The Endless System

The Endless System
Ch 113 — Hari Libur


__ADS_3

Sebuah kastil yang begitu besar menjulang tinggi di sebuah tanah tandus nan gelap. Agak kurang pas menyebutnya tanah tandus karena bahkan permukaan tempat itu bukanlah tanah melainkan sejenis batuan aneh yang merusak tanaman.


Di dalam kastil itu duduklah seorang yang mungkin bisa disebut sebagai seorang raja. Dia memakai armor hitam kelam yang menutupi seluruh tubuhnya, tak memperlihatkan satu pun bagian tubuhnya.


Dia duduk di singgasananya sambil memikirkan rencana yang akan ia rencanakan. Ia memikirkannya sembari memegang sebuah pion catur di tangannya.


Ketika ia sibuk memikirkan rencana, sebuah ketukan terdengar dari pintu ruangan. Lantas raja tersebut mengizinkan pengetuk pintu untuk masuk.


“Masuklah, apa ada yang ingin disampaikan?” Suara dari raja itu terdengar seperti suara yang dibuat-buat, suara yang nampaknya berbeda dengan suara aslinya.


Mendengar perkataan sang raja, pengetuk pintu pun membuka pintu dan memberi salam kepadanya.


“Permisi yang mulia, maaf jika hamba menganggu anda.” Seorang pria dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya masuk dan berlutut dihadapannya, menunjukkan rasa hormat yang tinggi.


Ia kemudian mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.


“Maaf jika ini melukai hati anda yang mulia, namun ... lampu kematian Aamun telah menyala. Dalam beberapa jam lampu tersebut akan mati dan jiwa Aamun akan pergi selama-lamanya.” Ungkapnya.


“Apa kau tidak mencoba untuk berbohong?” Aura yang sangat mengerikan timbul dari tubuh sang raja, membuat pria itu berkeringat dingin.


“Saya tak akan berani ..., apa yang saya katakan benar-benar terjadi yang mulia.” Tanpa merendahkan rasa hormat padanya, pria itu masih mencoba tenang.


“Jika demikian yang engkau katakan, maka kita telah kehilangan satu jendral.” Ucap raja sembari menghela napas.


“Ya, itu artinya kursi kelima jendral iblis saat ini kosong.”


“Huft ... kau boleh pergi sekarang, aku akan memberi komando lebih lanjut nanti.” Perintah sang raja.


“Baik, saya izin pamit yang mulia.” Pria itu keluar dari ruangan singgasana sesaat setelah mengucapkannya.

__ADS_1


Setelah bawahannya pergi, sang raja merenung sambil menatap langit-langit ruangannya. Raja yang dari awal kita sebut tentu bisa kalian tebak siapalah dia. Ia adalah raja iblis saat ini.


“Aku terpaksa melakukan ini, demi tanah kelahiranku, aku harus melakukan ini, bahkan jika pun ada korban yang jatuh.” Dia menggumamkan sesuatu dengan mengepalkan tangannya.


“Ini semua juga karena orang itu, Mes—Uhuk!” Entah mengapa kalimatnya tak bisa terselesaikan, ia secara tiba-tiba batuk ketika mengatakannya.


“Bagaimanapun, aku harus mempercepat invasi ini, dengan begitu apa yang ia janjikan harusnya bisa terjadi.”


***


Ini sungguh pemandangan yang aneh. Lima benda yang terlihat kuno melayang di sebuah tempat persembahan dan sinar yang sangat terang menyinari tempat itu.


“Akhirnya hari ini tiba ...” Suara misterius terdengar entah darimana.


Ketika cahaya itu menyilaukan matanya, Tohrei terbangun dari mimpi dan menyadari dirinya kini sudah terjatuh dari tempat tidurnya.


“Mimpi aneh lagi ya ...? Kupikir itu tak akan terjadi lagi karena sudah jarang ” Tohrei bangun dari posisi tak nyaman itu dan membereskan semua kekacauan di kamarnya.


Tohrei kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual yang biasa ia pakai. Pakaian itu ia simpan di dalam inventory.


Setelah berganti pakaian ia keluar dari kamarnya. Namun apa yang diluar kamarnya tidak nampak seperti sebuah penginapan.


Itu karena Tohrei saat ini berada di asrama akademi dan bukanlah penginapan. Setelah perjalanannya di magic spirit altar selesai, para murid kelas khusus ditawari untuk tinggal di asrama ini, yang berjarak sangat dekat dengan akademi.


Asrama ini berbentuk seperti mansion, lengkap dengan sepuluh kamar untuk ditinggali dan dengan fasilitas lainnya. Seluruh murid kelas khusus pindah kesini.


Itu termasuk dengan Eriana, walau seharusnya akan lebih nyaman jika ia tinggal di istana kekaisaran, dia memilih tinggal disini. Alasannya sederhana sebagai seorang putri, ia ingin merasakan hidup mandiri.


Walau ia seorang putri yang bisa hidup manja, Eriana lebih memilih mandiri. Cukup jarang melihat seorang gadis dengan status tinggi mau melakukan hal seperti itu dalam usia muda.

__ADS_1


Hari ini merupakan hari libur untuk para kelas khusus. Setelah insiden di magic spirit altar, mereka diliburkan selama seminggu.


Tohrei berkeliling ke sekeliling asrama ini. Dia baru satu malam berada disini, tentu dia ingin tahu bagaimana isi tempat ini.


Tohrei bisa saja menggunakan area detection, namun melakukan ini tanpa area detection terasa lebih seru.


Setelah berkeliling di bagian dalam asrama, Tohrei pergi ke luar asrama. Ia berkeliling selama beberapa menit disana dan secara tak sengaja menjumpai Eriana yang sedang berlatih pedang dengan sangat giat.


Melihat itu, niat jahil Tohrei muncul. ‘Kau dulu sering jahil kepadaku, maka aku bisa jahil padamu sekarang kan?’ Batin Tohrei dengan senyum jahil.


Dengan menggunakan invisible Tohrei mendekati Eriana, dia menepuk pundak Eriana dan membatalkan invisiblenya, seketika mengagetkan Eriana. “Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Tohrei sambil mengagetkannya.


“Hyaaa...?!” Eriana berbalik badan dan mundur dengan kaget lalu terjatuh bersama pedangnya.


“Apa kau kaget?” Ucap Tohrei dengan senyum di wajahnya.


“Apa maksudnya tadi itu?”


“Tanya pada dirimu saat kecil mengapa aku melakukan ini.”


“Begitu ya...? Kalau begitu akan kubalas lagi!” Eriana bangkit lalu mencoba menangkap Tohrei. Namun sayangnya Tohrei bisa bergerak dengan sangat cepat.


Lantas setelah kejar-kejaran itu, Eriana merasa kelelahan dan akhirnya mereka berhenti. Yah kejar-kejaran itu memakan waktu selama 30 menit.


“Itu sangat curang ..., kau menggunakan skillmu!”


“Apa yang curang dari menggunakan skillku sendiri?” Tohrei hanya bisa tertawa.


Eriana hanya bisa memberi pukulan kecil bertubi-tubi kepada Tohrei ketika mereka beristirahat.

__ADS_1


“Oh ya, selagi senggang, bagaimana kalau kita latih tanding pedang?” Tohrei berdiri dan menawarkan tangannya pada Eriana.


“Latih tanding apa? Pedang?” Eriaba menerima tawaran tangan Tohrei dan berdiri. Ia sedikit keheranan mengapa Tohrei ingin latih tanding.


__ADS_2