
Usai melayangkan nyawa para kesatria, Tohrei berkata sesuatu yang mengejutkan kepada para warga di sana. Sesuatu yang akan mengangkat penderitaan mereka.
“Dengarkan lah, penduduk kota! Aku merupakan perwakilan dari Alisa Rosefene. Kalian penasaran apa tujuanku bukan?” tanya Tohrei kepada para penduduk yang masih merasa ngeri dengan tindakan Tohrei.
Para warga hanya diam, tidak menjawab apapun, namun memang penasaran dengan tujuan kedatangan Tohrei.
“Tujuanku adalah melakukan kudeta! Raja yang busuk itu pantas untuk diturunkan dari tahta! Dirampas hartanya, ditindas haknya, itu yang telah kalian dapatkan karena memiliki raja sepertinya.” Tohrei memulai sebuah pidatonya, berniat untuk mengeluarkan jiwa para warga untuk membelot dari raja.
“Tetapi! Aku di sini akan membinasakan sang raja atas nama keadilan! Jika kalian ingin menegakkan keadilan di kerajaan ini, maka kepalkan tangan kalian dan angkat setinggi-tingginya! Kita hancurkan kekuasaan raja tamak itu! Dengan bersama, tidak ada yang tidak mungkin!” teriak lantang Tohrei yang membuat semangat para penduduk membara.
“Dia benar! Jika bersama kita pasti bisa!” Salah seorang warga membenarkan ucapan Tohrei, tekadnya semakin bulat untuk melengserkan raja.
“Karena raja, lahan pertanianku digusur hanya untuk membuat rumah untuk selirnya! Dia pantas untuk turun tahta!” ujar seorang petani yang kehilangan lahan.
“Raja brengs3k itu merebut anakku yang baru dewasa untuk dijadikan selir!” teriak seorang pria paruh baya yang kesal.
“Dia membuat suamiku dipenjara hanya karena membentak kesatria yang korup!” jerit seorang wanita.
“Tegakkan keadilan!”
“Tegakkan keadilan!”
Para warga dengan sangat intens menyuarakan kekesalan mereka kepada raja. Mereka menyatukan tujuan untuk melengserkan tahta raja itu.
“Dalam sekejap dia membuat tekad para warga memuncak ... sungguh hebat!” Relon masih mengawasi dari kejauhan, merasa lebih kagum lagi dengan Tohrei.
“Kalau begitu ayo ke istana! Usir raja itu dari tahtanya!” sorak Tohrei mengikuti semangat para penduduk.
Para penduduk dengan bersama-sama pergi ke istana. Sembari beramai-ramai ke istana, mereka mengajak lebih banyak penduduk untuk melakukan kudeta itu.
Setelah menyulut semangat penduduk, Tohrei menghampiri Relon dengan santai.
“Bagaimana? Sedikit provokasi dan mereka tersulut untuk melakukan kudeta.” Tohrei tertawa kecil.
__ADS_1
“Itu sungguh hebat, tetapi apakah dengan begitu bukannya akan membuat para warga mendapat korban jiwa?” Relon berpendapat.
Positifnya hal itu akan membuat warga semakin benci dengan raja. Namun nilai negatifnya, mereka akan butuh usaha untuk melakukannya sehingga kemungkinan ada korban jiwa tidak terhindarkan.
“Yah oleh karena itu kita harus cepat membunuh sang raja dan para kesatria agar mereka hanya perlu melihat kematian orang-orang yang sudah menindas mereka.” Tohrei segera mengaktifkan skillnya, berniat secepatnya pergi ke istana.
Relon menemani Tohrei, memberitahu informasi-informasi yang harus Tohrei ketahui, seperti wajah dari si raja.
***
“Apa yang kau katakan?! Penduduk membelot?! Mengapa tiba-tiba?!” Raja yang merasa kesal berteriak kepada kesatria yanh menyampaikan pesan.
“I-itu karena seorang pria misterius, dia memengaruhi penduduk untuk melakukan kudeta.” Kesatria itu menyampaikan hal tersebut dengan keringat dingin yang bercucuran di punggungnya.
Dia merupakan kesatria yang bersembunyi ketika Tohrei membantai sebagian kesatria. Setelah Tohrei membuat warga melakukan pemberontakan, dia dengan segera pergi ke istana untuk menyampaikan ini.
Dia saat ini berada di ruang tahta, memberi informasi tentang pemberontakan yang dilakukan warga kota.
Orang yang di hadapannya adalah raja dari kerajaan ini, Edward riel Heistihart. Perawakannya berbadan agak besar, badan besarnya itu bahkan hampir tidak muat untuk duduk di singgasana. dia memiliki kulit yang sedikit kecoklatan dengan rambut hitam yang sedikit pirang.
Edward menggertakkan giginya, memunculkan sejumlah gigi emasnya. Perasaan marah semakin tergambarkan di wajahnya.
Terdapat tiga orang wanita di samping kanan dan kiri Edward. Satu wanita adalah ratu dan dua lainnya adalah selir yang paling dia sayangi.
Sebenarnya Edward punya selir yang lebih banyak dari itu, namun hanya dua selir yang paling ia sayangi. Selir sisanya hanyalah pemuas nafsu dikala bosan.
Setelah menyampaikan informasi kepada sang raja, kesatria itu disuruh pergi untuk memerintahkan prajurit untuk menahan para pemberontak.
“Sayang, kau tidak perlu terlalu marah, para hama itu tidak mungkin sampai ke sini.” Ratu yang ada di samping kanannya memegang tangannya, menenangkan Edward dengan niat tersembunyi.
“Ratu benar, yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu prajurit-prajurit itu membasmi hama,” ujar selir pertama.
“Lebih baik kita kembali ke kamar saja, anda sudah bosan di sini bukan?” goda selir kedua.
__ADS_1
“Kalian benar, aku tidak perlu melakukan apapun, tinggal menunggu mereka mengurus kekacauan itu,” balas Edward dengan senyum tipis.
Edward kemudian bersama istri dan dua selirnya pergi ke kamar, melakukan sesuatu yang menurut mereka lebih penting daripada mengurus warga yang mereka sebut 'hama'.
***
Sementara itu, Tohrei sesegera mungkin pergi ke istana bersama Relon. Dia sampai ketika Edward sedang berjalan menuju singgasana, beberapa menit sebelum raja itu pergi bersama tiga wanitanya.
Tohrei mengawasi dari balik jendela tanpa diketahui siapapun. Relon masih bersama dengannya saat ini.
“Apakah si gendut itu adalah rajanya?” tanya Tohrei pada Relon.
“Iya. Sebagai tambahan, tiga wanita itu adalah ratu dan selir dari pria itu. Mereka juga berbuat kotor, tetapi Nona Alisa berpesan hanya untuk melumpuhkan ketiga wanita itu, tidak perlu sampai membunuh mereka,” jelas Relon menjawab pertanyaan.
“Oke~ kalau begitu sebaiknya kau segera melapor ke Alisa kalau aku sudah membunuh raja gendut itu.” Tohrei mengibaskan tangannya, menyuruh Relon untuk segera pergi.
“Eh? Tetapi kan—”
“Sssst, aku tidak akan berbohong, tepat beberapa menit setelah kau kembali maka aku sudah membunuhnya.” Tohrei memotong ucapan Relon.
Tohrei kemudian melanjutkan, “Aku akan gunakan teleportasi untuk segera memindahkan dirimu.”
Relon menghela napas, kemudian sepakat untuk itu. “Baiklah, aku akan kembali sekarang.”
Tepat ketika Relon mengatakan itu, Tohrei segera menteleportasikannya menuju kota Rosefene, tempat Alisa berada.
“Sekarang, coba kita amati sebentar, kira-kira apa yang bisa kudengar,” ujar Tohrei dengan senyum tipis.
Tohrei menggunakan invisible lalu melangkah masuk melalui celah. Dia berjalan santai menuju ke singgasana.
Ketika dia masih berjalan, seorang kesatria datang, disaat itulah Edward mendapat informasi pemberontakan.
Ketika kesatria sibuk menyampaikan informasi, Tohrei memperhatikan wajah-wajah di sana.
__ADS_1
“Sigh, wajah mereka terlalu cantik untuk babi gendut ini. Tetapi yah secantik apapun mereka bertiga tetap saja aku harus melumpuhkan mereka.”
Tohrei kemudian mulai berencana untuk membunuh sang raja ketika mereka berempat beranjak dari ruang tahta.