
“Kalian ini..., bisakah kau melepaskannya Urashia?” Tohrei menghela napas, dia mencoba memisahkan Urashia dengan Ikumi.
Urashia tersentak, pikirannya seolah tersadar. “Ah, maaf aku tanpa sadar melakukannya.” Urashia melepaskan pelukkannya setelah tersadar.
Akhirnya Ikumi dapat bernapas lega. Kemudian Urashia juga minta maaf kepada Tohrei karena ia sudah diomeli.
“Oh ya, aku sepertinya harus melakukan itu.” Tohrei teringat sesuatu.
“Para direwolf sekalian, ikuti aku, ada hal yang harus kalian terima.” Mereka semua bingung dengan maksud Tohrei kepada para direwolf.
“Dan kalian, Ifrit, Ikumi, serta Urashia, akrab lah sementara aku berbicara dengan para direwolf. Kurasa ini hanya sebentar.”
“Laksanakan tuanku.”
“Ya Master!”
“Baik honey!”
Setelah itu para direwolf hanya bisa mengikuti Tohrei seperti yang ia perintahkan.
***
“Apa yang anda inginkan hingga membawa kami kesini tuan?” Setelah sampai di tujuan, ia bertanya kepada Tohrei.
“Sebelum itu, kupikir aku belum memperkenalkan diriku sejak tadi. Namaku Tohrei, kalian bisa bebas memanggilku seperti apa.” Tohrei memperkenalkan dirinya kepada para direwolf.
“Jadi apa yang ingin anda sampaikan hingga kesini tuan?”
“Sederhana saja, aku akan membuat kalian berevolusi.” Tohrei menyampaikan niatnya dengan santai.
__ADS_1
“Evolusi?! Anda bisa membuat kami berevolusi?”
“Ya, kalian tahu bagaimana bisa Ikumi berevolusi? Itu karena aku yang melakukannya.”
“Ah benar juga, nona Ikumi bisa berevolusi menjadi fenrir itu pasti karena hal yang tak wajar. Apa yang anda lakukan hingga bisa membuat nona berevolusi?”
“Darahku. Dengan meminumnya kalian akan dapat berevolusi secara instan, tetapi syarat agar kalian dapat menerimanya adalah kalian harus setia kepadaku. Apa kalian dapat menerimanya.”
“Kami akan bersumpah setia padamu tuan! Kami akan gunakan kekuatan yang anda berikan untuk menjaga nona Ikumi dan Anda!” Mereka menyampaikan sumpah setia mereka.
“Apa yang dapat membuatku bisa percaya kepada kalian?”
“Kami dapat bunuh diri jika itu adalah perintah anda tuan.”
“Buktikan itu, kalian minumlah racun itu.” Tohrei menciptakan sebotol racun untuk masing-masing direwolf.
Tanpa ragu, mereka membuka tutupnya dan menenggaknya. Tepat sebelum setetes racun keluar, Tohrei menggunakan time slow lalu menghilangkannya dengan annihilation. Waktu berjalan normal kembali.
Begitu darah Tohrei masuk ke dalam tenggorokkan mereka, tidak terjadi apa-apa. Itu membuat mereka kebingungan, apa tuan membohongi mereka? Itu reaksi yang wajar.
“Efeknya sepertinya baru akan muncul besok, jadi bersabarlah. Setelah ini kalian harus berkumpul di luar kediamanku, aku dan yang lain akan pergi kesana juga. Ada yang ingin aku beritahu disana.” Tohrei kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka.
“Baik!” Para direwolf menjawab serentak. Mereka sudah hafal dengan jalan keluar kediaman ini jadi mereka tidak akan kesulitan menuju ke tempat yang tuan mereka sebutkan.
‘Aku harus melakukan sesuatu pada monster yang kutaklukkan. Bisa saja monster-monster itu tidak setia padaku. Mereka yang tidak setia tidak pantas menjadi bawahanku. Yah, walau dengan darahku itu dapat membuat monster-monster itu tidak dapat menantangku, aku sama sekali tidak ingin menggunakannya.’ Tohrei berjalan menuju tempat sebelumnya, yaitu tempat dimana Ifrit, Ikumi dan Urashia berada.
“Apa kalian akrab?” Tohrei mengucapkannya ketika sampai di tempat ketiganya berada.
Suasana di tempat itu hening. Mereka hanya diam berdampingan di sebuah bangku taman. Mereka terasa canggung.
__ADS_1
‘Nampaknya tidak.’ Tohrei tidak menduga suasana mereka akan canggung. Yah, syukurlah ia datang kesini secepatnya.
Begitu mereka mendengar suara Tohrei, mereka mengalihkan pandangannya ke asal suara.
“Ah Master kembali!” Ikumi segera menghampiri Tohrei diikuti oleh yang lainnya.
“Ifrit, Ikumi dan Urashia, ikuti aku.”
Mereka nampak bingung dan hanya mengikuti. Mereka berempat berjalan keluar dari kediaman lewat jalan lain. Mereka terus berjalan hingga berhenti di sebuah pemukiman yang nampaknya adalah sebuah desa.
“Tempat ini..., desa goblin?” Mereka menyadari penghuni desa itu.
“Ya.” Tohrei menjawab singkat.
“Untuk apa kita kesini tuanku?” Ifrit bertanya.
“Ada yang ingin ku perkenalkan.” Mereka terus berjalan menuju desa hingga bertatapan langsung dengan goblin.
“Tuan Tohrei! Ada apa anda kemari?” Goblin itu menyapa Tohrei dengan gembira. Dia nampak sedang membawa sekeranjang buah.
“Yo! Bisakah kau membawaku kepada kepala desa?”
“Baik! Dengan senang hati tuan!” Dengan begitu dia mengantar Tohrei dan yang lain lalu dia pamit untuk mengumpulkan yang lain. Tohrei juga memintanya untuk memanggil yang lain kesini.
Goblin tadi memiliki wajah yang berbeda dengan goblin pada umumnya. Dibanding berwajah jelek dan mengerikan, goblin itu memiliki wajah yang imut. Itu membuat keinginan terdalam Urashia hampir keluar tetapi dia mampu menahannya karena dia tidak ingin diomeli oleh Tohrei seperti sebelumnya.
“Oh! Tuan Tohrei, ada urusan apa anda disini?” Kepala desa nampak senang dengan kedatangan Tohrei.
“Aku ingin memberitahu bahwa kalian harus berkumpul di dekat kediamanku. Tadi aku sudah memberitahu salah satu goblin untuk mengumpulkan yang lain. Seharusnya sebentar lagi mereka akan berkumpul disini. Oh ya, ku lihat sebelumnya ada goblin yang membawa sekeranjang buah. Darimana dia mendapatkannya?”
__ADS_1
“Kami menemukan beberapa pohon buah disekitar sini, kami menyuruh beberapa orang untuk memetiknya. Kami sangat berterima kasih karena sudah diselamatkan lalu kami diberi tempat untuk hidup yang layak. Kami sangat bersyukur menjadi pengikut anda.” Kepala desa menyampaikan betapa bersyukurnya dia dan goblin lain.
“Sudah-sudah kau tidak perlu seperti itu.” Tohrei sebelumnya sama sekali tidak menyadari bahwa ada pohon buah disekitaran kediamannya. Saat menggunakan area detection dia hanya fokus pada monster-monster saja.