
Seluruh murid kelas khusus ikut dalam kegiatan ke magic spirit altar. Tohrei hanya membawa sedikit persediaan karena sebagian besar kebutuhannya disimpan dalam penyimpanan sistem.
Mereka berangkat menggunakan kereta kuda dengan tiga kereta. Kereta untuk perempuan dan laki-laki terpisah.
Kereta pertama untuk Venoire, Sei, dan Magreis. Kereta kedua untuk Eriana dan Isabella, lalu kereta ketiga berisi Harciest, Zen, dan Tohrei.
Kuda yang akan menarik kereta mereka bukanlah kuda biasa, kuda-kuda itu merupakan hewan jenis monster rank C yang kecepatannya setara cheetah namun stamina mereka juga tak main-main. Mereka sangat jinak pada orang yang memelihara mereka.
Kuda-kuda tersebut dipacu oleh kusir yang sudah tentu sangat akrab dengan jenis kuda itu. Mereka sangat berpengalaman mengendalikan kuda jenis ini.
Magic spirit altar yang mereka tuju ada di pesisir pantai Aelion. Itu terdapat di kota Aelion Empire yang terkenal dengan pasokan ikannya, Sarelion City. Perjalanan itu memakan waktu selama 3 minggu karena jarak mereka sangatlah jauh.
Perjalanan yang memakan waktu 3 minggu tentu akan membuat mereka bosan. Maka dari itu, dalam perjalanan mereka, sembari menunggu mereka melatih sihir mereka.
Suatu ketika, di minggu kedua perjalanan, Tohrei mendeteksi suatu hal yang tak menyenangkan. Saat itu hari sudah mulai gelap dan Zen serta Harciest sudah tidur.
‘Perasaan ini, kurasa ada beberapa monster yang mendekat.’ Untuk mencegah perjalanan yang tak menyenangkan, Tohrei berniat untuk mengatasi para monster itu seorang diri.
Tohrei melirik ke arah Zen dan Harciest yang sudah tertidur. ‘Untuk memastikan agar mereka tidak tahu, kurasa lebih baik memerintah mereka.’
“ Terus tidurlah sebelum aku kembali.” Ucap Tohrei dengan pelan. Skill regnare bisa mengendalikan target sekalipun targetnya tak mendengarnya, sehingga ini berhasil.
Usai melakukan itu, Tohrei berteleportasi langsung ke tempat dimana monster-monster itu berada.
Sementara itu, dari kejauhan, sekelompok troll secara tak sengaja melihat rombongan kereta kelas khusus.
Troll adalah monster yang memiliki ukuran dua kali lebih besar dari manusia. Mereka memiliki hidung panjang dan perut besar serta kepala yang botak. Selain itu, mereka memiliki kulit yang berwarna abu-abu.
Mereka adalah monster yang memiliki kemampuan regenerasi alami yang sangat cepat.
“Boss, lihat! Ada kuda yang mengayun benda beroda! Kurasa disana ada manusia!” Seorang Troll menunjuk dengan jarinya.
“Hmm? Bagus Trollet! Kita bisa makan malam hari ini!” Troll yang nampak adalah pemimpin kelompok itu nampak tersenyum lebar.
__ADS_1
Troll lain juga menunjukkan ekspresi yang sama. Mereka mencengkram kuat senjata mereka, sudah tak sabar memakan makhluk yang ada disana.
“Bagaimana bisa monster seperti kalian berkeliaran disini?” Tohrei muncul di depan seluruh troll menggunakan teleportasi.
“Ka-kau?! Bagaimana bisa kau disini?!” Pemimpin troll serta troll lainnua nampak bergetar, dia seolah mengenali Tohrei.
“Oh? Bukankah kalian troll yang kuusir karena tak patuh? Bagaimana bisa kalian ada disini?” Para troll ini awalnya tinggal di hutan Ashfriet namun karena tak patuh mereka kabur.
Alasan para troll bisa sampai kesini karena mereka menemukan sebuah gua yang terhubung ke Aelion Empire. Mereka belum lama berada disini.
“Kkih! La-lari!” Para troll yang ketakutan lari terbirit-birit.
“Hah ... Jika aku biarkan kalian disini, yang ada kalian hanya mengacau. Ini akibatnya kalian tak patuh ” Tohrei menghela napas, lalu ia mengarahkan tangannya ke seluruh troll yang lari.
“” Sebuah lingkaran sihir gelap tercipta.
Dari lingkaran sihir itu keluar ratusan ular yang menggigit seluruh troll. Para troll tak memiliki kesempatan beregenerasi karena terkena racun dan karena dilahap oleh para ular hitam.
Setelah memastikan seluruh troll telah mati, Tohrei berteleportasi kembali ke keretanya. Kemudian perjalanan kembali lancar hingga akhirnya mereka sampai ke Sarelion City.
Kota Sarelion sedikitnya mirip dengan Ibukota Aelion Empire. Bangunan yang mereka miliki cukup kokoh hingga bisa menahan tsunami kecil.
“Kita akan istirahat disini untuk sementara, kalian cukup jenuh bukan terus-menerus duduk di kereta?” Venoire memesan beberapa kamar di penginapan untuk mereka tinggal.
“Pak apa kami boleh berkeliling kota?” Tanya Magreis dengan mengangkat tangan.
“Hmm ... itu tak apa, tetapi kuharap tidak ada yang tersesat dan kembali sebelum malam tiba.” Venoire membolehkan itu.
“Bagus! Aku akan melihat apa ada yang bisa ku tantang di kota ini!” Magreis langsung saja bergegas keluar dari penginapan.
Selain Magries, ada beberapa yang ikut keluar, itu adalah Eriana.
“Kau mau Kemana?” Tanya Tohrei.
__ADS_1
“Aku ingin melihat ke pesisir pantai, aku ingin mengecek bagian luar dari magic spirit altar.” Jawab Eriana.
“Kalau begitu apa aku boleh ikut?” Tohrei mengikuti dari belakang.
“Tidak masalah, mengapa kau perlu minta izin?” Eriana terus berjalan menuju pesisir pantai.
“Cuman asal bicara, jika pun kau tak izinkan, aku tetap akan mengikutimu hehe.”
Tohrei melihat ke bangunan-bangunan yang berdiri di kota ini. Dikarenakan kota Sarelion tertelak di dekat laut, kota itu dibuat lebih kokoh untuk mencegah bencana alam yang biasa terjadi di pesisir pantai seperti gempa dan tsunami.
Menyampingkan itu, di bagian pantai kota ini terdapat banyak pedagang makanan yang membuka kios. Mereka menjual berbagai olahan sea food.
Tohrei dan Eriana sampai ke jejeran kios itu. Terdapat banyak orang yang nampaknya sedang berwisata ke pantai ini. Tohrei memang mengakui bahwa pemandangan pantai ini cukup indah. Namun yang menjadi fokus mereka saat ini adalah melihat tempat magic spirit altar berada.
“Hei, bagaimana jika kita mampir sebentar membeli jajanan?” Eriana tiba-tiba berhenti dan berbalik badan.
“Yah terserahlah.” Tohrei tak mempermasalahkan itu.
Mereka pun pergi menjajal semua kios yang mereka inginkan. Mereka menghabiskan setengah jam untuk melakukan semua itu.
“Ayo bertarung badan besar!” Suara yang tak asing terdengar. Tohrei melirik ke arah sana.
“Kenapa juga aku harus bertarung?” Pria berbadan besar yang dipanggil menoleh.
“Karena itu seru!” Jawabnya dengan lantang.
“Heh, baiklah! Aku akan meladenimu!” Mereka pun bertarung dan disaksikan oleh banyak orang. Itu terjadi di salah satu tempat di pantai.
Akan tetapi, tanpa diduga pria berbadan besar itu kalah. Ia dikalahkan oleh seorang bocah bernama Magreis.
“Sudah kuduga, ternyata itu Magreis ...” Tohrei hanya bisa keheranan dengan tingkah Magreis.
“Apa yang kau lihat Rei? Ayo kita ke magic spirit altar.” Eriana menoleh ke arah Tohrei yang diam saja.
__ADS_1
“Iya iya.” Tohrei lanjut berjalan ke tujuan mereka.