
Sehari berlalu, babak ketiga akan dimulai hari ini.
Para peserta yang tersisa kembali ke pertandingan. Itu termasuk Cresil, tanpa rasa kecurigaan bahwa identitasnya terbongkar.
Arena menjadi lebih ramai dari kemarin, kini hampir seluruh arena dipenuhi oleh suara penonton. Mereka bersorak mendukung peserta favorit mereka.
Saat itu Tohrei dan yang lain baru saja masuk. Mereka dihampiri oleh seseorang.
“Oh! Aku menemukanmu! Terima kasih atas bantuanmu kemarin. Yami, benar?” Orang yang menghampiri mereka adalah Harciest.
“Kita bertemu lagi. Bukankah kau sudah mengucapkan itu kemarin?” Tohrei membalas Harciest dan berbalik.
“Ahaha, aku hanya merasa tidak cukup berterima kasih cuma sekali. Ngomong-ngomong siapa yang bersamamu?” Harciest cukup penasaran dengan beberapa orang bertopeng serta berjubah di samping Tohrei.
Tohrei sendiri juga memakai jubah, namun dia bisa dikenali Harciest karena Tohrei memakai topeng yang kemarin ia pakai. Itu membuat Tohrei bisa dikenali oleh Harciest.
“Mereka adalah rekan-rekanku, mereka juga ikut dalam turnamen ini.” Jawab Tohrei.
“Apa itu artinya mereka sekuat dirimu? Wah pertandingan ini akan semakin sulit artinya.” Harciest merasa bahwa kesempatannya untuk menjadi juara satu semakin sulit.
Harciest sebelumnya tidak mengetahui peserta seperti mereka, itu karena dia sama sekali tidak memperhatikan peserta lain sebelumnya.
“Yah bisa dibilang mereka memang sangat kuat.” Mereka senang ketika dipuji oleh Tohrei. Dibaling topeng, mereka terlihat kegirangan.
“Itu artinya aku harus hati-hati. Tetapi aku tidak akan menyerah dalam turnamen ini!” Harciest tidak langsung menyerah walau tahu lawannya akan sangat kuat.
“Haha, kupuji semangatmu Harciest, akan kutunggu kau di pertandingan selanjutnya. Tapi kurasa kita harus segera masuk, pertandingan akan segera dimulai.”
“Ya! Aku merasa tak sabar menanti ini! Itu karena aku yang akan pertama bertanding.” Harciest bergebu-gebu di babak ketiga ini.
Mereka segera masuk, tak lama kemudian babak ketiga dari turnamen dimulai. Peserta dari pertandingan pertama dipanggil.
__ADS_1
Mereka ialah Harciest dan Urashia. Harciest agak terkejut ketika mengetahui bahwa lawannya ternyata adalah rekan dari Tohrei. Sebelumnya dia hanya mengetahui nama dari lawannya.
‘Eh? Bukankah dia rekan Tohrei? Baru saja memulai pertandingan dan lawanku adalah orang yang kuat, ini begitu menantang!’ Batin Harciest sambil tersenyum lebar.
Urashia dengan jubah juga memakai topeng. Topeng yang ia pakai berbentuk kepala beruang yang buas.
“Apa kalian sudah siap? Pertandingan pertama dimulai!” Sang juri melambaikan tangannnya dari atas ke bawah. Ia menyatakan mulainya pertandingan.
Urashia dengan percaya diri menyerang duluan. Sebuah kapak yang berukuran dua kali lipat dari badannya muncul di tangannya. Urashia dengan lihai mengayunkan kapak itu ke arah lawannya.
Harciest terkejut dengan serangan tiba-tiba Urashia, alhasil dia tak sempat membuat perlindungan yang kuat dan hanya mampu melapisi kedua tangannya yang berposisi silang tepat di atas kepalanya untuk menahan serangan Urashia.
Serangan dari Urashia begitu kuat, Harciest langsung terhempas beberapa meter akibatnya. Untung saja ia mampu menahan tubuhnya agar tak terhempas terlalu jauh, jika tidak maka dia sudah menghantam tembok arena saat ini.
Harciest baru ingin berhapas lega, namun Urashia tidak membiarkan hal itu. Urashia melesat ke arah Harciest dan memberi serangan yang sama namun secara bertubi-tubi.
Harciest terus masuk ke dalam tembok karena terkena terdorong oleh serangan berturut-turut dari Urashia.
‘Sial! Aku tidak bisa mempertahankan pertahanan ini secara terus menerus!’
‘!’
Dari arah belakang Urashia, tercipta sebuah lingkaran sihir besar. Dari lingkaran sihir itu keluar ratusan pedang besi yang terbang melesat ke arah Urashia.
Urashia segera melompat ke atas untuk menghindar. Namun pedang-pedang itu terus mengejarnya seolah diprogram untuk terus menyerang targetnya sampai mengenainya.
Urashia tidak terus-menerus hanya menghindar, dia menyerang balik pedang-pedang itu dengan sihirnya.
“!”
Sihir tanah memerangkap setiap pedang yang melesat ke arah Urashia. Setiap pedang terperangkap dalam sebuah bola tanah yang sangat keras, kerasnya bisa melebihi besi itu sendiri. Alasan logisnya karena sihir Urashia lebih kuat dari spell itu.
__ADS_1
Urashia kemudian mengepalkan tangannya. Pedang-pedang yang terperangkap dalam bola tanah seketika hancur bersama dengan bola tanah itu.
Sementara itu, Harciest berhasil berpindah tempat selagi Urashia disibukkan oleh spell nya.
“Apa kau masih sibuk dengan itu?” Harciest dengan santai mengatakan itu sambil tersenyum ke arah Urashia.
“Sejujurnya tidak jika kau melihat ke atas.” Ucap Urashia setelah selesai meladeni spell Harciest.
Harciest melihat ke atas untuk mengetahui apa yang Urashia maksud. Betapa terkejutnya dia ketika melihat sebuah lingkaran sihir besar berada dengan jelas di atas kepalanya.
Spell Urashia terlalu cepat, sehingga daripada memilih untuk menghindar maka Harciest memutuskan untuk menahannya.
Ribuan batu dengan cepat melesat keluar bagaikan hujan dari lingkaran sihir itu. Serangan itu berlangsung selama semenit. Selama di waktu itu, tak ada yang bisa melihat keadaan Harciest karena area sihir itu tertutupi oleh pasir tanah yang bertiup kencang.
“Kak Urashia hebat!” Sorak Ikumi dari bangku penonton.
“Ku akui dia memang hebat, tetapi spell semacam itu kurasa tidak cukup.” Ifrit ikut memuji Urashia sambil mengungkapkan tanggapannya.
“Harciest pasti menyembunyikan skill lain. Ketika aku mencoba menyelamatkannya, kurasa dia sedang berusaha mengeluarkan skill miliknya kepada Cresil.” Ujar Tohrei dengan senyum tipis di wajahnya.
Durasi dari spell Urashia lalu habis tak lama kemudian. Tanpa diduga, ketika pasir yang mengepul telah hilang, muncul sosok Harciest yang nampak baik-baik saja. Namun ada yang berbeda pada Harciest.
Harciest memakai sebuah armor yang menutupi leher hingga ujung kakinya. Armor itu terbuat dari mithril.
“Itu tadi sungguh merepotkan, untung saja aku tepat waktu mengeluarkan ini.” Ucap Harciest yang berhasil menahan serangan Urashia.
“Sekarang aku akan lebih serius!” Begitu keluar dari sana, sebuah pedang panjang tercipta di tangan Harciest. Pedang tersebut terbuat dari mithril juga.
Urashia tidak terlalu terkejut dengan keadaan Harciest yang baik-baik saja. Malahan, dia merasa puas lawannya tak langsung kalah.
“Maju!” Urashia tersenyum lebar, senyumnya itu nampak seperti senyum yang dimiliki Tohrei ketika tertantang.
__ADS_1
_______
Mohon maaf karena author jarang update belakangan ini. Itu dikarenakan author lagi banyak urusan di real life jadi gak cukup waktu buat nulis. Author usahakan untuk lebih konsisten update kedepannya.