
Tohrei mengikuti Edward yang bersama wanita-wanitanya pergi ke kamar. Tohrei sudah mengira apa yang akan mereka lakukan. Bahkan, sebelum sampai ke kamar, mereka sudah melakukan sentuh-sentuhan.
Tohrei agak kesal melihat ini, oleh karenanya dia berniat untuk melakukan pembunuhan sebelum mereka bisa bersenang-senang lebih jauh.
“Aku penasaran akan seperti apa ekspresi mereka.” Tohrei tersenyum tipis, mengawasi mereka sembari masih dalam pengaruh skill invisible.
Setibanya di kamar, Edward langsung menutup pintu. Akan tetapi Tohrei dengan sigap masuk ke sana sebelum Edward akan menutup pintunya.
Edward mengusir penjaganya dari depan pintu sehingga itu menjadi keuntungan bagi Tohrei.
Tanpa basa-basi Edward mendorong istri-istrinya ke atas ranjang. Dirinya melepaskan pakaiannya. Dengan wajah yang penuh nafsu dia ikut ke atas ranjang.
Namun, tepat sebelum Edward menyentuh wanitanya, sebuah tebasan memisahkan kepala pria gendut itu dari badannya. Seketika, muncratan darah keluar dari tubuh berlemaknya yang sudah tidak bernyawa.
“Kyaaaaaakkk?!” Jeritan yang diiringi oleh wajah pucat terbentuk di setiap wanita itu.
Darah dari Edward mengotori seluruh tubuh wanita itu serta ranjang putih yang awalnya tidak bernoda. Keringat dingin mengucur deras, menandakan ketakutan mereka ketika melihat suami mereka terbunuh sadis secara misterius.
Tidak lama kemudian, tubuh Edward terbaring di ranjang. Mayat Edward menjadi pemandangan yang mengerikan bagi mereka.
“Alisa bilang untuk sekedar melumpuhkan ketiga wanita ini, tetapi daripada itu, kurasa merusak wajahnya juga adalah ide yang bagus,” gumam Tohrei yang menyaksikan kejadian itu.
Usai menebas raja gendut itu, Edward, Tohrei hanya menyaksikan wajah ketakutan ketiga wanita di hadapannya. Dia baru bertindak kembali setelah beberapa saat.
“A-apa yang terjadi?! Ada seorang pembunuh di sini!” Ratu yang masih dalam ketakutan segera turun dari ranjang dengan tubuh yang masih gemetaran.
Tindakan yang diambil sang ratu diikuti oleh kedua selir yang juga mengalami kondisi mental yang sama, yaitu ketakutan dan kengerian.
Mereka ingin segera kabur namun karena tubuh mereka yang bergetar membuat mereka hanya mampu untuk berjalan dengan merangkak.
“Sayang sekali, tetapi kalian tidak bisa kabur.” Tohrei mengambil pedangnya, segera menebas pergelangan kaki kedua selir secara bersamaan, membuat keduanya semakin sulit untuk kabur.
“Hii?!” Ratu semakin bergegas untuk kabur, bangun dari posisi merangkak.
__ADS_1
“Oh, tidak secepat itu!” Tohrei menebas pergelangan kaki ratu, membuatnya terjatuh.
Kini mereka bertiga hanya bisa berjalan dengan menyeret tubuhnya menggunakan tangan. Mereka sudah semenderita itu, tetapi penderitaan mereka belum berakhir.
Suatu tebasan menggores wajah mereka berkali-kali hingga wajah mereka yang awalnya hanya bermandikan darah Edward kini juga berlumuran darah mereka sendiri.
“Aghh?!” Teriakan terus keluar dari mulut ketiganya, membuat Tohrei sedikit terganggu.
“Huft ... mereka sangat berisik, kurasa aku harus membuat mereka tidak sadarkan diri.” Tohrei yang terganggu segera membuat mereka bertiga pingsan.
Jika dibiarkan, mereka bertiga pun akan ikut mati karena kehilangan darah. Oleh karena itu Tohrei menggunakan heal usai mereka tak sadarkan diri untuk menutup darah yang mengucur.
Walau dia menggunakan heal, bukan berarti dia memulihkan tangan dan kaki mereka, itu hanya sekedar menutup luka mereka.
“Pekerjaanku sudah selesai, saatnya aku pulang.” Tohrei membuka pintu dengan kondisi yang masih tidak terlihat.
Tohrei berjalan santai untuk keluar, namun sebelum itu dia berpikir untuk sedikit melihat-lihat istana.
“Aku menemukan sesuatu yang menarik sepertinya!” Tohrei menyadari ada sebuah jalan kabur tanpa jalur masuk di bagian bawah sekali istana.
Tohrei segera menuju ke sana dengan cara menghancurkan lantai dan tanah yang menghalangi. Tohrei mengira-ngira bahwa jalan kabur itu sudah ada sebelum istana ini dibuat.
Mungkin saja jalan kabur itu bisa mengarahkannya ke suatu tempat.
***
Setelah menteleportasikannya, Relon segera melapor ke Alisa perihal tujuannya yang sudah terlaksana. Relon mengatakan bahwa Tohrei sudah membunuh raja walau dia sendiri tidak tahu apakah itu memang telah dilakukan atau tidak. Relon juga mengatakan tentang pemberontakan dari warga ibukota.
“Kau bisa pergi, Relon,” ujar Alisa setelah Relon memberikan laporannya.
“Baik.” Relon pamit lalu pergi dari ruangan Alisa.
Setelah Relon pergi, Alisa menghela napasnya, masih agak menyayangkan bahwa Tohrei tidak mau menjadi orang yang mengambil alih kerajaan ini.
__ADS_1
“Aku akan lebih sibuk kali ini.” Alisa termenung, memikirkan rencana selanjutnya dari hal ini.
Rencana awalnya adalah menjadikan Tohrei sebagai raja baru. Namun, karena Tohrei menolak, maka dia harus menjadi ratu usai pemberontakan ini selesai.
Tidak ada kandidat yang lebih baik di Heistihart selain Alisa karena opini publik tentang kebaikan dan kebijaksanaannya sudah menetap di masyarakat. Walikota lain pun tidak akan bisa melawannya karena dari sisi politik Alisa menang.
“Aku harus menyiapkan rencana berikutnya.” Alisa bangun dari posisi duduknya, berencana untuk memanggil bawahannya yang akan berperan dalam rencana ini.
***
“Mari kita lihat apa yang ada di lorong panjang ini.”
Tohrei saat ini sedang ada di jalan bawah tanah yang berada tepat di bawah istana. Yang dia lihat saat ini hanyalah sebuah lorong satu arah yang hanya mengarah ke suatu tempat.
Ketika Tohrei sedang mencari-cari sesuatu di sini, dia melihat secarik kertas kertas yang sudah menguning di lantai.
“Kertas apa ini?” gumam Tohrei yang secara penasaran mengambil kertas tersebut lalu mengecek isinya.
“Hari ini adalah hari yang mengerikan. Mengapa hari ini harus terjadi? Makhluk itu merusak segalanya, ku harap usai menulis catatan harian ini kami berhasil kabur dari makhluk mengerikan itu. Bersama Ersila dan anak di dalam kandunganku ini ...
Aku harus menahan tangis ketika aku terpaksa meninggalkan suamiku ... sekaligus kerajaan ini. Bagaimanapun anak di dalam kandungan ini harus hidup ...”
Surat berakhir.
Tohrei membalikkan kertas, namun yang dia temukan hanyalah noda-noda, tidak ada tulisan lagi di balik kertas itu.
“Surat ini ... Ersila disebutkan di sini. Anak di kandungan itu ... bukankah itu aku?” Tohrei memegang dagunya, berpikir beberapa saat ketika membaca surat itu.
Tohrei menghela napas, dia berpikir bahwa ini merupakan surat yang ditulis oleh ibunya. Tetapi mengapa dia menulis ini dalam keadaan genting seperti itu?
Apakah dia menulisnya untuk diberitahu kepada seseorang yang menemukan jalan ini? Tohrei tidak tahu, itu hanya sedikit perkiraan darinya.
“Hm ... kurasa ini jalan menuju ... hutan itu.” Usai berpikir sesaat, Tohrei menoleh ke arah jalan dari lorong ini.
__ADS_1