
Hujan es berjatuhan ke arena, rentetan es itu memiliki ketajaman yang mampu menembus tubuh manusia. Akan tetapi Tohrei hanya tersenyum tipis seolah tak ada yang tidak perlu dikhawatirkan.
Kenyataannya memang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“” Tohrei menggerakkan tangannya ke langit-langit arena yang dihujani es berduri.
Seketika, hujan es itu terhenti di udara. Zen serta penonton kebingungan melihat kejadian itu.
Sementara yang lain menatap hujan es yang terhenti, Ifrit, Ikumi, Ryui, dan Urashia menatap ke arah lain. Mereka melihat ke arah Tohrei, mereka terlihat kagum padanya(kecuali Ryui yang menatapnya tanpa alasan yang jelas, itu mungkin adalah nalurinya untuk terus merasa tertarik menatap Tohrei).
Tohrei kemudian menggerakkan es-es itu dengan bebas dengan aba-aba tangannya. Ia lalu menyerang balik, es-es berduri tersebut Tohrei kembalikan kepada Zen.
Hujanan jarum es melesat ke arah Zen, ia tak menduga bahwa Tohrei memiliki kemampuan seperti ini. ‘Sebenarnya ada berapa banyak kemampuan yang dia punya?’ Batin Zen.
“” Zen menghancurkan jarum-jarum es yang melawan balik kepadanya menggunakan badai salju. Es-es tersebut terhempas lalu hancur tak tersisa.
Tohrei tanpa menunggu dengan gesit menyerang Zen lagi. Ia mengeluarkan sebuah pedang dari penyimpanan sistem lalu menggunakannya untuk menebas Zen.
Zen yang tak sempat hanya bisa membuat penghalang es rapuh untuk menahan serangan Tohrei.
Alhasil pedang Tohrei menghancurkan penghalang es tersebut dan bukan mengenai Zen. Ketika es baru saja ia hancurkan, Zen sudah menyiapkan spell lain dengan segera.
“!” Puluhan panah es menyerang tepat ke arah Tohrei, namun ia dengan sigap menggunakan teleportation magic untuk berpindah ke belakang Zen.
“Apa—?! Sejak kapan—?!” Zen merasa terkejut ketika melihat Tohrei tanpa tanda apapun sudah berada di belakangnya.
“!” Tohrei menciptakan sebuah lingkaran sihir tepat di punggung Zen.
Seketika Zen terhempas maju karena serangan yang sangat mendadak berasal dari punggungnya. Ia terguling hingga akhirnya terseret di lantai arena.
Para penonton mengira bahwa Zen sudah tak sadarkan diri, namun tak lama kemudian ia kembali bangkit walau tubuhnya penuh dengan luka.
“Kau masih bisa bangkit? Sungguh mengejutkan, apa kau mau melanjutkan ini?” Tohrei berjalan mendekat ke arah Zen yang masih terlutut.
“Aku... Belum menyerah.... Ini belum seberapa!” Zen berdiri tegak, dia menciptakan sebuah pedang es di tangan kanannya.
Zen menghunuskan pedangnya ke arah Tohrei. “Bertarung sekali lagi denganku!”
“Baik, ku terima.” Tohrei menyimpan pedang yang sebelumnya. Kini ia mengambil pedang lain, yaitu Celerize ZX, pedang yang sudah menemaninya beberapa waktu ini.
__ADS_1
Mereka mengayunkan pedang satu sama lain. Pertarungan adu pedang berlangsung sengit. Ayunan pedang diantara mereka berdua sama-sama lihai.
‘Kemampuan berpedangnya... Boleh juga!’ Tohrei, yang dari kehidupan sebelumnya juga cukup ahli dalam berpedang terkesan dengan keahlian yang Zen miliki.
Ketika Tohrei melakukan serangan mengayun dari atas kebawah, Zen menahan nya dengan pedangnya. Ia lalu mendorong pedangnya dan membuat pedang Tohrei terlempar.
Disaat yang sebentar itu, Zen dengan kesempatan yang kecil melesatkan serangan ke perut Tohrei dari kiri ke kanan.
Akan tetapi, ketika seharusnya tebasannya sudah mengenai Tohrei, sebuah pedang jatuh tepat di bilah pedang Zen dan membuat pedang es nyq hancur berkeping-keping.
Pedang lain yang menghancurkan pedang es milik Zen adalah Celerize XZ yang seharusnya sudah terpental.
‘Pedangku?!’ Zen tersentak kaget.
Celerize XZ bisa jatuh tepat di bilah pedang milik Den karena Tohrei sempat menggunakan telekinesis untuk mengendalikan pedang itu.
Zen segera bergerak mundur, menajamkan matanya ke arah Tohrei tanda waspada. Sementara itu, Tohrei mengambil pedangnya yang menancap di lantai arena dengan santai dan menghunuskannya ke arah Zen.
‘Aku lupa, dia punya kekuatan untuk mengendalikan benda.’
“Majulah, kali ini aku tidak akan menggunakan senjata maupun sihir.” Tohrei menyimpan kembali pedangnya ke dalam penyimpanan sistem.
Tohrei memberi tanda untuk maju melalui tangannya kepada Zen. Pemuda berambut biru muda itu segera saja maju dan melesatkan pukulan keras.
Akan tetapi, Tohrei dengan wajah tersenyum, menghadang pukulan itu dengan telapak tangannya.
Tohrei membalas serangan dengan melakukan tendangan kepala menggunakan kakinya. Zen dengan cepat beraksi, dia menghalangi tendangan Tohrei dengan lengannya agar tak menerima cedera yang lebih serius.
Walau sudah menangkisnya, Zen tetap terhempas ke samping karena tendangan Tohrei yang begitu keras.
‘Apa-apaan tendangannya yang keras itu? Kekuatan fisiknya ternyata sama kuatnya!’ Walau Zen berpikir begitu, sebenarnya Tohrei tak menggunakan kekuatannya secara penuh. Tohrei hanya menggunakan sekitar 2 persen dari seluruh stat nya. Juga, dia meminta sistem untuk menonaktifkan skill absolute avoidance.
“Jangan melamun saja! Ini belum berakhir Zen!” Tohrei melompat dan melesatkan pukulan ke arah Zen.
Zen mundur beberapa langkah sesaat sebelum pukulan itu meluncur ke arah wajahnya. “Sekarang kau mulai berani memanggil namaku?”
“Apa itu salah?” Tohrei kembali memberikan serangan. Kali ini ia dengan serius menggunakan ilmu beladiri. Tohrei tak hanya ahli dalam seni pedang, tetapi juga ilmu beladiri tangan kosong.
Zen menangkis serangan Tohrei, dia menyerang balik. Begitu pun dengan Tohrei, dia membalas setiap serangan Zen.
__ADS_1
Tohrei baru menyadari sesuatu beberapa saat setelah beradu serangan dengan Zen, pemuda berambut biru muda itu juga pandai dalam beladiri.
Mereka terus beradu serangan tanpa henti. Tanpa sadar, Zen melebarkan bibirnya setelah beberapa lama bertarung tangan kosong dengan Tohrei.
Tak ada satu pun dari keduanya yang menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Zen yang memiliki elemen es dapat terus mendinginkan tubuhnya. Sementara itu, Tohrei memiliki vitalitas yang sangat luar biasa banyak sehingga tak mudah untuk dirinya merasa lelah.
Namun, walau begitu Zen memiliki batasan. Menggunakan terus-menerus kemampuan esnya membuat mana nya secara bertahap menipis.
“Mana ku hampir habis, hei, apa aku boleh menggunakan kekuatan penuh ku?” Wajah Zen mulai memucat.
“Aku sama sekali tak keberatan! Keluarkan lah!” Tohrei dengan sigap membuat kuda-kuda bertahan.
“Kalau begitu—” Zen memusatkan mana nya ke kepalan tangan kanannya. Energi es mulai terkumpul dan membuat suhu sekitarnya menurun.
“...!!” Zen menggunakan seluruh energinya di kepalan tangannya, ia melesatkan serangan itu tepat ke arah wajah Tohrei.
Tohrei menahan pukulan itu dengan kedua lengannya yang di silangkan. Seketika energi es membeludak dan mengacaukan suhu di sekitarnya. Hujan salju juga tercipta pasca pukulan itu, membuat pandangan para penonton dan Tohrei sedikit terhalang.
Walau begitu, dengan skill area detection, Tohrei sudah bisa memastikan bagaimana keadaan Zen kini.
Tak lama, Hujan salju menghilang dan menunjukkan siapa pemenangnya pada penonton. Tohrei nampak baik-baik saja, sedangkan itu, Zen sudah terbaring tak sadarkan diri.
“Itu tadi cukup kuat.” Tohrei melihat ke arah lengannya yang sedikit membeku. Akan tetapi perlahan es yang membekukannya meleleh.
“Pemenangnya adalah Yami!” Wasit menyebutkan nama samaran Tohrei sebagai pemenang.
Tepuk tangan dan sorakan gembira terdengar dari seluruh bangku penonton. Itu tadi pertarungan yang cukup meriah.
Tohrei mendekati dan berjongkok di dekat Zen. Dia mengarahkan tangannya ke kepala Zen. “” Seketika tubuh Zen pulih dan mana miliknya sedikit terisi kembali.
“Bawa dia ke ruang perawatan.” Ucap Tohrei pada tim medis yang berada di ujung arena.
“Baik!” Kelompok tim medis yang beranggotakan empat orang membawa Zen keluar dari arena.
‘Jadi kini hanya tinggal pertarungan melawan Cresil kah? Aku menantikannya.’ Tohrei tersenyum tipis ke arah Cresil yang duduk di bangku penonton yang cukup jauh dari arena.
Disisi lain, Cresil juga menajamkan matanya menatap ke arah Tohrei. ‘Aku bisa merasakannya, dia bisa menjadi ancaman yang buruk, tapi aku tak bisa menyerangnya secara diam-diam.’ Batinnya.
“Yah, mari kita lihat saja nanti di pertandingan selanjutnya.” Gumam Cresil sebelum berdiri dari bangku penonton dan pergi dari sana.
__ADS_1