The Endless System

The Endless System
Ch 78 — Purple Wind


__ADS_3

Setelah pertandingan pertama selesai, pertandingan kedua langsung diadakan. Kali ini adalah giliran Ifrit melawan seorang pria bernama Fleish.


Ifrit masih mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya. Tohrei dan yang lain pun begitu.


Ifrit berada di sisi kiri sedangkan Fleish berada di sisi kanan. Masing-masing dari mereka menyiapkan senjatanya. Mereka berdua memiliki senjata yang sama, yaitu pedang.


“Apa kalian sudah siap?” Tanya sang wasit sebelum memulai pertandingan.


Keduanya mengangguk dengan posisi kuda-kuda yang sudah siap.


“Kalau begitu, pertandingan kedua dimulai!” Ucap sang wasit.


Fleish langsung melesat menyerang Ifrit. Gerakan Fleish nampak tak bisa dilihat oleh para penonton akan tetapi berbeda untuk Ifrit. Beberapa peserta juga mampu melihat gerakannya.


Ketika Ifrit menyadari bahwa Fleish sudah berada di dekatnya untuk menyerang, ia langsung menggerakkan pedangnya dengan cepat lalu menangkis serangan Fleish dengan pedangnya itu.


‘Apa?! Aku tidak melihat kalau dia mengayunkan pedang!’ Batin Fleish yang terkejut karena serangannya di tangkis oleh Ifrit.


‘Kalau begini aku akan menggunakan gerakan itu!’ Fleish mundur beberapa langkah.


Fleish lalu berlari dengan kecepatan tinggi melingkari Ifrit. Akibatnya wujud Fleish menjadi tak nampak dan hanya menyisakan angin kencang yang berputar.


Apa yang dilakukan Ifrit? Ifrit hanya berdiam diri dengan tenang sambil menutup mata. Sementara itu Fleish masih waspada, dia mempertahankan gerakannya.


‘Dia masih belum bergerak? Kalau begitu nampaknya aku yang harus bergerak duluan!’ Fleish melesat ke arah Ifrit.


Akan tetapi, ketika dirinya hampir menyerang Ifrit, matanya ditatap tajam olehnya. Ifrit dengan cepat menggerakkan pedangnya dan berusaha melukai Fleish.


Namun Fleish yang hampir telat menyadarinya, segera menghindar dan pergi menjauh. Dia menempel di tembok dengan menancapkan pedangnya.


‘Tadi itu sungguh nyaris! Jika aku telah sepersekian detik saja aku akan terkena tebasannya!’ Fleish berkeringat dingin. Jantungnya juga masih berdegup dengan kencang karena kejadian barusan.


“Ayo kalahkan dia!” Beberapa penonton mendukung Fleish. Mereka mengira bahwa Fleish sedang diatas angin sedangkan Ifrit terpojok. Namun perkiraan mereka sungguh salah.

__ADS_1


“Jangan kalah Ifrit! Kau harus melawanku di ronde berikutnya!” Teriak Urashia yang sepertinya mendukungnya(atau mungkin tidak).


‘Orang itu sama sekali bukan tandingan Ifrit, Ifrit yang sekarang adalah seorang SS grade monster, sedangkan orang itu memiliki level tak lebih dari 150. Yah walaupun Ifrit saat S rank pun kurasa masih bisa mengalahkannya.’ Pikir Tohrei yang memperhatikan pertandingan Ifrit.


“Master! Siapa yang menurutmu akan menang?” Tanya Ikumj pada Tohrei.


“Tentu saja Ifrit.” Ucap Tohrei dengan yakin.


“Benar kan! Ayo Kak Ifrit!” Ikumi memberi dukungan kepada Ifrit.


Sementara itu Ryui mengeluh mengenai kebisingan tempat ini.


‘Ukh..., tempat ini sungguh berisik, jika bisa aku ingin segera mengakhiri pertandingan dengan kekuatanku sendiri. Tapi tampaknya itu hanya akan membuat coklatku diambil Tohrei.’ Batin Ryui sambil memakan coklatnya.


“Apa kau masih berniat menyerang?” Tanya Ifrit pada Fleish. Dia melihat bahwa Fleish sudah terlihat kewalahan melawannya.


“Ya, jika tidak maka aku tidak akan memiliki kesempatan untuk menang!” Fleish menyerang dari atas. Serangannya ditangkis oleh Ifrit walau sudah melakukan itu.


Fleish yang gagal menyerang berniat mundur beberapa langkah. Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan


Tanpa menggunakan kekuatan sihir sedikit pun, Ifrit membuat tebasan yang mementalkan Fleish. Ia memuntahkan darah dari mulutnya karena serangan Ifrit.


Fleish sudah terpental dan terbaring di tanah sehingga sebagian besar penonton menanggap pertandingan kedua sudah selesai.


Akan tetapi, Fleish secara tiba-tiba bangkit dan menopang tubuhnya menggunakan pedang yang ia tancapkan di tanah. Disaat orang-orang berpikir bahwa Fleish masih berniat melakukan perlawanan, sebuah kalimat keluar dari mulutnya.


“Cih, aku menyerah.” Setelah berdecih dan mengakui kekalahannya, Fleish terjatuh dan terbaring kembali ke tanah dan berada dalam kondisi tak sadarkan diri.


“Pemenang pertandingan kedua adalah Ifrit!”


Para penonton bertepuk tangan dan bersorak. Setelah itu Fleish dibawa oleh tim medis dan Ifrit kembali ke tempat Tohrei dan yang lain berada.


Kemudian pertandingan ketiga dimulai. Pertandingan ketiga diisi oleh Ikumi yang melawan seorang pria bernama Sacres.

__ADS_1


Sacres adalah seorang pengguna kapak. Dia membawa sebuah kapak besar di tangannya. Dia terlihat memandang rendah Ikumi karena melihat seberapa kecilnya ukuran tubuh Ikumi dibandingkan dirinya.


“Heh.” Sacres menatap Ikumi sambil tersenyum yang nampak mengejek.


Melihat itu Ikumi merasa kesal, namun dia mencoba menyembunyikan rasa kesalnya sekecil mungkin.


“Apa kalian sudah siap? Kalau begitu Pertandingan ketiga dimulai!” Wasit mundur dari arena.


“!”


Ikumi langsung merapalkan sihirnya. Sebuah lingkaran sihir ungu tercipta dan dari lingkaran sihir itu keluar angin badai berwarna ungu memenuhi seluruh arena.


“Purple Wind?!” Orang-orang yang mengerti akan hal sihir di area penonton merasa terkejut ketika melihat angin berwarna ungu yang di keluarkan Ikumi.


“Hei kenapa kau begitu heboh? Ada apa dengan angin ungu itu?” Seseorang yang berada di dekat seorang penyihir begitu heran mengapa ia begiu heboh.


“Purple Wind adalah sihir yang langka! Berbeda dengan sihir angin biasa, purple wind memiliki efek seperti meniup jauh kekuatan serangan musuh, serangan sihir dengan tingkat yang setara dengan purple wind bisa diterpa jauh. Melihat sihir ini secara langsung sungguh beruntungnya aku! Jika aku bisa memahami sedikit sihir ini mungkin aku bisa meningkatkan pemahaman sihirku!” Jelas panjang sang penyihir.


Penonton di sampingnya terdiam, penjelasan panjang penyihir itu tidak bisa tersampaikan secara penuh ke otaknya. “Memangnya sehebat itu?”


“Kau mungkin akan berpikir berbeda jika terkena sihir itu secara langsung.”


Sacres tidak menyangka serangan itu, dia mencoba menahan dirinya agar tidak terbang karena badai itu. Dia menancapkan kapaknya agar tidak terbang.


‘Ada apa ini? Rasanya seperti energiku ditiup keluar!’ Bertahan di badai purple wind entah mengapa menguras energinya.


Secara tiba-tiba, angin itu berhenti. ‘Huh? Ada apa ini? Kenapa anginnya tiba-tiba berhenti? Apa mungkin mananya habis? Jika begitu maka ini adalah kesempatanku!’ Pikir Sacres sebelum dikejutkan oleh sebuah bor angin yang melesat cepat ke arahnya.


Bor angin itu membawanya ke langit sambil memberi serangan beruntun ke perutnya. Setelah sedikit lama di langit, bor angin itu menghilang dan menjatuhkan Sacres yang sudah tak sadarkan diri ke tanah.


Begitu menghantam tanah, sebuah lubang tercipta di tanah tempat dirinya terjatuh. Setelah itu, dinyatakanlah pemenang pertandingan ketiga.


“Pe..pemenangnya adalah Shirou!” Ikumi juga memakai nama petualangnya sama seperti Tohrei.

__ADS_1


Ngomong-ngomong, dikabarkan kalau Sacres mengalami patah tulang yang parah setelah itu.


__ADS_2