Tak butuh waktu lama untuk sampai karena hutan ini tidak terlalu besar.
Begitu sampai, Eriana terkejut karena melihat betapa besarnya rumah Tohrei.
‘Bukankah ini lebih mirip istana? Bagaimana bisa ada istana di sebuah hutan?’ Batin Eriana. Walau dia sebagai putri telah melihat yang seperti ini, tetapi istana yang lokasinya ada di hutan belum pernah ia lihat.
“Ayo masuk.” Tohrei mengajaknya masuk.
Mereka pun masuk melalui gerbang dan pergi ke sebuah taman. Mereka melihat seseorang duduk berteduh di bawah gazebo yang ada di taman itu. Dia meminum teh dengan tenang.
“Itu...?” Eriana baru saja menyadari keberadaan orang tersebut.
__ADS_1
“Nyonya Elicia, tuan muda telah kembali.” Ersila menurunkan tubuhnya, memberi hormat kepada orang itu.
“Hm? Jadi kamu telah kembali?” Orang itu merespon. Sosoknya mulai terlihat. Rambut putihnya yang seputih salju tergerai bebas. Bulu matanya yang lentik juga iris matanya berwarna putih sama seperti rambutnya.