
Tohrei berada dalam kristal selama 5 bulan, waktu yang dialami Tohrei lebih lama dari pada yang lain. Yang lainnya merasa khawatir karena ketidakwajaran waktu yang dialami Tohrei namun mereka kini bisa bernapas lega karena Tohrei telah keluar dari kristal itu.
Tohrei sama sekali tak mendapatkan evolusi pada sihirnya. Dia hanya mendapat balasan penambahan 7 level pada statusnya.
Seperti materi sebelumnya, kelas diliburkan usai materi telah diselesaikan. Mereka diliburkan selama seminggu penuh.
Tohrei memanfaatkan waktu kosong itu untuk pergi ke istana kekaisaran, untuk membicarakan sesuatu yang menjadi tujuannya semenjak dirinya datang ke kekaisaran Aelion.
Yaitu perjanjian aliansi antara Ashfriet dengan Kekaisaran Aelion. Tohrei pergi seorang diri ke sana.
Sesampainya di gerbang paling luar istana, dua buah tombak menghalangi gerbang, yang memegang dua buah tombak itu ialah penjaga gerbang.
“Berhenti di sana nak, mau apa kau kesini? Ini bukan sembarang tempat yang bisa kau lewati sesuka hati.” Ucap salah satu penjaga dengan tegas.
Masing-masing dari dua penjaga itu memiliki level yang cukup tinggi, setidaknya mereka memiliki level diatas 170.
“Maaf kalau ini akan menjadi cara yang kasar, kurasa kalau ku bicarakan baik-baik ini tidak akan berjalan dengan lancar, jadi kurasa akan ku pakai cara ini.” Tohrei mengaktifkan skillnya.
“, kau, bilang kepada empress bahwa ashfriet lord akan datang menemuinya.” Tohrei mengarahkan jari telunjuknya pada penjaga bagian kiri.
Penjaga itu tanpa bicara apapun lagi langsung menuruti perintah Tohrei, karena telah dikuasai oleh skill regnare.
“Kau? Apa yang kau lakukan padanya—?!”
“Kau diam saja disini.” Penjaga bagian kanan seketika tak bisa bergerak, terdiam dan tak bisa bertindak apapun.
Tak berselang lama penjaga yang ia suruh tadi kini telah kembali. “Empress telah menyetujui kunjungan ashfriet lord, saya akan memandu ashfriet lord ke tempat yang mulia.”
“Itu aku.” Tohrei berjalan bersama penjaga bagian kiri.
“Oh ya, lupakan semua yang kau ingat tentang ini ya.” Ucap Tohrei pada penjaga bagian kiri. Dia lalu kembali mengikuti langkah dari penjaga bagian kiri menuju tempat yang mulia ratu.
Mereka pergi masuk, namun arah mereka tidaklah menuju ke dalam istana, akan tetapi menuju ke arah taman istana yang begitu luas.
__ADS_1
‘Apa empress ada disini?’ Batin Tohrei ketika menyadari arah dirinya dituntun bukanlah menuju istana.
“Yang mulia Empress ada disana.” Mereka berhenti, tepat tak jauh dari mereka duduk seorang wanita di kelilingi oleh tanah berbunga dan diteduhi oleh atap kayu.
“Oke, kau boleh kembali ke tugasmu, lupakan apa yang sudah terjadi sekarang.” Titah Tohrei pada penjaga, membuatnya kembali ke gerbang dan mendapatkan kembali akalnya.
Tohrei berjalan perlahan ke arah wanita itu. Wanita tersebut menatap bunga-bunga dengan tatapan kesendirian.
“Anda sudah disinikah, penguasa ashfriet? Atau bisa ku sebut dik Rei?” Dia menoleh ke arah Tohrei, menyadari keberadaan Tohrei yang menuju ke arahnya.
“Dik Rei...? Apa kau tahu sebutan itu dari Eri?” Tohrei agak terkejut ketika empress menyebut nama itu.
Mary Annaviel Aelion, empress dari kekaisaran Aelion. Dia merupakan satu-satunya kaisar perempuan dalam sejarah Aelion dan selain dari itu, dia merupakan ibu dari Eriana Viel Aelion, teman masa kecil dari Tohrei.
“Biar ku, tebak, kau kesini untuk membahas aliansi bukan? Maka duduklah disini.” Duga Empress atas kedatangan Tohrei.
“Kau sangat benar yang mulia.” Tohrei duduk di kursi begitu diminta.
“Kau tak perlu se formal itu, aku tahu betapa sulitnya mengatur kalimatmu untuk percakapan yang formal.”
“Semua tipuan takkan luput dari mataku, topeng yang kau kenakan tak ada gunanya.” Ucap Mary dengan santai.
Empress telah mengetahui bahwa Ashfriet Lord adalah Tohrei sejak surat itu dikirim. Bahkan sebelum itu dia sudah tahu Tohrei merupakan teman dari Eriana.
Itu karena skill miliknya yang sangat langka, itu merupakan skill yang di dapatkan hanya pada darah keturunan Aelion. Namun hanya satu dalam beberapa ratus tahun yang dapat memiliki kemampuan itu.
“Itu sangat mengagumkan, Empress.” Tohrei hanya bisa tersenyum tipis mengetahui identitasnya sudah ketahuan.
“Mengagumkan? Lalu bagaimana dengan kemampuanmu untuk mengendalikan para penjaga itu?” Tanya Empress.
“Gh, kau bahkan menyadari itu? Apa kau bahkan sudah menyadari keberadaanku sebelum aku menghampirimu?”
“Yah bisa dibilang begitu.” Empress tak mengelak dari ucapan Tohrei.
__ADS_1
“Kalau begitu nampaknya sudah saatnya kita membicarakan tentang rencana aliansi Ashfriet dengan Aelion.” Tohrei kini masuk ke inti pembahasan.
“Ya, jadi..., apa yang engkau maksud dari aliansi ini?” Tanya Empress dengan suara yang lembut.
“Sebelumnya, aku ingin bertanya, apa status monster bagi Aelion Empire?” Tanya Tohrei sebelum menuju ke kesepakatan.
“Monster adalah musuh bagi kekaisaran ini karena mereka cukup tak terkendali, untuk saat ini hanya para tamer yang bisa mengurusi para monster.” Ujar Empress menjawab dengan singkat perihal pertanyaan yang diutarakan Tohrei.
“Ini merupakan salah satu kesepakatan dalam kerjasama ini, perdamaian dengan monster.”
“Perdamaian dengan monster? Mendengar kau mengatakan itu berarti kau bisa semacam menjinakkan monster? Atau seperti skill untuk berkomunikasi dengan mereka ya?” Empress mempertanyakan kesepakatan ini sembari menduga-duga dengan senyum tipis.
“Yah...., tebakkanmu memang benar, aku punya skill berkomunikasi dengan monster. Bahasa monster tak bisa dipahami oleh manusia, kecuali kalau kau punya skill translasi bahasa.” Setelah mengatakan itu, Tohrei kembali bicara.
“Tetapi apa kau pernah berpikir jika monster bisa belajar bahasa manusia? Aku mencoba melakukan itu.” Tohrei mengatakannya dengan enteng, seolah mengajari seseorang sangat mudah.
“Dan apakah itu berhasil?” Tanya Empress dengan penasaran.
“Ya, itu berhasil, namun aku baru berhasil mengajari beberapa monster dengan tingkat kecerdasan setara manusia sih. Yah, bagaimana pun tak semua monster jahat, dengan caraku bukanlah hal yang tak mungkin untuk kekaisaran Aelion berdamai dengan monster kan?”
“Menarik, dengan begitu, artinya musuh bisa dikurangi. Ini kesepakatan yang sangat besar, apa yang kau inginkan sebagai timbal balik akan hal ini?” Empress tahu betapa kuatnya monster di hutan Ashfriet, jadi dia tentu tahu keuntungan jika berdamai dengan para monster disana.
Malahan, jika dia bermusuhan dengan sang penguasa dari hutan itu, maka artinya sama saja dengan memusuhi seluruh monster di hutan itu.
“Timbal balik? Haha, tentu saja kau mengerti itu.” Tohrei tertawa kecil.
‘Dari ucapan itu, apa artinya dia meminta timbal balik yang sama besar?’ Empress mencoba berpikir timbal balik apa yang akan diinginkan oleh Tohrei.
“Sebenarnya timbal balik yang aku inginkan sederhana, aku hanya sekedar ingin bisa berhubungan dengan Eriana secara damai.” Ucap Tohrei dengan halus dan dalam.
Empress terdiam sejenak, lalu mengucapkan sesuatu. “Apa ada makna tersembunyi dari kalimat itu? Seperti permintaan restu padaku?”
“Pffftt?!” Tohrei yang sedari tadi tenang, secara tiba-tiba terkejut.
__ADS_1
“Apa yang anda maksud, Empress?!”
“Bukan apa-apa....”