The Endless System

The Endless System
Ch 54 — Masa Lalu Eriana & Tohrei(3)


__ADS_3

“Nyonya Elicia, tuan muda telah kembali.” Ersila menurunkan tubuhnya, memberi hormat kepada orang itu.


“Hm? Jadi kamu telah kembali?” Orang itu merespon. Sosoknya mulai terlihat. Rambut putihnya yang seputih salju tergerai bebas. Bulu matanya yang lentik juga iris matanya berwarna putih sama seperti rambutnya.


Ia adalah ibu dari Tohrei, Elicia Von Evelia. Dia berbicara dengan tenang dan santai.


“Ya, saya telah membawa pulang tuan muda.” Ersila menaikkan badannya kembali.


Elicia melirikkan matanya ke arah anaknya, dia merasa ada yang aneh. “Ini aneh, dimana cincin yang ada di jarimu, Rei? Itu pasti berhubungan dengan bekas luka di punggungmu.”


Tohrei sontak terkejut, padahal dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan tangan serta bekas luka di punggungnya.


“A...apa maksud ibu? Bukankah terlihat jelas kalau aku baik-baik saja?” Tohrei mengatakannya sambil berkeringat dingin.


“Jangan coba-coba menyembunyikannya.” Elicia menaruh gekasnya dan berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah Tohrei. Dia kemudian membalikkan badan Tohrei untuk membuktikan bekas luka itu.


Dan ternyata luka itu memang ada, tiga buah garis merobek punggung dan baju Tohrei. Akan tetapi luka itu sudah mulai sembuh dengan sendirinya dan hanya menyisakan bekas kemerahan yang akan sakit jika disentuh. Elicia menghela napas dan mengomeli Tohrei.


“Sudah Ibu bilang berapa kali untuk berhati-hati! Bibi Ersila itu sudah tua! Dia tidak bisa terus-menerus menjagamu kamu tahu? Jika bukan karena cincin itu kamu sudah tamat Rei! Apa kamu tahu betapa khawatirnya ibu ketika kau pergi begitu saja?!” Ia mengomeli Tohrei habis-habisan.


“Ukh..., aku mengerti Ibu, tidak perlu berbicara terlalu keras-keras.”


“Tidak perlu keras-keras? Ini diperlukan agar kamu jera! Ya ampun, bisakah kamu lebih berhati-hati lagi? Tubuhmu itu lemah.” Tohrei menyerah, dia pada akhirnya hanya terdiam.

__ADS_1


Sementara itu Eriana hanya diam menyaksikannya. Dia bertanya kepada Ersila. “Apa Rei selalu diomeli seperti ini?”


“Iya, dia selalu melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dengan tubuh lemahnya. Tubuh tuan muda tidak lebih dari tubuh orang biasa, tanpa hal spesial.” Ujar Ersila menjawab pertanyaan Eriana.


“Enaknya, mempunyai Ibu yang memperhatikan anaknya.” Eriana bergumam.


“Ah aku hampir lupa bertanya, siapa kamu gadis kecil?” Elicia mengalihkan pandangan kepada Eriana.


“Aku Eriana, aku diselamatkan oleh Rei. Salam kenal ibu Rei.”


“Kamu gadis yang menawan. Diselamatkan? Apa yanh terjadi memangnya.?” Elicia mengakui betapa mempesonanya wajah Eriana.


“Biar saya jelaskan nyonya.” Ersila menawarkan diri untuk menjelaskan.


***


“Jadi begitu, kali ini ibu akan memaafkan mu Rei karena kamu sudah menyelamatkan seseorang.” Elicia senang karena Tohrei menyelamatkan seseorang.


“Jadi, apa Eri bisa tinggal disini?” Tohrei bertanya kepada Ibunya. Tadi sempat juga dijelaskan kalau Eriana tidak memiliki tempat tinggal saat ini.


“Tentu saja, Eriana bisa tinggal disini.”


Tohrei dan Eriana saling bertatapan dengan ekspresi senang. “Kamu bisa tinggal disini Eri!”

__ADS_1


“Um!” Mereka saling berpegangan tangan.


“Tetapi Rei, jagalah Eriana.”


“Tentu!” Tanpa Ibunya suruh, dia pasti akan melindungi Eriana.


***


Kemudian beberapa minggu pun berlalu tanpa disadari. Tohrei dan Eriana semakin akrab. Mereka selalu bermain bersama-sama bahkan mandi bersama. Itu hal yang wajar karena mereka masihlah kecil.


Bersama Eriana cukup lama membuatnya menyadari bahwa dia ternyata cukup jahil. Ketika sedang bermain petak umpet, Eriana menemukannya dan menggelitik nya dan membuatnya kegelian. Fisik Eriana juga ternyata lebih kuat dari Tohrei.


Eriana mendapati fakta bahwa sebelum dirinya hanya ada tiga orang yang tinggal di kediaman ini, yaitu Tohrei, Ibu Tohrei, dan Ersila. Hal itu membuat kediaman ini nampak sepi.


Suatu ketika, saat mereka sedang bermain di taman bunga milik keluarga Tohrei. Mereka berbincang-bincang.


“Eri, apa kamu tidak ingin kembali ke tempat tinggal mu?” Tohrei berkata sambil berjongkok dan memperhatikan bunga di salah satu taman.


“Untuk apa? Aku tidak bahagia disana, aku lebih bahagia berada disini, bersama kalian.” Eriana menjawab pertanyaan Tohrei. Dia saat ini duduk di sebuah bangku panjang tak jauh dari Tohrei.


“Memangnya kamu tidak merindukan mereka? Orang-orang yang kamu kenal disana? Mereka pasti juga merindukanmu.” Tohrei menolehkan kepalanya ke arah Eriana.


Eriana hanya terdiam, ucapan Tohrei adalah benarnya. Dia hanya menatap kaki kanan dan kirinya yang diayunkan secara bergiliran.

__ADS_1


__ADS_2