
Sekumpulan golem bangkit dari tanah. Kristal yang berada di sekitar tubuh mereka bersinar terang. Terang dari kristal itu sama terangnya dengan mata mereka yang seolah tidak mudah redup.
Lusinan golem yang bangkit dari batu-batu yang sekedar tergeletak di permukaan tanah. Begitu bangkit, mereka hanya tahu satu hal, yaitu membasmi target di depan mereka.
“Master, sepertinya kelemahan mereka ada di kristal besar di tengah-tengah dada mereka!” Ikumi segera menyadari cara untuk mengalahkan para golem.
“Terima kasih Ikumi, aku sudah menduga itu!” ucap Tohrei dengan santai.
Dimanapun, sudah biasa jika kelemahan sebuah golem ada di kristal yang menjadi inti penggerak tubuh mereka. Tampaknya para golem di depan mereka itu termasuk.
“Honey ... kurasa aku tidak bisa menggunakan kapak milikku di sini! Aku harus bagaimana?!” Urashia bertanya pada Tohrei dengan gelisah.
‘Itu ... tentu saja ...’ Tohrei tahu bahwa tidak mungkin kapak Urashia yang sangat besar bisa cukup muat di ruangan ini.
“Pakai saja kepalan tanganmu!” ucap Tohrei tanpa pikir panjang.
“Oh! Masuk akal juga!” Setelah mendengar ucapan Tohrei, Urashia langsung melihat ke kepalan tangan miliknya, lalu langsung menghantamnya ke golem ketika para batu bergerak itu mulai menyerang.
Ikumi dan Tohrei ikut juga menyerang para golem itu. Hanya dalam beberapa menit, puluhan golem hancur, membuktikan betapa kuatnya mereka bertiga.
“Ini seharusnya sudah berakhir kan ya?” Ikumi dengan santai mengatakan itu.
“Aku ragu ini sudah berakhir ketika kau menanyakan itu Ikumi ...” Pertanyaan yang dilontarkan Ikumi seolah menjadi kutukan pembawa masalah.
“A-apa aku mengatakan sesuatu yang salah?!” Ikumi merasa khawatir lantaran apa yang diucapkan masternya, Tohrei.
Hanya dalam beberapa detik, masalah kembali. Golem yang awalnya sudah hancur menjadi kerikil kini berkumpul menjadi satu, sebuah golem besar dari seluruh golem yang telah dihancurkan.
“Apakah ini usaha terakhir?” Tohrei bertanya pada golem itu.
Pertanyaan yang Tohrei lontarkan tidak dijawab dengan cara yang normal, melainkan dengan sebuah pukulan besar yang kelihatan destruktif.
Tohrei dengan mudahnya menahan pukulan itu dengan telapak tangannya kemudian meremukkannya seolah memeras sebuah tanah. Seketika golem tersebut hancur kembali. Namun, kali ini tidak terasa tanda-tanda bangkit.
Tohrei diam sesaat, melihat batu-batu di depannya, yang awalnya sebuah golem.
“Ada apa, Master?” Ikumi tampak heran ketika melihat Tohrei diam saja.
Pengisi sebuah kekosongan, itulah yang Tohrei pikirkan pada golem penjaga pada ruang bawah tanah ini. Mereka seolah bukanlah penjaga, melainkan hanya hiasan semata, seperti dibuat sengaja untuk dihancurkan dengan mudah.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa, ayo lanjutkan perjalanan.” Mereka kembali berjalan, mencari apa yang ingin mereka temukan.
Selama perjalanan, mereka kembali menemui golem-golem lain. Entah mereka bertiga yang terlalu kuat atau para golem didesain lemah, para golem seakan-akan tidak dimaksudkan untuk memberi ancaman atau pertahanan, seperti yang Tohrei pikirkan sebelumnya.
Setelah lebih dari setengah jam menyusuri, akhirnya mereka sampai ke bagian ujung dari tempat ini.
“Sepertinya disinilah ujuangnya ...” Tohrei melirik kesana kemari memperhatikan ruangan, memastikan tidak ada semacam mekanisme jebakan.
Ruangan yang ada di ujung tempat ini sangatlah sederhana, hanya terdapat metafos relic part yang berada di tengah ruangan, tergeletak di atas altar.
Di tembok-tembok ruangan, terlihat ukiran-ukiran seperti golem-golem yang sedang menyembah seekor elang besar.
“Apa mereka ini golem?“ tanya Ikumi sembari menatap ukiran di tembok.
“Sepertinya begitu. Jika dilihat-lihat lagi, mereka mirip dengan golem yang kita lawan tadi.” tutur Tohrei yang ikut memperhatikan.
“Yang anehnya kenapa di sini mereka terlihat seperti menyembah elang?” Urashia merasakan hal yang menurutnya tidak cocok ketika melihat ilustrasi di tembok.
Golem sangat berhubungan dengan elemen tanah, oleh karena itu biasanya mereka menyembah Gnome, spirit elemen tanah yang agung. Selama ini belum ada catatan tentang golem yang melakukan penyembahan. Golem yang menyembah Gnome saja hanya disebutkan dalam dongeng.
Menemukan ukiran-ukiran seperti ini di bawah tanah mungkin menjadi penemuan yang hebat. Namun, Tohrei tidak peduli akan hal itu.
“Memang apa fungsi benda itu, Master?” tanya Ikumi yang mengalihkan pandangan dari tembok menuju potongan relik Metafos.
“Ini sesuatu yang penting, jika aku mengumpulkan semua bagiannya, akan tercipta sesuatu yang menakjubkan(sepertinya),” ujar Tohrei yang lalu memegang Metafos Relic part.
“Eh?” Tanpa diduga lantai ruangan bersinar terang, membentuk sebuah lingkaran sihir yang misterius.
‘Apa?! Sihir jebakan?! Bukankah hal seperti ini harusnya tidak ada?!’ Tohrei sudah menganalisa ruangan ini dan tidak menemukan satu buah pun sihir.
‘Merepotkan saja!’ Tohrei menggunakan telekinesis untuk menarik Ikumi dan Urashia mendekatinya.
“Tetap dekat denganku!“ teriak Tohrei yang segera menciptakan barrier, jaga-jaga jika akan terjadi sesuatu.
Dalam keadaan seperti ini, Tohrei masih tersenyum, alasannya bukan karena dia terlalu tenang, namun baru kali ini ada sesuatu tidak bisa dia deteksi, membuat semangatnya terpicu.
***
Disuatu sudut benua …
__ADS_1
Dragneint Kingdom, itu merupakan sebuah kerajaan yang berdiri di sudut benua Enervelia. Kerajaan itu dihuni oleh ras dragonoid, ras manusia setengah naga yang merupakan salah satu ras terkuat di benua Enervelia.
Walau disebut-sebut salah satu ras terkuat, Dragneint Kingdom tidak memiliki ambisi besar seperti menguasai ras lain atau memperluas wilayah karena mereka patuh pada para naga yang memberi mereka petunjuk dalam melakukan tindakan besar. Contohnya adalah tindakan mereka yang bermigrasi ke benua Enervelia beberapa ratus tahun lalu.
Membicarakan tentang naga, Yuuryui termasuk dan dia saat ini sedang asik menikmati teh di taman terbesar Dragneint Kingdom.
Akan tetapi, tujuan Yuuryui ke kerajaan ini bukan sekedar minum teh, namun untuk menemui naga kedua yang menghuni benua ini. Benar, ada naga kedua yang tinggal di benua ini.
“Dia yang mengajakku bertemu, namun justru dia yang telat,” keluh Ryui yang sedari tadi duduk dan minum teh seorang diri di tempat pertemuan mereka. Namun yang mengajak bertemu justru telat hadir.
“Maaf lama!!” Belum lama sejak keluhan Ryui terlontar, seorang gadis berambut putih datang dengan sayap di belakang punggungnya.
Gadis itu segera mendarat di dekat Ryui. Tetapi pendaratannya gagal dengan wajahnya yang berakhir bergesekan dengan tanah.
“Huft … Icilia … ada apa dengan tingkahmu ini?” Ryui menyebut gadis itu dengan nama Icilia.
“Yah … seperti yang kau lihat aku terlalu bersemangat.” Icilia segera bangkit setelah insiden konyol tadi.
“Melihat dari wajahmu, aku malah berpikir mungkin kau ini gadis yang baru saja kelar main dengan lumpur.”
“Ja..jahat!” Icilia segera membersihkan wajahnya yang kotor lalu duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan Ryui.
“Jadi jadi bagaimana bisa kau berevolusi menjadi True Dragon?!” Icilia tanpa basa-basi mendobrak meja dengan penuh semangat.
“Kau … seperti biasa langsung ke situ!” Ryui terkejut dengan tindakan Icilia walau tahu bahwa gadis berambut putih itu akan selalu mengejutkannya ketika bersemangat.
Inilah apa yang ingin mereka bicarakan, yaitu cara menjadi true dragon. Icilia tidak tahu karena usianya beberapa puluh tahun lebih muda dibanding Ryui. Tetapi tubuhnya lebih subur dibanding Yuuryui, bikin iri saja.
Meskipun begitu, Ryui kini telah menjadi true dragon, satu poin besar yang menjadi pembeda.
“Baiklah! Akan kukatakan. Karena aku jauh-jauh ke sini maka kau harus dengar ini baik-baik, mengerti?!” Ryui menunjuk-nunjuk, menyuruh Icilia untuk fokus.
“Baik!”
“Langkah pertama : kau harus hibernasi sesuai waktu yang tepat,” jelas Ryui.
“Lalu yang kedua?” Icilia mengangguk-angguk, memperhatikan ucapa Ryui dengan seksama.
“Langkah kedua : cium orang yang kau sukai.”
__ADS_1
“Eh?”