The Endless System

The Endless System
Ch 70 — Mengambil Alih


__ADS_3

Viriet segera berteleportasi ke kota yang Tohrei maksud. Kalau tidak salah, kota itu bernama Ferinsia. Kota itu cukup kecil hingga bisa disebut sebagai desa yang memiliki ukuran yang besar.


Viriet sampai di gerbang masuk ke dalam kota. Dia mengenakan jubah untuk menutupi wajahnya. Yang mengherankan ialah, tidak ada seorang pun yang menjaga gerbang masuk.


“Dimana penjaganya?” Karena tidak ada yang menjaga, maka Viriet masuk begitu saja.


Ketika masuk seperti yang dijelaskan Tohrei, tempat ini begitu suram. “Sepertinya yang mengurus kota ini sebelumnya memang tidak beres.”


Ketika Viriet masih fokus menilai sekitarnya, tiba-tiba terdengar ledakan yang cukup besar dari kejauhan. Ledakan itu menyebabkan kebakaran dan menimbulkan asap hitam yang mengepul.


“Dari mana ledakan itu?” Viriet segera mencari lokasi ledakan itu.


“Haha! Hancurlah! Inilah akibatnya jika tidak menurut!” Seorang pemuda dengan luka bakar di wajahnya tertawa jahat melihat ledakan di depannya. Dia mengenggang sebuah tongkat sihir di tangan kanannya.


Di hadapannya terlihat ada seorang pria berzirah menghunuskan pedang dan seorang pria tua yang terkejut karena ledakan tadi.


“Hentikan ini segera!”


“Memangnya kau punya kemampuan untuk menghentikanku?”


“Kalau sudah begini, maka!” Pria berzirah itu maju dan mengayunkan pedangnya. Dia berniat menyerang pemuda itu, namun upayanya gagal.


Pemuda itu menghentakkan tongkatnya ke tanah dan seketika tubuh sang pria berzirah terperangkap oleh sihir tanah miliknya.


“Tamatlah riwayatmu!” Pemuda itu melesatkan bola api ke arahnya.


Akan tetapi, sihir misterius menghentikannya.


“” Tangan misterius yang berwarna hitam muncul dan menangkap bola apinya. Lalu, tangan itu menghancurkan bola api itu dengan cara mengepal. Setelahnya, tanngan itu kembali ke tanah dan menghilang.

__ADS_1


‘Sihir apa itu tadi? Siapa yang merapalkannya?!’ Pemuda dengan luka bakar itu mencari-cari dalang dari sihir itu namun dia tidak menemukannya.


“” Suara terdengar dari belakangnya. Akan tetapi belum sempat menoleh, puluhan tangan hitam muncul dan mengekangnya membuatnya tidak dapat bergerak.


‘A..aku tidak bisa bergerak! Tangan-tangan apa ini?! Mereka bahkan bisa melenyapkan sihirmu.’


“Apa yang terjadi disini? Nampaknya terjadi keributan.” Seorang bersuara wanita secara tiba-tiba muncul dibelakang pemuda itu. Wanita itu memakai jubah yang menutupi wajahnya, ia adalah Viriet.


“Namun sepertinya api itu lebih baik dihentikan terlebih dahulu.” Viriet dengan sihir misterius memadamkan api yang meledakkan bangunan itu.


Semua orang terkejut atas kemunculannya yang tiba-tiba. Pria berzirah itu mengungkapkan apa yang terjadi.


“Biar aku yang bicara, satu jam yang lalu...”


Ia menjelaskannya tanpa kebohongan. Pemuda dengan wajah terbakar itu memasuki kota dengan sembarang dan meneror di kota ini dan merampok. Dia yang mendengar kekacauan itu segera menghentikannya namun tak berhasil karena perbedaan kekuatan yang besar. Pemuda itu berkata bahwa kekacauan yang dia buat hanyalah untuk kesenangan ketika ditanya oleh pria itu.


“Jadi dengan begini sudah bisa disimpulkan siapa yang salah.” Viriet membuat hawa membunuh yang menusuk kepada pemuda itu. Dia tak perlu memastikan kebenarannya karena dia sendiri sudah melihat betapa kejinya pemuda ini karena melihat dari orang-orang yang dibunuhnya.


“Maka kurasa ini adalah hukuman yang pantas. ”


Tak lama setelah ia merapalkan mantra itu, energi kehidupan pemuda itu terserap. Perlahan tubuhnya menjadi tua dan semakin tua hingga dia menjadi kurus kering dan tak bernyawa.


Sejak Viriet menjadi bawahan Tohrei, dia memutuskan untuk hanya membunuh orang yang bersalah.


Kedua orang yang melihat itu bergidik ketakutan. Mereka tidak pernah melihat proses kematian semengerikan itu.


“Um..., terima kasih atas bantuannya uh, nona. Boleh aku tahu siapa anda?” Pria berzirah itu tetap berusaha tenang walau telah melihat itu.


“I..iya, aku berterima kasih juga karena memadamkan api itu.” Pria tua yang menjadi pemilik bangunan itu merasa berterima kasih walau sama-sama ketakukan.

__ADS_1


“Sebelum itu, apa kalian tahu kabar walikota kalian?”


“Kudengar terjadi kekacuan di mansion, kesatria di tempat kejadian berkata kalau walikota telah hilang.” Jawab pria berzirah itu.


“Ternyata begitu, dia bukan hilang, melainkan mati.”


“Mati? Walikota telah mati?!”


“Ya, aku sudah memastikan itu dan akulah yang akan menggantikannya.”


Mereka tidak mengerti maksud Viriet, mereka melihat Viriet dengan tatapan bertanya-tanya.


“Tidak perlu dipikirkan, kalian cukup diam dan menunggu. Lagipula bukankah kalian merasa menderita hidup di kota dengan walikota sepertinya?”


Mereka berdua saling menatap, yang dikatakan Viriet benar, mereka menderita selama ini dengan dipimpin oleh walikota itu. Pria berzirah itu adalah salah satu kesatria di kota ini yang bekerja dibawah walikota. Dia tahu betapa tidak becusnya walikota itu mengurus kota.


“Akan kuumumkan tentang hal itu.” Viriet terbang dan mengumumkan sesuatu ke seluruh kota dengan skillnya.


“Perhatian seluruh warga kota, aku akan mengumumkan apa yang terjadi di kota ini. Harap dengarkan dengan baik.”


Seluruh warga kota terkejut dengan suara yang terdengar ke seluruh kota itu.


“Walikota yang sebelumnya, sudah mati. Dia dihukum atas kelalaiannya dalam mengurus kota ini. Maka dari itu, aku yang akan menggantikannya, Viriet.” Viriet berkata dengan aura kehidupan yang terang sehingga membuat ketenangan diantara penduduk.


“A..apa? Walikota sudah mati?”


“Siapa yang menggantikannya?”


“Siapa yang asal bicara itu?”

__ADS_1


“Mulai hari ini, kota ini ada dibawah tanggungjawabku!” Ucap Viriet dengan lantang.


__ADS_2